Perihal menjadi Ketum AkSES Lipia dan Koreg FoSSEI Jabodetabek di waktu bersamaan, yang terberat adalah ketika ada kepentingan yang saling bersinggungan. Misalnya Oprec Bapereg FJ baru-baru ini.
Dari AkSES Lipia, ada 10 orang yang mendaftar. Semuanya kader-kader terbaik yang saya miliki. Saya izinkan, ya karena saya ingin mereka bebas melanglang kemana pun. Saya ingin mereka berkembang dan berpijar terang benderang di masa mendatang.
Itu prinsip saya.
Saya tak akan melarang sesiapapun yang mau belajar serta bertumbuh lebih baik. Meski juga saya tetap turut mewanti-wanti agar mereka tidak serta merta meninggalkan AkSES Lipia begitu saja. Karena bagaimanapun, ya itu adalah rumah tempat mereka memulai langkah pertama mereka. Hehe..
Namun sebagai Koreg FoSSEI Jabodetabek, tentu tidak semua dari mereka dapat saya luluskan. Sehebat dan sebaik apapun mereka, tetap akan ada batasan jumlah tertentu yang dapat kami terima.
Ini tentang keadilan.
Ini tentang persebaran peta kekuatan.
Ini tentang mencegah kecemburuan.
Sebagai pemimpin, kita akan belajar bagaimana membangun keseimbangan dalam tim yang kita susun. Kompetensi personal masih menjadi pertimbangan utama, namun tidak dapat dipungkiri bahwa tetap akan ada faktor non-teknis di balik seluruh pertimbangan tersebut. Itu lumrah. Mencegah keburukan secara jangka panjang jauh lebih diutamakan daripada mengambil manfaat untuk jangka pendek.
Maka bersama dengan tulisan ini, turut tertitip pula permohonan maaf dari saya kepada seluruh sahabat AkSES Lipia yang belum dapat bergabung dalam kepengurusan FJ tahun ini.
Bukan karena saya benci atau tidak ingin Antum/Antunna maju lebih jauh, namun memang karena ada orang-orang yang lebih berbakat (spesialis) dari kampus lain, ditambah dengan adanya batas maksimal delegasi per KSEI yang dapat kami terima.
Semoga mafhum.
Semoga tetap berukhuwah.
Semoga Antum/Antunna dapat terus melangkah lebih jauh.
Pun bersama tulisan ini, saya mohon maklum dari seluruh sahabat-sahabat KSEI lainnya, bilamana sekiranya melihat kader AkSES Lipia lebih banyak kami terima dibanding dengan yang lainnya. Ini murni tentang kompetensi. Ini murni demi kebutuhan tim selama satu tahun ke depan. Bukan karena latar belakang saya yang berasal dari kampus yang sama.
9,5 jam kami berdiskusi bersama para BPH. Ada banyak adu argumen yang saling silang sengkarut selama prosesi tersebut. Namun di penghujung, kami tetap bersepakat dengan mufakat hasil musyawarah tersebut. Karena ya, bagaimanapun jua, ini semata tentang maslahat kita bersama di FoSSEI Jabodetabek.
Maka, teruntuk seluruh kader FoSSEI Jabodetabek dimanapun berada, semoga ini dapat mafhum, semoga ini dapat dimaklumi. Dan di penghujung, semoga kita tetap kompak berukhuwah bersama.
Saya, -dan kami di BPH tentunya-, hanya sedang berusaha untuk menjadi adil seadilnya. Meski itu berat. Meski itu bahkan membuat kami berdebat satu sama lain di meja forum. Meski tak semua orang akan sedia menyetujuinya begitu saja.
Jalan kepemimpinan adalah jalan yang penuh terjal. Itu resiko yang telah saya mafhumi semenjak jauh-jauh hari. Namun izinkan saya menyampaikan satu hal : tujuan kami, -percayalah- hanya semata untuk memberikan yang terbaik bagi kepengurusan satu tahun ke depan. Dan demi itu semua, integritas merupakan hal pertama yang harus kita junjung bersama.
Tentang menjadi adil, semua pemimpin memang harus bisa bersikap adil. Adil yang bahkan semenjak dari pikiran. Adil yang bahkan terhadap musuh-musuh kita sekalipun. Karena tanpa menjadi adil, bagaimana kita akan, eh, berani mempertanggungjawabkan amanah ini di hadapan-Nya kelak, ya kan?
—————-
Tanjung Barat,
24 Rabi’ul Akhir – 1.50
Menjadi Adil Adalah Keharusan.