Oktober tahun lalu, dalam sebuah wawancara pendaftaran anggota FoSSEI Jabodetabek, saya mendapat pertanyaan yang unik namun begitu berkelas.
Bunyinya kurang lebih seperti ini, “Apa yang sudah kamu lakukan untuk membantu mengembangkan Ekonomi Syariah sampai saat ini?“
Pertanyaan tersebut sangat wajar. Mengingat FoSSEI merupakan komunitas khusus yang bergerak di bidang Ekonomi Syariah, dan menanyakan kontribusi-kontribusi semisal itu, sudah barang tentu merupakan suatu keharusan, terlebih bila kita sedang menyeleksi calon-calon kepengurusan di tingkat regional itu sendiri.
Lalu bagaimana jawaban saya ketika itu?
Aha. Awalnya saya bingung. Sebagai orang awam di dunia Ekonomi Syariah, saya baru 1 tahun berkecimpung dalam komunitas khusus secamam FoSSEI maupun KSEI. Tapi saya ingat, 1 tahun tersebut adalah 1 tahun yang dipadatkan dalam sebentuk pengalaman sebagai seorang Kepala Divisi KSEI AkSES LIPIA. Itu artinya, saya tentu punya basis cukup solid untuk memberi jawaban yang diminta.
Maka, setelah sejenak mengerutkan dahi pertanda berpikir, saya pun berkata, “Ah, saya melarang anggota-anggota divisi saya untuk mengadakan rapat di restoran cepat saji yang jelas-jelas bermodalkan kapitalis asing, dan tidak memberikan keuntungan apapun bagi umat Islam itu sendiri. Memang belum terkesan hebat. Tapi sekurangnya, kami tidak sedang menjadi orang-orang yang menyerukan ekonomi syariah, namun untuk sekedar rapat membahas program-program tersebut, malah justru melakukannya di tempat berekonomi kapitalis. Itu, -visi-misi ekonomi syariah-, ya seharusnya kita mulai dari diri kita sendiri, ya kan? Ehe.“
Saudara Pembaca,
Saya tidak tahu apakah itu merupakan jawaban yang tepat atau bukan. Tapi sekurangnya, itu mewakili keresahan saya terhadap kondisi FoSSEI dan KSEI tatkala itu. Ketika kita begitu gencar berkoar menyerukan masyarakat untuk kembali ke ekonomi syariah, namun duh, di satu sisi gaya hidup dan tongkrongan kita ternyata masih sering berkiblat ke tempat-tempat yang notabene bercorak kapitalis dan bermodal asing.
Saya tidak melarang. Sesekali bolehlah. Tapi akan lucu jadinya ketika rapat dan diskusi yang kita lakukan dalam rangka menyusun program-program ekonomi syariah, justru kita lakukan di tempat-tempat semisal itu.
“Lalu dimana kalian rapat?” tanya tim yang mewawancarai saya ketika itu.
“Ada banyak pilihan, bang. Selama ini kami sering memakai Perpusnas sebagai tempat berkumpul. Atau masjid. Atau terkadang saya juga mengusulkan di UMKM sekitar kampus, atau kafe-kafe yang sedang dirintis teman kuliah kami sendiri. Hehe…” jawab saya mantap.
Saudara Pembaca,
Satu bulan berikutnya, November 2019, ketika tetiba dicalonkan sebagai Ketua Umum KSEI AkSES LIPIA periode berikutnya, saya diminta untuk menyampaikan visi-misi yang akan diusung.
Karena saya tak pernah mengira akan maju sejauh itu, maka tentu saya belum sempat mempersiapkan apapun. Alih-alih presentasi power point, yang ada justru hanya saya yang berdiri di depan hadirin dengan bermodalkan contekan di secarik sobekan bekas kardus.
Tapi meski begitu, saya sungguh-sungguh ketika dengan lantang mengucapkan, “Saya tidak akan menjanjikan apapun kepada kalian. Tapi hal pertama yang akan saya lakukan begitu terpilih nanti adalah melarang rapat-rapat KSEI di mall atau di restoran cepat saji yang bermodalkan kapitalis. Insya Allah. Mari kita memulai gerakan ekonomi syariah ini dari diri kita sendiri terlebih dahulu.“
Itu momentum yang selamanya bakal terus terngiang di benak saya. Dan ketika ternyata betulan terpilih berdasar suara forum, dekrit pertama yang saya sampaikan adalah ya itu tadi: silahkan rapat dan berdiskusi di mana saja, selain di mall dan di restoran cepat saji yang berbau kapitalis.
Saudara Pembaca,
Jika ditanya, “dengan memimpin, apa yang bisa kita lakukan?”, saya tentu akan menanggapi dengan cerita di atas. Hanya perlu satu maklumat, dan kita pun dapat melakukan perubahan nyata untuk menjawab segenap keresahan yang kita rasakan.
Dengan menjadi pemimpin, ada banyak kebermanfaatan yang dapat kita upayakan. Ada banyak kekurangan yang dapat kita benahi dan perbaiki bersama. Dalam rangka memberdayakan umat, memajukan bangsa serta negara, dengan visi-misi yang mencakup skala lebih besar.
Jadilah pemimpin! Untuk menjawab segenap keresahan diri kita sendiri, dan untuk melakukan perubahan terhadap seluruh permasalahan yang kita rasakan.
Namun ketika Saudara Pembaca menjadi pemimpin, maka jadilah pemimpin yang sedia untuk peduli. Tidak hanya baik dan berkompeten. Tidak hanya jujur dan amanah. Karena pemimpin yang peduli, niscaya dia akan sedia untuk mendengarkan keluh kesah orang-orang yang dipimpinnya. Sedia untuk dikritisi dan diberi masukan. Sedia membersamai dan membarengi segenap tim dalam setiap kondisi apapun.
Dan jadilah pemimpin yang peduli, agar dengan itu, kita dapat mendengar lebih jernih suara jerit rintihan orang-orang yang berada di sekitar kita. Agar fokus perubahan kita bukan sekedar rangkaian program kerja berbujet ratusan juta yang tak sedikitpun memberi jawaban untuk permasalahan-permasalahan masyarakat sekitar, namun lebih konkret, lebih mendasar dengan dimulai dari hal-hal yang paling sederhana. Karena perubahan, bagaimanapun jua, selalu dimulai dari tindakan terkecil dari kita sebagai manusia.
Saudara Pembaca,
Bersama setangkup tulisan hangat ini, saya wariskan kepada Anda sekalian, suar api semangat agar semoga Anda menjadi pemimpin-pemimpin terbaik negeri ini. Hingga turut memafhumi, bahwa memimpin bukan sekedar mengambil alih tampuk kursi jabatan yang dipergilirkan satu sama lain, namun juga turut mengambil beban kepercayaan dari orang-orang yang berada di bawah kita, untuk lebih bermanfaat, untuk terus berkontribusi hingga akhir masa amanah.
Memimpin adalah tentang Merubah Keadaan.
Selamat Jalan, Generasi Muda.
—————
Ibukota,
17 Safar 1442 H – 21.47
Jawaban Saya.