Catatan Guru Rantau
May 8, 2021 3 menit baca

Catatan Guru Rantau #2: Tentang Cita-Cita

Ada yang menarik ketika kami bertanya kepada anak-anak di desa Oesao perihal cita-cita mereka tempo hari kemarin. "Marden, kalau besar...

Ada yang menarik ketika kami bertanya kepada anak-anak di desa Oesao perihal cita-cita mereka tempo hari kemarin.

“Marden, kalau besar nanti mau jadi apa?”
“Egel, cita-cita kamu mau jadi apa?”
“Anggun, kalau besar cita-citanya jadi apa?
“Jeki, cita-citanya nanti mau jadi apa?”

….dan seterusnya.

Dan dari sekitar 20 jawaban yang kami dengar, hampir semuanya mengerucut pada beberapa profesi favorit : tentara, polisi, guru, dan petani.

Ini sesuatu yang menarik. Sebab, dari sekian ribu jenis pekerjaan yang ada di dunia, mengapa justru hanya 4 itu yang kerap dikemukakan oleh mereka? Saya mencoba merenung dan mencari jawabannya.

Asumsi pertama saya, jawaban tersebut mewakili seberapa luas dunia yang mereka lihat dari desa Oesao tempat mereka tumbuh besar.

Mengapa hanya 4 profesi? Karena 4 profesi itulah yang sehari-hari ada di sekeliling mereka; begitu dekat dan dapat langsung mereka rasakan keberadaannya.

Mereka tidak kenal astronout, data scientist, ahli kimia, konsultan, PNS, pelukis, sastrawan, aktor, karena ya sesederhana mereka tidak pernah menerima akses informasi tentang pekerjaan-pekerjaan tersebut.

Jika ini benar, maka sepatutnya kita perlu bersikap khawatir. Karena secara tidak langsung, ini juga menggambarkan sejauh apa imajinasi yang mereka miliki saat ini. Dan sejauh yang pernah saya temukan, anak-anak yang kekurangan imajinasi dan hasrat harapan, tidak akan pernah bisa melangkah terlalu jauh dari titik keberangkatan mereka.

Imajinasi hanya dapat bertumbuh subur seiring dengan semakin luasnya arus informasi yang diterima. Mereka tidak boleh sekedar dibiarkan melihat dunia dari sepetak sempit akuarium, namun mereka harus didorong untuk berani menyaksikan luasnya dunia dari dalam lautan samudera.

Catatan Guru Rantau #2: Tentang Cita-Cita

Asumsi kedua saya, jawaban tersebut juga memberikan pemahaman, bahwa jalan tersingkat untuk menaikkan strata sosial keluarga besar mereka adalah dengan melalui profesi-profesi tersebut.

Petani dan Guru, tanpa bermaksud merendahkan pihak manapun, mungkin memang cenderung terkesan biasa-biasa saja. Namun beda halnya dengan profesi Polisi dan Tentara. Keduanya memiliki jenjang karir yang jelas ke depan. Selama mereka tidak berulah, mereka tidak akan pernah dipecat atau diberhentikan. Dan di samping itu, kesejahteraan hidup mereka juga jelas terjamin bahkan hingga sesudah memasuki masa pensiun nantinya.

Dengan menjadi polisi dan tentara, setidaknya mereka dapat menggaransi kehidupan yang lebih baik untuk mereka serta keturunan mereka, menyokong kebutuhan jangka panjang keluarga besar, serta menjadi kebanggaan tersendiri di tengah masyarakat sekitar.

Bila asumsi ini benar, kita boleh bersyukur sekaligus merasa khawatir.

Bersyukur, karena di tengah minimnya minat orang tua di kota untuk mengirimkan anak-anak mereka ke pendidikan tentara dan polisi, masih ada begitu banyak generasi muda di penjuru Nusantara yang siap bersemangat menjadi kader unggulan terbaik di kedua profesi tersebut. Namun kita juga perlu merasa khawatir, karena secara tidak langsung, ini menggambarkan betapa timpangnya kehidupan sosial antara masyarakat di pusat peradaban dengan masyarakat di Oesao dan di pelosok Indonesia lainnya.

Saya tidak tahu, apakah asumsi-asumsi yang saya buat di atas merupakan jawaban yang tepat atau bukan. Boleh jadi keduanya ternyata sama-sama tidak tepat. Boleh jadi keduanya sama benar dalam hubungan sebab-akibat. Atau boleh jadi juga, perlu ada variabel-variabel lain yang harus kita perhatikan sebelum membuat asumsi ketiga, keempat, kelima yang lebih tepat dan lebih mengena.

Apapun itu, saya hanya berharap bahwa semoga cerita singkat ini dapat menggugah kesadaran Anda sekalian. Bahwa masih ada PR besar untuk menjawab permasalahan pendidikan di negeri kita, sebelum bisa sebenar-benar tuntas mewujudkan amanat yang tertuang dalam alinea keempat UUD 1945, “...untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa….

Tugas siapakah itu?
Ya tentu, tugas kita bersama, dong.

—————-

Kelurahan Oesao,
25 Ramadhan 1442 H – 14.19 WITA
Pendidikan Negeri Kita

Ditandai Dalam

Chairul Sinaga

Managing Director Dampak Sosial Indonesia. Menulis tentang kepemimpinan, perjalanan, dan hal-hal kecil yang bermakna besar — sejak 2015.

Tinggalkan komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. *