“Where do you come from?”
“Aaahh, Indonesia. Good country. Good country…”
“Sini, sini, kamu pilih dulu…nanti saya bantu pasangkan…”
Dengan bahasa Indonesia terbata-bata — yang sampai akhir pun saya masih penasaran setengah mati dari mana ia mempelajari kosakata “ajaib” tersebut — laki-laki muda yang menjadi pemilik tempat kami menyewa hanbok pagi itu menyapa kami dengan ramah, lalu memandu kami memilih di antara koleksi yang berjajar rapi di etalasenya.
Untuk pria, terdapat 3 macam tema hanbok yang tersedia: king, prince, dan warrior. Saya memilih setelan prince berwarna biru dongker (sayang sekali tidak ada pilihan hitam ala grim reaper, *ups hahaha). Sedangkan istri saya memilih hanbok putri berwarna pink muda. Memang tidak terlalu kompak secara warna, tetapi bagian terpentingnya adalah tentang kebersamaan dan kenyamanan, bukan? Hehehe…
Staf toko membantu kami mengenakan hanbok dengan berbagai pernak-pernik aksesoris pelengkapnya. Setelah itu, kami melangkah mantap menuju tujuan utama hari itu: Gyeongbokgung Palace. Bersama para wisatawan lain yang juga baru keluar dari toko-toko penyewaan di sepanjang jalan, rasanya kami seperti serombongan penduduk Joseon zaman dahulu yang terlempar ke abad modern, melintas kikuk di antara keramaian lalu lintas kota Seoul.
Tapi tak mengapa. Ada banyak alasan untuk menggunakan hanbok di hari pertama kami di negara ini. Selain karena busana ini merupakan ciri khas ketika berkunjung ke Korea Selatan, alasan utama lainnya adalah untuk mendapatkan akses masuk gratis ke Gyeongbokgung.
GRATIS, itu benar. Untuk mengakses kompleks istana, tersedia 2 jalur masuk bagi para pengunjung. Pertama, jalur reguler dengan tarif sekitar 3.000 won. Kedua, jalur khusus yang gratis bagi siapapun yang mengenakan hanbok. Sebuah strategi yang cerdas, saya pikir. Kebijakan ini, selain untuk mengapresiasi dan melestarikan budaya negeri ini dengan penuh keanggunan, juga menjadi daya tarik wisatawan agar bisa merasakan langsung atmosfer sejarah di istana terbesar di Seoul ini.
Kami tiba sekitar pukul 10 pagi, bertepatan ketika upacara pergantian penjaga gerbang kerajaan (Sumunjang Gyodae Uisik) sedang berlangsung. Para penjaga berseragam Joseon berbaris dalam formasi yang presisi diiringi tabuh genderang tradisional. Wajah-wajah mereka serius meski di bawah terik matahari musim panas. Seakan ingin mengutarakan bahwa seluruh rangkaian tradisi ini merupakan warisan turun-temurun yang harus dijaga dengan sehormat mungkin. Untuk sesaat, tangan saya berhenti mengabadikan momen, berdiri takzim memandangi kemegahan latar suasana di sekitar.
Tentang Gyeongbokgung, syahdan, kompleks istana ini lahir dari ambisi sebuah peradaban yang baru saja menemukan dirinya. Tahun 1395, Raja Taejo membangunnya sebagai pusat ibukota Dinasti Joseon yang baru saja berdiri. Dari tembok-tembok yang sama inilah, beberapa dekade kemudian, Raja Sejong yang Agung — dua generasi setelah Raja Taejo — merumuskan sesuatu yang akan menjadi salah satu warisan paling abadi dari Korea: Aksara Hangul.
