Kecakapan digital hari ini telah menjelma menjadi bekal dasar untuk bisa belajar, bekerja, dan menjaga diri di ruang yang kian terhubung. Di tengah derasnya arus informasi, kemampuan untuk memilah, memahami, dan menciptakan secara bertanggung jawab menjadi semakin menentukan bagi siapa pun, di mana pun ia berada.
Selama tiga bulan terakhir, saya berkesempatan membersamai 41 mahasiswa penerima Beasiswa Eramet Beyond dalam Program Penguatan Literasi Digital. Mereka datang dari Maluku Utara, Papua, dan Sulawesi. Melalui Dampak Sosial Indonesia (DSI), kami dipercaya sebagai mitra pelaksana, bergandengan tangan dengan Kitong Bisa dalam merawat perjalanan belajar adik-adik dari Indonesia Timur ini. Program ini sendiri merupakan bagian dari Scholarship Management di DSI, sebuah layanan end-to-end pengelolaan beasiswa yang di dalamnya kami menghadirkan kurikulum pengembangan diri, mentoring, serta pembinaan berkelanjutan bagi para penerima manfaat.
Sejak awal, kami berusaha merancang pendekatan program yang berpijak pada landasan yang teruji. Kerangka kurikulumnya kami adaptasi dari MediaSmarts Digital Literacy Model, sebuah model yang dikembangkan oleh MediaSmarts, pusat literasi digital dan media terkemuka di Kanada. Kami memilih framework ini karena progresi belajarnya yang runtut: mengalir dari USE, UNDERSTAND, hingga CREATE. Model ini kami anggap dapat menuntun peserta dari sekadar bisa memakai perkakas digital, menuju memahami cara kerja ruang digital, hingga akhirnya mampu menjadi pencipta (baca: creator) yang bertanggung jawab di dalamnya.
![]()
Berpijak pada kerangka itu, kami merancang tujuh sesi pelatihan yang berjalan bertahap sepanjang April hingga Juni lalu. Para peserta belajar menata sistem digital pribadi (foldering), menimbang kredibilitas sebuah informasi sebelum memercayainya, menjaga keamanan akun dan privasinya dengan lebih sadar, hingga merancang gagasan sederhana berbasis teknologi untuk menjawab persoalan di sekitarnya. Setiap sesi juga kami lengkapi dengan Assignment of the Session, tugas praktik yang membantu peserta melatih langsung apa yang baru mereka pelajari pada konteks kehidupan nyata mereka. Perlahan, tujuan seluruh pembelaran ini mulai kelihatan:: dari sekadar pengguna teknologi, menuju pencipta yang bertanggung jawab, dan pada akhirnya calon penggerak dampak di lingkungannya masing-masing.
![]()
Kami percaya, bekal kecakapan digital yang mereka bawa hari ini bukanlah milik mereka seorang. Kelak, ia akan pulang ke tanah asalnya masing-masing, menjadi cahaya kecil yang menerangi lebih banyak orang di Timur sana.
Terima kasih untuk Kitong Bisa Foundation dan Eramet Indonesia atas kepercayaan dan kolaborasi yang begitu bermakna ini. Sebuah kehormatan bisa belajar dan bertumbuh bersama sahabat-sahabat hebat dari Timur Indonesia. 😊
#DampakSosialIndonesia #LiterasiDigital #ErametScholarship #IndonesiaTimur #SocialImpact