Tahun 2025 sudah hampir berjalan separuh usia kalender. Berapa dari kita yang masih merasa semangat dengan resolusi yang telah dibuat di awal tahun kemarin? Sebagian mungkin masih merasa antusias mengejar target-target yang perlu dituntaskan, namun tentu tak sedikit pula yang justru mulai hilang arah, terjebak dalam rutinitas yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya.
Setiap dari kita pasti punya impian. Punya cita-cita dan setumpuk harapan. Bahkan itulah yang membuat manusia menjadi manusia. Tetapi kenyataan lalu datang dan membenturkan kita dengan realita hidup yang kita hadapi saat ini. Di saat itulah, satu pertanyan penting hadir dan mengemuka, “Seluruh impian barusan, apakah kita benar-benar bisa membayangkan diri kita menggenggamnya suatu hari nanti? Apakah itu sesungguh ingin atau sekedar angan?”
Bicara soal imajinasi dan batasan, saya jadi teringat salah satu anime terbaik di tahun 2024 yang layak untuk kita bahas bersama. Berjudul Sousou no Frieren (Frieren the Slayer), anime ini berhasil menduduki peringkat pertama di MyAnimeList dengan lebih dari 650.000 voters dari seluruh dunia (ini bukan promosi btw, hehehe). Ceritanya berkutat tentang karakter bernama Frieren, seorang penyihir elf berumur panjang, yang melakukan perjalanan keliling dunia guna memahami makna kehidupan setelah kematian sahabat-sahabat manusianya.
Nah, dalam anime Sousou no Frieren, ada satu konsep menarik yang ingin saya ceritakan di sini. Tentang sihir di dunia Frieren yang tidak bisa berfungsi jika user-nya tidak mampu membayangkan dirinya menggunakan sihir tersebut.
Salah satu contoh yang paling mencolok dalam anime ini adalah ketika Ritcher, seorang penyihir yang menguasai elemen tanah, dikalahkan secara instan oleh Kanne, seorang penyihir air, hanya karena hujan turun di tempat dimana mereka bertarung. Ritcher kalah bukan karena sihir tanah lebih lemah dari air (dia awalnya sangat mendominasi pertarungan sebelum turun hujan), melainkan karena dalam pikirannya sendiri, Ritcher tidak bisa membayangkan dirinya menang melawan penyihir air dalam kondisi hujan. Pada titik tersebut, ia sudah kalah bahkan sebelum pertarungan usai. Terhalang batas imajinasi dan keyakinan yang kemudian menumpulkan peluang kemenangannya.
Sekarang mari kita bawa konsep ini ke dalam kehidupan nyata. Berapa banyak dari kita yang bermimpi menjadi seorang yang hebat, tetapi bahkan tidak bisa membayangkan berada di posisi tersebut?
Kita bermimpi menjadi seorang presiden, tetapi apakah kita benar-benar bisa membayangkan diri kita berada di sebuah rapat kabinet, bersiap memutuskan kebijakan negara yang dengan satu tanda tangan pengesahan dari kita akan mempengaruhi hidup jutaan rakyat negeri? Kita ingin keliling dunia, tetapi pernahkah kita benar-benar membayangkan diri kita berdiri di tengah kota Buenos Aires, atau menikmati angin gersang di atas gurun Sahara? Jika kita tidak bisa membayangkan diri kita ada di sana, apakah mimpi itu benar-benar sesuatu yang kita yakini bisa terjadi, atau hanya sekadar angan kosong?
Imajinasi bukan hanya sekadar fantasi. Imajinasi adalah stimulus, sesuatu yang dapat merangsang jiwa untuk bergegas bangkit dan melakukan aksi nyata.
Dengan membayangkan diri kita berada di titik yang ingin kita capai, otak kita akan mulai memetakan kemungkinan-kemungkinan yang harus kita tempuh untuk sampai ke tujuan nan jauh di sana. Itu akan membantu kita membangun setumpuk kesadaran. Apa saja yang harus disiapkan? Apa saja yang harus mulai dipelajari? Siapa orang-orang yang harus kita temui sedari sekarang? Kebiasaaan apa yang harus mulai kita ikhtiarkan?
Jika bahkan kita sendiri tidak pernah bisa melihat diri kita berada di titik impian, bagaimana mungkin kita bisa mulai melangkahkan kaki untuk menuju ke arah garis akhir tersebut ya, kan? Ingat, siapapun yang sama sekali tidak tahu akan pergi kemana, ia tentu tidak akan pernah pergi kemana-mana. Untuk menggunakan kompas dan peralatan navigasi, kita harus tahu terlebih dahulu titik yang akan dituju.
Dan ajaibnya, ajaran Islam juga menguatkan kita pada gagasan tersebut. Dalam salah satu hadis qudsi, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman bahwa Dia bersama prasangka hamba-Nya. Jika kita tidak pernah menanamkan keyakinan bahwa kita mampu mencapai sesuatu, lalu bagaimana mungkin Allah akan mengabulkan doa-doa yang bahkan tidak kita yakini sendiri? Jika kita ragu pada diri kita sendiri, bukankah itu sama saja dengan ragu pada takdir yang bisa Allah tetapkan untuk kita?
Maka mungkin, kunci paling awal dari sebuah mimpi bukanlah rencana, bukan juga eksekusi. Tetapi ialah membayangkan—melihat diri kita berdiri di nun jauh sana, sedang tersenyum meraih apapun bentuk mimpi-mimpi tersebut. Itulah keyakinan paling asasi. Prasangka paling dasar. Imajinasi yang membantu memperjelas segala rencana serta ikhtiar eksekusi, mendorong kita melewati segala halang rintangan.
Tahun 2025 sudah berjalan hampir separuh habis. Yakin masih mau begini-begini saja?
—————————-
Jagakarsa,
21 Juni 2025 – 02.44
Lintasan Lengkung Roket Angkasa