Chief's Note
December 29, 2025 4 menit baca

Chief’s Note: Intention Tree di Youth Action Forum 5.0

Sesi Intention Tree di pagi itu, -pagi yang mengawali 5 hari kebersamaan kami di Bali- dibuka oleh fasilitator dengan pertanyaan...

Sesi Intention Tree di pagi itu, -pagi yang mengawali 5 hari kebersamaan kami di Bali- dibuka oleh fasilitator dengan pertanyaan pemantik yang membuat saya terdiam barang sejenak, “Apa niatan yang membawamu hadir dalam kegiatan ini? Apa yang kamu cari? Tujuan apa yang ingin kamu capai?

Sebagai pertanyaan pemantik, well, saya tentu sudah sering menyimak kalimat barusan. Di beberapa kesempatan, saya-lah yang bahkan membantu mengelaborasi pertanyaan tersebut kepada peserta-peserta yang sedang mengikuti pelatihan/mentoring bersama lembaga kami.

Untuk memperbaiki keadaan negeri ini, kita perlu ikut andil menjadi bagian dari sistem. Bukan dengan berdiri di luar dan mengutuk keadaan.

Tetapi pagi tersebut, ketika dihadapkan pada pertanyaan yang sama, saya malah terhenyak diam.  Bukan karena pertanyaannya kurang jelas atau saya kesulitan memahami konteksnya. Tetapi sebaliknya, karena saya sangat memahami latar belakang pertanyaan tersebut, saya justru kesulitan menemukan jawaban paling otentik dalam diri saya.

Ah iya, ya. Jauh-jauh berangkat ke Pulau Dewata ini, sebenarnya apa yang hendak saya temukan?

Lidah saya kaku. Hati saya kelu. Saya khawatir, jangan-jangan alasan kehadiran saya hanya sedangkal ego, -sekedar perlu diberi makan dengan embel-embel “delegasi terpilih perwakilan pemuda Indonesia”. Saya merenung beberapa saat, berusaha menemukan jawaban yang tepat. Tepat dalam arti jujur dan otentik. Seirama dengan panggilan hati. Senada dengan karsa dalam berkarya.

Hingga kemudian tangan saya perlahan mantap menulis tiga kalimat pada lembaran post-it yang tersedia: “Untuk melihat Indonesia yang lebih luas. Untuk mencari peluang dan mitra kolaborasi aksi. Untuk bersama-sama menciptakan dan menghadirkan ekosistem kepemimpinan muda Indonesia.

Saya menuliskan apa yang saya inginkan, atau lebih tepatnya, apa yang sebetul saya harapkan. Ketiganya mewakili tingkatan yang disarankan oleh panitia, yaitu niatan yang mencerminkan hasrat pondasi diri (akar), niatan yang menggambarkan bagaimana saya menjembatani diri dengan sistem (batang), serta niatan yang melukiskan harapan aksi saya dalam sistem (daun).

Ada pepatah yang mengatakan, bahwa kita akan dipertemukan dengan apa yang kita cari sedari awal. Boleh jadi pepatah itu ada benarnya. Karena voila, siapa yang akan tahu, pada hari ketika saya menuliskan refleksi ini, dua dari tiga kalimat niatan di atas telah terwujud dengan begitu baik.

Melihat Indonesia lebih luas? Ah, siapa sangka, 5 hari kebersamaan tersebut membawa saya berkawan akrab dengan sosok-sosok hebat dari Sabang sampai Merauke. Saya bahu membahu mengerjakan persiapan Cultural Night bersama Bang Fauzul dari Aceh, satu kamar bersama Bang Zen dari Maluku, duduk bersebelahan di shuttle bus bareng Mas Rian dari Poso, bertukar pengalaman dengan Bang Akbar dari Palangka Raya, berboncengan motor menuju sholat Jumat bersama Bang Rinaldi dari Sulawesi Selatan, hingga meminjam motor berkeliling Pulau Dewata dari Mbak Nadia di Bali. Dan masih banyak sosok luar biasa lainnya yang tak mungkin saya tuliskan satu per satu kisah mereka di sini.

Pertemuan-pertemuan itu memang terbilang singkat, tetapi cukup untuk membuka mata saya melihat Indonesia dari sudut pandang yang lebih luas. Mengisi gelas kosong yang saya miliki dengan cerita-cerita inspiratif dari para sejawat nan hebat.

Lalu, ajaibnya, obrolan-obrolan santai tersebut ternyata mengantarkan saya pada niatan tujuan kedua. Pasca sepulang dari YAF 5.0, kami kini tengah asyik menjajaki beberapa peluang kolaborasi dan kemitraan bersama. 1 project sudah mulai berjalan, 2 hingga 3 lainnya menyusul sedang kita ikhtiarkan sebaik mungkin, insya allah. Saat ini, kita telah memasuki era co-creation. Jika bisa bergandeng tangan, mengapa harus bergerak sendiri-sendiri ya, kan? Hehehe

Hanya tinggal keinginan ketiga yang memang betul belum terlihat juntrungannya. Dan itu wajar.  Sejak awal, ketika menuliskan frasa “ekosistem kepemimpinan muda Indonesia”, saya sepenuhnya sadar bahwa harapan tersebut tidak mungkin terwujud dalam waktu singkat. Namun sebagaimana dua niatan sebelumnya, -yang alhamdulillah sama-sama terwujud dengan begitu indah-, saya haqqul yaqin bahwa keinginan tersebut hanya tinggal menunggu waktu sebelum perlahan menemukan bentuknya di permukaan.

Chief's Note: Intention Tree di Youth Action Forum 5.0

Saya percaya itu. Karena Youth Action Forum 5.0 kemarin memang bukan sekedar ajang pertemuan 50 delegasi pemuda dari seluruh Indonesia. Ia juga menyatukan pikiran, hati, dan keyakinan kami bersama: bahwa harapan itu masih ada. Hope is still with us.

Untuk memperbaiki keadaan negeri ini, kita perlu ikut andil menjadi bagian dari sistem. Bukan dengan berdiri di luar dan mengutuk keadaan, tetapi dengan menjadi penggerak akar rumput, —memimpin dengan meninggalkan pendekatan ego-sentris berbasis ke-aku-an dan beralih menuju eco-leadership yang mengedepankan kesadaran sistemik, keberlanjutan dampak, serta kesejahteraan bersama sebagai tujuan utama kepemimpinan.

Selama kita meyakini hal tersebut, saya kira, cepat atau lambat keinginan ketiga saya itu akan tercapai seiring berjalannya waktu. Tinggal tunggu waktu saja.

————————–

Jagakarsa,
28 Desember 2025 – 16.52
Sebuah Rasa Syukur

 

Chief's Note: Intention Tree di Youth Action Forum 5.0

 

Ditandai Dalam

Chairul Sinaga

Managing Director Dampak Sosial Indonesia. Menulis tentang kepemimpinan, perjalanan, dan hal-hal kecil yang bermakna besar — sejak 2015.

Tinggalkan komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. *