Activities
August 12, 2025 2 menit baca

Belajar Bareng AI: Produktif dengan Integritas

Ahad, 10 Agustus 2025 kemarin, saya berkesempatan mengisi sesi pembinaan BSI Scholarship Inspirasi bersama para mahasiswa penerima beasiswa dari beragam...

Ahad, 10 Agustus 2025 kemarin, saya berkesempatan mengisi sesi pembinaan BSI Scholarship Inspirasi bersama para mahasiswa penerima beasiswa dari beragam kampus di Indonesia. Pembinaan ini sendiri merupakan agenda rutin bulanan yang membahas berbagai topik pengembangan diri sesuai kurikulum program. Kebetulan, dalam pertemuan kemarin, saya diminta membawakan tema Belajar Bareng AI: Produktif dengan Integritas.

Kami memulai diskusi dengan membedah pro dan kontra penggunaan AI. Penelitian terbaru dari MIT menunjukkan potensi “metacognitive laziness“(malas berpikir) dan “cognitive debt (utang kognitif)” ketika seseorang terlalu bergantung pada AI, yang pada akhirnya dapat menurunkan kreativitas serta daya ingat. Namun di sisi lain, perkembangan AI sekarang kian menjadi standar baru di dunia kerja. Salah satunya terlihat dari internal memo Shopify yang sempat bocor beberapa waktu lalu (leaked), dimana CEO perusahaan tersebut menegaskan bahwa penguasaan AI kini merupakan keterampilan esensial bagi karyawan, dan wajib dimanfaatkan untuk mengatasi hambatan kerja sebelum beralih ke solusi rekrutmen SDM tambahan.

Belajar Bareng AI 2

Menurut saya, pilihan terbaik dalam pembahasan AI bukanlah menolak atau meninggalkannya sepenuhnya, melainkan memanfaatkannya secara bijak. AI seharusnya menjadi mitra yang mempercepat dan memperkaya proses, tanpa mengikis kemampuan berpikir kritis dan kreatif yang kita miliki sebagai manusia. Sikap ini yang saya dorong kepada para peserta kemarin.

Saya juga membagikan beberapa kiat menyusun prompt yang efektif. Prinsipnya sederhana: input yang berkualitas akan menghasilkan output yang berkualitas pula. Prompt yang jelas, spesifik, dan kontekstual membantu AI memberikan jawaban yang akurat dan relevan. Jika terbiasa menggunakan prompt dangkal, kita akan cenderung memilih jawaban yang mudah tanpa meninjau ulang, sehingga kehilangan kesempatan mengasah logika dan mempertajam hasil.

Tak kalah penting, kami membahas batasan dan etika Islam dalam menggunakan AI. Mulai dari niat yang lurus (menggunakannya untuk tujuan bermanfaat), menjaga amanah (melindungi privasi dan data), hingga menghargai ilmu dan kreativitas dengan menghindari plagiarisme. Nilai-nilai ini bukan hanya pedoman teknis, melainkan prinsip moral yang membentuk integritas kita di dunia digital.

Bagi saya, AI adalah cermin: ia akan memantulkan kualitas pikiran dan arah yang kita berikan. Berhenti memanfaatkannya bukanlah pilihan, namun menggunakannya tanpa kendali juga kian berisiko.

Belajar Bareng AI 4

Terima kasih untuk sesi diskusi hangatnya kemarin. Semoga setiap interaksi kita dengan AI bukan hanya menambah produktivitas, tetapi juga membentuk karakter dan visi yang akan membawa kita selangkah lebih dekat menuju mimpi-mimpi di nun jauh sana. Karena bagaimanapun juga, teknologi hanya akan sekuat niat, pengetahuan, dan tanggung jawab manusia yang menggunakannya. 😁

————–

Jagakarsa,
11 Agustus 2025 – 18.12 WIB
Perubahan Menuntut Adaptasi.

Ditandai Dalam

Chairul Sinaga

Managing Director Dampak Sosial Indonesia. Menulis tentang kepemimpinan, perjalanan, dan hal-hal kecil yang bermakna besar — sejak 2015.

Tinggalkan komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. *