Saya pernah 3 tahun tinggal dan menjadi guru pengabdian di salah satu sekolah pesantren di pelosok Maninjau, Sumatera Barat. Kehidupan di sana cukup berat. Akses serba terbatas dikepung danau dan hutan lebat Pulau Andalas. Gajinya juga kecil, bahkan sering terlambat dibayarkan, sehingga cukup sulit menemukan tenaga SDM yang sedia mengajar di sana. Tetapi ketika itu, saya merasa sangat bahagia. Sebab mampu berdiri bangga di atas idealisme masa muda, hidup berkawan langsung makna tangguh dan ikhlas.
Bertahun kemudian, melalui serangkaian proses pendewasaan kehidupan, saya menyadari banyak hal baru. Idealisme tanpa kesiapan dan pengetahuan yang cukup bisa menjadi sebentuk keangkuhan terselubung.
Di satu titik ketika dulu tinggal di Maninjau, saya pernah menganggap diri saya sudah laik untuk disebut guru inovatif karena mampu menghadirkan berbagai jurus mengajar nan kreatif untuk para siswa di kelas. Saya sempat mengira diri saya sudah “cukup”, tak perlu berkuliah tinggi karena merasa telah mencapai kriteria guru nan ideal versi saya sendiri.
Belakangan saya menyadari bahwa asumsi itu keliru. Saya abai memahami bahwa kapasitas sesungguhnya diri saya belum mencapai level tersebut. Saya lupa hakikat guru terbaik justru adalah mereka yang tak berhenti belajar hal-hal baru. Itu betul. Boleh jadi saya adalah katak dalam tempurung ketika itu.
Pengalaman tersebut menjadi sumber energi saya untuk terus berbenah hingga hari ini. Saya masih belum menyerah dengan impian saya untuk memajukan dunia pesantren yang menjadi tempat saya bertumbuh dan menemukan makna hidup. Saya masih menyimpan cita melihat pesantren-pesantren di Indonesia menjadi mercusuar peradaban masyarakat madani, tempat nilai-nilai kebaikan dan pengetahuan ditempa bersama. Saya ingin suatu hari nanti kembali berkontribusi ke posisi tersebut. Tetapi sebelum itu, saya menyadari masih harus terus belajar dan mengumpulkan bekal perjalanan.
Inovasi tidak dapat lahir dari semangat semata. Ia memerlukan desain. Ia membutuhkan lingkungan yang mendukung serta akumulasi modal —pengetahuan, pengalaman, sumber daya finansial— yang memadai agar sebuah gagasan bisa bertahan dan tumbuh menemukan bentuk terbaiknya. Keadaan saya ketika mengabdi di Maninjau, masih sangat jauh dari prasyarat barusan. Niat saya mungkin baik dan tulus, tetapi kemampuan saya belum cukup untuk merancang perubahan yang mampu hidup melampaui kehadiran saya sendiri.
Tempo hari, ketika mengikuti agenda Youth Action Forum (YAF) di Bali, saya turut merenungkan perihal ini. Banyak gagasan baik kandas bukan karena niatannya keliru, melainkan karena ia dijalankan dalam ekosistem yang belum siap menumbuhkannya. Ide-ide perubahan, untuk bisa bermekar menghasilkan dampak berkelanjutan, tidak cukup hanya sekedar digerakkan oleh individu-individu baik semata, tetapi tetap membutuhkan sistem yang mampu menopang, merawat, dan mereplikasi kebaikan tersebut. Inilah yang kemudian saya pahami sebagai kesadaran sistem.
Persoalan sosial yang seringkali menjadi pemantik lahirnya inovasi, selalu berkelindan erat dengan kebijakan pemerintah, struktur ekonomi masyarakat, pola pendidikan, hingga budaya yang telah mengendap.
Apa yang saya lakukan di Maninjau, dengan berusaha menghadirkan proses pembelajaran yang menyenangkan dan berbasis pemahaman, mungkin memang membantu menyelesaikan satu-dua persoalan di permukaan. Namun boleh jadi, itu hanyalah pucuk dari sebuah gunung es (iceberg). Bisa digunakan untuk menjawab tantangan di depan mata, tetapi tentu belum cukup menyentuh akar permasalahan sesungguhnya (root cause).
Oleh karena itu, ada kalanya kita memang perlu berhenti sejenak. Menarik napas, lalu bertanya lebih dalam: sistem apa yang membuat masalah ini terus berulang? Bagian mana yang sesungguhnya perlu diperbaiki agar inovasi perubahan dapat bertahan bahkan ketika kita tidak lagi hadir di sana?
Inovasi tidak pernah berdiri di ruang hampa. Ia selalu bergantung pada konteks sosial dimana ia dilahirkan. Inovasi adalah tentang bagaimana sebuah gagasan perubahan ditempatkan di dalam sistem yang tepat. Banyak upaya perubahan gagal bukan karena inovasinya lemah, tetapi karena sistem di sekitarnya belum memberi ruang untuk inovasi itu hidup, —mulai dari keterbatasan kebijakan pendukung, kurang kuatnya kapasitas sumber daya manusia, hingga minimnya mekanisme pembiayaan yang berkelanjutan. Tanpa dukungan itu semua, inovasi bak seperti eksperimen sesaat: menarik di awal, namun perlahan layu sebelum sempat menghasilkan dampak yang bertahan lama.
Di sisi lain, penting juga untuk dicatat bahwa tidak selamanya inovasi-inovasi yang berfokus pada solusi di permukaan itu keliru dan sia-sia. Banyak juga inisiatif di level ini yang justru berhasil membuka mata publik dan menggerakkan kesadaran awal. Aksi-aksi seperti yang dilakukan Pandawara, misalnya, sangat efektif membangun awareness masyarakat terhadap isu lingkungan dan perilaku membuang sampah.
![]()
Soucer: Youtube Suara Hati Bangsa
Namun jika dilihat melalui kerangka iceberg dalam Theory U, kerja-kerja semacam ini umumnya masih berada di level kejadian dan pola perilaku yang tampak di permukaan. Ia penting sebagai pemantik, tetapi belum cukup untuk menyentuh lapisan yang lebih dalam—mental model, kebijakan, dan sistem yang membuat persoalan serupa terus berulang dari waktu ke waktu. Di titik inilah, kerja di balik layar untuk memperbaiki sistem menjadi krusial agar perubahan tidak berhenti sebagai respons sesaat.
Oleh karena itu, alih-alih saling menegasikan peran, mari kita sekarang saling berbagi posisi. Seperti halnya ikhtiar kita bersama dalam membangun dan memajukan dunia pesantren. Ada yang setia menjaga nyala dari dalam pesantren, —memastikan nilai, adab, dan pengetahuan terus hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Ada pula yang, pada fase tertentu, belajar melengkapi pandangan dari luar, —memahami cara kerja kebijakan, pengelolaan sumber daya, hingga dinamika kolaborasi lintas kepentingan.
Di satu titik kita pasti akan bertemu dan saling membutuhkan. Berkolaborasi menuju apa yang menjadi impian kita semua: membangun dan memajukan pesantren supaya bisa bersama-sama menghadirkan inovasi yang mampu bertahan, berakar, dan menciptakan dampak berkelanjutan bagi masyarakat Indonesia.
———————–
Cipete,
22 Desember 2025 – 00.14
Menutup Lembaran 2025