Benjamin Franklin, salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Amerika Serikat, pernah menyadari sebuah hal unik dalam interaksinya bersama orang lain.
Dalam otobiografinya, Franklin menceritakan bahwa suatu ketika ia berusaha mendapatkan dukungan dari seseorang yang selama ini dikenal sebagai musuh politiknya. Alih-alih menawarkan bantuan atau imbalan besar, Franklin justru meminta tolong kepada pria tersebut untuk meminjamkannya sebuah buku langka dari koleksi yang ia miliki. Permintaan -yang bahkan menurut standar kita hari ini- terkesan sangat sepele dan sederhana.
Namun ajaibnya, setelah mengembalikan buku tersebut kepada sang pemilik dan mengucapkan terima kasih nan tulus melalui secarik surat, Franklin malah mendapati bahwa si musuh politik tersebut berubah menjadi seorang teman yang akrab. “Dia yang sebelumnya tak pernah berbicara dengan saya,” tulis Franklin, “justru menjadi seseorang yang dengan ramah menyapa saya, dan siap membantu saya di kesempatan selanjutnya.”
Dari sinilah konsep Benjamin Franklin Effect bermula. Sebuah gagasan bahwa orang lain cenderung semakin menyukai kita setelah mereka melakukan kebaikan untuk kita. Terasa aneh, bukan? Karena biasanya, kitalah yang seharusnya makin menyukai seseorang karena mereka telah berbuat baik kepada kita. Bukan malah sebaliknya, ya kan?
Tetapi fenomena tersebut benar adanya, dan dunia psikologi punya penjelasan ilmiah untuk kita pelajari bersama.
Dalam sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 1969 oleh Jon Jecker dan David Landy, fenomena ini kembali divalidasi. Mereka mengamati bahwa partisipan yang diminta melakukan kebaikan sederhana justru kemudian mereka merasa lebih dekat dengan orang yang mereka bantu. Secara tak sadar, mereka mulai membangun alasan dalam diri mereka: “Kenapa ya saya melakukan kebaikan ini? Oh, boleh jadi karena saya memang menyukai orang itu.”
Benjamin Effect ini juga bisa dipahami lebih luas melalui teori cognitive dissonance yang dicetuskan oleh Leon Festinger. Saat kita melakukan sesuatu yang bertentangan dengan keyakinan awal kita—seperti menolong orang yang mungkin tak kita sukai—pikiran kita cenderung mengatasi disonansi tersebut dengan cara merevisi perasaan kita tentang orang tersebut. Kita mulai meyakini bahwa kita sebenarnya menyukai mereka, karena itulah mengapa kita mau menolong mereka.
Nah, dalam konteks kepemimpinan, konsep ini bisa menjadi sebuah media berharga. Kita mungkin seringkali berpikir bahwa untuk menjadi pemimpin yang baik, kita harus menjelma bak sinterklas: sosok serba bisa yang dapat menyelesaikan seluruh masalah; seorang figur yang selalu hadir dengan membawa segudang solusi. Namun itu tidak tepat. Ada saatnya, justru dengan meminta bantuan, kita dapat membangun hubungan yang lebih erat dengan anggota tim. Ketika kita memberikan ruang bagi orang lain untuk membantu, mereka merasa lebih dihargai dan diakui kontribusinya. Ini yang kemudian akan menciptakan perasaan kepemilikan terhadap tanggung jawab keberhasilan tim nantinya.
Contoh sederhanya seperti ini. Bayangkan kita sedang meng-handle sebuah project di tempat kerja kita. Sebagai pemimpin, kita berusaha meminta masukan dari anggota tim lainnya dalam beberapa urusan yang discuss-able. Bukan hanya demi formalitas belaka, tetapi kita benar-benar bersungguh mengajak mereka untuk ikut urun memberikan solusi serta pemikiran terbaik demi kemajuan project. Maka apa yang terjadi dari skenario ini?
Anggota akan merasa lebih dihargai, lebih merasa lebih diikutsertakan. Setelah seluruh upaya yang mereka tuangkan untuk memikirkan masukan tersebut, kesediaan kita -sebagai pemimpin- untuk menerima dan bahkan mempertimbangkan masukan dari mereka, akan membuat anggota merasa bahwa kontribusi mereka diakui. Sehingga pada akhirnya mendorong mereka untuk lebih partisipatif ketika ada kesempatan-kesempatan berikutnya di masa mendatang.
Momen seperti di atas merupakan contoh Benjamin Franklin Effect dalam ihwal kepemimpinan. Alih-alih selalu tampil sebagai “pemimpin kuat” yang menyelesaikan semua masalah sendiri, kita justru bisa mengundang anggota tim untuk turut membantu dan urun bersuara. Dan ini bukan tanda kelemahan, melainkan sebuah strategi cerdas untuk membangun ikatan yang lebih dalam.
Tetapi perlu diingat juga, bahwa Benjamin Franklin Effect tidak boleh lantas dipahami sebagai alat manipulasi. Sebagai seorang pemimpin, kita perlu membangun garis batas etika yang jelas. Kita harus sepenuhnya menyadari, bahwa meminta kebaikan dari orang lain seharusnya didorong dari niatan tulus untuk menciptakan rasa kebersamaan dan kesatuan, bukan justru untuk mengeksploitasi kerentanan emosi mereka. Dalam kepemimpinan, kejujuran harus tetap menjadi pondasi utama. Memanfaatkan efek ini sebagai sarana manipulatif justru akan merusak kepercayaan tim dan membuat hubungan menjadi tidak tulus.
Mari kita tidak ragu meminta bantuan kecil dari rekan-rekan kita. Siapa tahu, kebaikan sederhana semisal itu bisa menjadi awal dari hubungan yang lebih hangat dan penuh makna—bukan hanya dalam kepemimpinan, tapi dalam setiap aspek kehidupan kita. Siapa tahu, itu juga bisa menjadi kunci pemantik guna menciptakan kolaborasi yang lebih kuat serta bermanfaat ke depannya. Karena setelah dipikir-pikir, Benjamin Franklin Effect sejatinya adalah sesuatu yang lahir dari hakikat kemanusiaan itu sendiri : ketika satu kebaikan melahirkan kebaikan lainnya.
———————-
Perpustakaan Nasional,
15 Januari 2025 – 18.45 WIB
Mari Memikirkan Masa Depan