Beberapa waktu lalu, saya mengikuti pelatihan Pra-Lokakarya Kebijakan Pendidikan Indonesia yang diinisiasi oleh Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK) di Paragon Hall, Jakarta Selatan. Dalam kegiatan tersebut, saya hadir sebagai fasilitator program mewakili Maxima Impact Consulting bersama beberapa rekan kerja lainnya.
Salah satu sesi yang menurut saya menarik untuk dibagikan di sini adalah sesi pemaparan bersama Bapak Iwan Syahril, Direktur Jenderal Paud, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Kemendikbudristek. Beliau menyampaikan banyak sekali insight menarik seputar kondisi dunia pendidikan kita hari ini.
Saat ini pemerintah melihat bahwa permasalahan utama pendidikan di Indonesia bukan sekedar tentang pemerataan jumlah akses pendidikan saja. Karena bila hanya bicara tentang kuantitas akses pendidikan semata, selama beberapa tahun terakhir, angka partisipasi sekolah di Indonesia sudah menunjukkan persentase yang cukup tinggi (lihat gambar).
![]()
![]()
Tetapi skor tinggi tersebut belum diikuti pemerataan akses pendidikan yang BERKUALITAS dan BERKEADILAN untuk semua anak Indonesia. Masih banyak anak-anak yang secara “jasadiyah” mereka sudah mengikuti program pendidikan di sekolah, tetapi masih menunjukkan kompetensi minim dalam hal literasi dan numerasi.
Kalau kata Bu Itje Chodidjah, Ketua Dewan Pakar PSPK yang kemarin juga mengisi materi bersama Pak Iwan, “Schooling Yes! Learning No!“.
![]()
Untuk menyikapi problem di atas, salah satu strategi utama yang hendak diterapkan pemerintah adalah meningkatkan kualitas SDM tenaga pendidik dengan berfokus pada sosok-sosok pemimpin lokal (kepala sekolah, kepada dinas, dsb) sebagai agent of change. Sehingga diharapkan, dengan adanya peningkatan kualitas leader, para leader tersebut dapat meng-encourage tenaga pendidik lainnya untuk kemudian pada akhirnya meningkatkan kualitas proses pembelajaran bersama peserta didik nantinya.
![]()
Pak Iwan kemudian menceritakan success story yang sempat beliau temui di salah satu SMP di daerah Papua Barat. Pak Arby, kepala sekolah di instansi tersebut, berhasil mengubah sekolah yang dulunya dikenal sebagai sekolah buangan -tempat anak-anak mabuk dan nakal disekolahkan-, menjadi salah satu sekolah yang aktif menorehkan prestasi. Dan itu semua dimulai dari semangat Pak Arby dalam menginisiasi perubahan, dimulai dari mengubah paradigma berpikir para guru di sana. Kisah tentang Pak Arby bahkan sempat diliput beberapa media nasional. Salah satunya ialah berita di sini.
Overall, saya merasa sangat senang dapat mengikuti sesi pelatihan tersebut. Selain menghadirkan beragam insight dalam dunia pendidikan, ini juga selaras dengan salah satu visi Maxima Impact Consulting yang ingin memfasilitasi transformasi pemimpin melalui inisiatif berdampak serta berkelanjutan.
Terima kasih atas sesi luar biasanya, dan semoga bermanfaat!
—————-
Jakarta Selatan,
15 Safar 1446 H – 14.00
Indonesia Kita Bersama.