Catatan Guru Rantau
June 13, 2021 4 menit baca

Catatan Guru Rantau #2: Mencari Kayu Bakar

Di tanah rantau Oesao, mencari kayu bakar adalah sebuah keharusan demi keberlanjutan mengepulnya dapur rumah tangga. "Mengepul" di sini, ditulis...

Di tanah rantau Oesao, mencari kayu bakar adalah sebuah keharusan demi keberlanjutan mengepulnya dapur rumah tangga. “Mengepul” di sini, ditulis dalam arti sesungguhnya, karena memang betul, masyarakat disini rerata masih menggunakan kayu kering sebagai bahan bakar perapian mereka.

Kami yang datang bermukim di Rumah Belajar (Rumbel) Oesao, selain berfokus pada akselerasi pendidikan, juga punya misi memperbaiki gizi anak-anak yang ikut belajar di Rumbel. Karena itulah, di samping mengajar materi , setiap harinya kami juga harus menyiapkan menu masakan bagi segenap peserta didik. Kebijakan ini yang kemudian ikut membawa (baca : menyeret) kami pada keharusan mencari kayu bakar di atas. Hahaha…

Sebagai ‘anak kota’ yang sudah agak lupa bagaimana caranya berkehidupan dengan nilai-nilai tradisional, pengalaman memilah dan memikul kayu bakar, lalu memasak makanan dengannya, tentu merupakan pengalaman yang cukup langka bagi seorang saya pribadi. Namun karena itulah, saya bisa mengosongkan gelas untuk kemudian belajar banyak hal baru dari pengalaman tersebut.

Memilah dan memilih kayu, bukan hanya tentang memotong atau membacok pohon. Kita perlu menyortir mana saja kayu yang kering dan mana yang tidak. Semakin kering, semakin baik.

Tapi bukan disitu bagian tersulitnya. Mengangkat dan memikul kayu dari hutan, merupakan tantangan terberat sesungguhnya, terutama bagi orang-orang yang jarang berolahraga seperti saya. Selain harus dipastikan beratnya sesuai dengan kapasitas kemampuan angkut kita, juga harus dipastikan agar bagian tajam dari ranting jangan sampai melukai bagian belakang tubuh kita. Variabel yang harus diperhatikan berikutnya adalah jarak tempuh dari hutan menuju rumah. Semakin jauh, tentu juga semakin melelahkan, bukan?

Catatan Guru Rantau #2: Mencari Kayu Bakar

Namun dari serangkaian proses di atas, saya jadi belajar kian menghormati orang-orang desa yang setiap hari melakukan hal semisal. Mereka orang-orang yang kuat, tangguh, dan tahan banting. Saya akui itu. Hehehe…

Dan tentang memasak dengan kayu bakar, konon kata orang di sini (dikonfirmasi juga oleh beberapa kawan lainnya), lebih lezat cita rasanya ketimbang menggunakan kompor minyak atau kompor gas. Entahlah. Saya tidak tahu kebenaran sesungguhnya. Karena bagi saya, semua makanan -baik dimasak di kayu bakar atau kompor- tetap sama enak untuk disantap, apalagi bila disajikan gratis tanpa perlu membayar sepeser pun. Hehehe…

Tentang memasak menggunakan kayu bakar, saya juga turut memahami beberapa suara masukan perihal keselamatan lingkungan. Penggundulan hutan, pencemaran udara, dsb.

Tapi sejauh dari yang saya amati di Oesao, hampir semua masyarakat di sini hanya mengambil kayu dari pohon-pohon yang sudah tumbang atau sudah hanyut terbawa sungai. Mereka tidak menebang pohon baru. Karena selain pepohonan tersebut merupakan aset kekayaan, bila dipikir lebih lanjut, menebang pohon sekedar untuk kayu bakar jelas merupakan tindakan yang sangat sia-sia. Lebih baik dijual untuk dipergunakan sebagai bahan mebel atau perabotan lainnya.

Apalagi pasca bencana topan Seroja beberapa bulan silam, ada begitu banyak sisa pohon dan bangunan kayu yang tumbang berserakan sejauh mata memandang. Itu semua tentu lebih layak untuk dijadikan bahan bakar tungku perapian, bukan?

Lalu berikutnya, daripada alih-alih memaksakan konversi kayu bakar ke tabung gas / minyak tanah, saya kira isu kesejahteraan masyarakat di sini lebih layak untuk kita perhatikan terlebih dahulu ketimbang itu semua.

Karena begini kawan, katakanlah dengan satu atau dua cara, kita dapat mengupayakan bantuan berupa kompor gas atau kompor minyak kepada seluruh warga sekitar. Namun sesudah itu, lantas bagaimana? Untuk bisa terus memakai kompor, mereka harus rutin mengalokasikan dana guna membeli tabung gas atau minyak tanah. Padahal, sekedar memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sudah terbilang sudah cukup sulit bagi mereka, apatah lagi dengan beban tambahan itu semua, bukan? Itu mengapa sebagian besar masyarakat di sini suka menggunakan kayu bakar, karena gratis..tis…tis. Hanya perlu mencari pergi di hutan, lalu memikulnya ke rumah.

Matahari sore di Desa Oesao

Bonus: Suasana matahari sore di Desa Oesao

Tentang mencari kayu bakar, saya menyimak begitu banyak lapisan kehidupan. Ini bukan sekedar pengalaman, namun juga perihal pembelajaran. Untuk kita yang semakin arif, untuk kita yang semakin bijak dalam memandang segala ihwal persoalan masyarakat.

Karena pada akhirnya, ya inilah #IndonesiaKita. Hehe.

—————

Kelurahan Oesao,
1 Dzulqoidah 1442 H – 10.50 WITA
Selamat Pergi

Ditandai Dalam

Chairul Sinaga

Managing Director Dampak Sosial Indonesia. Menulis tentang kepemimpinan, perjalanan, dan hal-hal kecil yang bermakna besar — sejak 2015.

Tinggalkan komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. *