Waktu menunjukkan pukul 06.20 WITA ketika pesawat yang saya tumpangi mendarat dengan selamat di Bandara Internasional El Tari, Kupang, Nusa Tenggara Timur.
Saya sekilas mengaktifkan kembali paket data, guna memberi kabar kepada keluarga terdekat yang menanti di rumah. Namun, setelah beberapa saat, baru saya sadari bila ternyata provider yang saya gunakan sebelumnya di Ibukota benar-benar nir-sinyal di bandara ini.
Untungnya, saya sudah menyiapkan backup nomer kartu baru dari Telkomsel. Berbekal wi-fi bandara, setidaknya saya bisa lekas membeli paket internet ala kadarnya untuk kegiatan komunikasi di hari pertama di Kupang.
Sekitar pukul 08.00 WITA, saya akhirnya dijemput dari bandara. Adalah Kak Ichi, salah seorang relawan lokal yang berbaik hati menyambut saya dengan mobil bak terbuka sewaan dari salah satu kenalannya.
Itu pengalaman yang spesial. Sungguh. Duduk di belakang bak, membuat kita lebih bebas mengamati dan menikmati keindahan kota Kupang. Rutinitas orang-orangnya. Hiruk pikuk jalanannya. Dan yang paling spesial, sepoi sejuk angin semilir yang terus memanjakan kita dalam buaian alami.
Ah, rasanya kita lupa sejenak tentang tujuan mengapa kita ada disini. Aroma petualangan. Aroma kebebasan. Aroma lautan. Semua menyatu bersama hembus udara yang bertiup begitu damai dari belakang mobil bak terbuka.
![]()
Kak Ida, rekan sesama relawan lokal yang bergabung dengan kami di tengah perjalanan, hanya tersenyum ketika melihat semua itu, dan dengan tulus dia mengatakan kepada saya : “Selamat Datang di Kota Kupang! 2 kata kunci untuk kamu tentang kota ini : Panas dan hanya Telkomsel yang berjaya! Hahahaha…”
Mendengar itu, saya hanya bisa tertawa terbahak-bahak. Karena memang ya, itu semua benar adanya. Hahaha.
Tentang cuaca yang panas, saya sendiri juga sudah turut merasakannya.
Di Desa Oesao, tempat kami bermukim menjalankan program selama beberapa waktu ke depan, terik mentari siang rasa-rasanya begitu dekat di kepala. Apalagi dengan kondisi yang sedang berpuasa Ramadhan, saya bahkan mengalami dehidrasi jelang penghujung petang. Dan ketika azan maghrib berkumandang, duh, berbuka dengan sekedar air putih saja rasa-rasanya tidak pernah senikmat yang saya rasakan tempo hari kemarin. Begitu segar, begitu menggelegak, begitu penuh syukur.
Juga di Desa Oesao, saya berjumpa pertama kali dengan anak-anak masyarakat yang akan menjadi target program kita di Nusa Tenggara Timur ini. Selama 6 pekan ke depan, insya allah, kita akan coba membersamai mereka untuk mengejar akselerasi pendidikan. Agar anak-anak yang belum merasakan akses pendidikan, dapat mengejar ketertinggalan dengan belajar kembali baca tulis hitung dan pelajaran-pelajaran mendasar sesuai jenjang kurikulum sekolah mereka yang seharusnya.
Pesan Ama Makadong, ketua RT setempat ketika kami sowan ke rumah beliau tadi malam, “Yang terpenting sebenarnya ini adalah tentang kepedulian, Mas. Setinggi apapun latar belakang pendidikan seseorang, kalau mereka enggak punya rasa peduli, ya percuma saja.”
Saya mencatat baik-baik wejangan tersebut. Karena tentang kesan di hari pertama di pelosok negeri ini, saya sekedar meringkasnya dalam satu kalimat berikut, “Tidak seberat yang kita bayangkan, namun juga tidak semudah yang pernah kita jalani di Maninjau dahulu.”
Tantangannya berbeda. Budaya masyarakatnya juga berbeda. Maka dari itu, ujung perjalanan kita disini akan sepenuhnya bergantung pada kemampuan kita dalam beradaptasi di tengah semua perbedaan tersebut. Nah, bisakah?
Ah. Semoga.
—————-
Desa Oesao,
22 Ramadhan 1442 H – 08.15 WITA
Jurnal Kita Bersama