![]()
Source Image: seoulina.com
Sebelum adanya Hangul, bangsa Korea menulis dengan Hanja, aksara Cina nan rumit yang butuh bertahun-tahun untuk dipelajari. Praktis aksara ini hanya bisa dikuasai oleh kaum bangsawan yang ketika itu memang memiliki akses pendidikan lebih tinggi. Padahal Hanja sendiri sejatinya adalah aksara untuk bahasa Cina, bukan untuk bahasa Korea. Bunyi-bunyi yang sehari-hari hidup di lidah orang Korea, sering kali tidak bisa direpresentasikan dengan tepat oleh karakter Cina.
Maka di tahun 1443, Raja Sejong mengumpulkan para sarjana terbaiknya untuk merumuskan aksara baru. Mereka mempelajari anatomi mulut: bagaimana mulut bekerja saat mengucapkan bunyi, bagaimana lidah menempel ke langit-langit, bagaimana bibir membentuk huruf, dan bagaimana udara mengalir dari kerongkongan. Dari pendekatan tersebut, lahirlah sebuah sistem yang terdiri dari 28 huruf yang sederhana dan metodis. Dirancang khusus agar siapa saja, baik itu petani, pedagang, perempuan, maupun anak-anak, dapat membacanya dalam hitungan hari, bukan tahun.
Itu, sekitar enam ratus tahun yang lalu. Hari ini, di setiap sudut Seoul yang kami telusuri, aksara Hangul masih hidup dengan penuh semarak. Di papan toko, di nota belanja, di kemasan camilan yang istri saya beli. Aksara yang sama, yang dulu dirumuskan dari bilik-bilik istana Gyeongbokgung ini, sekarang telah menjadi bagian identitas yang mengikat satu bangsa. Menggenapi sejarah panjang di belakang, seakan ia adalah sebentuk deklarasi tegas: bahwa rakyat juga punya hak yang sama untuk membaca, untuk menulis, untuk merekam suara mereka sendiri.
Tapi sejarah, sebagaimana yang kita semua tahu, tidak pernah berjalan lurus.
Tahun 1592, Perang Imjin pecah ketika Jepang menginvasi Semenanjung Korea. Istana Gyeongbokgung yang saya lihat hari ini terbakar habis. Selama hampir tiga abad lamanya, istana ini dibiarkan tergeletak dalam reruntuhan. Baru di tahun 1867, di bawah arahan Heungseon Daewongun, restorasi besar-besaran dilakukan. 330 bangunan dibangkitkan ulang dari nol.
Namun, setelah Jepang mencaplok Korea di tahun 1910, Gyeongbokgung kembali dibongkar secara sistematis. Lebih dari sembilan puluh persen bangunannya dirobohkan. Gedung Pemerintahan Kolonial didirikan tepat di depan singgasana raja-raja Joseon, sengaja memblokir pemandangan dari gerbang utama. Bahkan Maharani Permaisuri Myeongseong sendiri dibunuh di kamarnya pada pagi buta 8 Oktober 1895, lalu jasadnya dibakar di hutan pinus terdekat.
Perang memang kejam. Dan kekejaman tersebut tidak hanya berhenti pada kehancuran arsitektur semata, tetapi juga berusaha untuk menghapus identitas sebuah bangsa. Pada masa pendudukan yang sama, bahasa Korea dilarang diajarkan di sekolah-sekolah. Murid-murid diwajibkan berbicara bahasa Jepang dalam keseharian mereka. Nama-nama marga Korea pun diganti paksa dengan nama-nama Jepang.
Apakah itu semua berhasil? Nope.
Tidak ada yang bisa mengalahkan ingatan kolektif bangsa dengan ribuan tahun sejarah.
Hangul bertahan diam-diam, diajarkan di rumah-rumah, dilestarikan di komunitas-komunitas yang menolak melepaskan bahasa ibu mereka. Gyeongbokgung pun, meski sempat hanya tersisa segelintir bangunan, ingatan tentangnya tidak pernah benar-benar luntur dari kesadaran bangsa Korea.
Di tahun 1995, bertepatan dengan lima puluh tahun pembebasan Korea, Gedung Pemerintahan Kolonial yang ada di depan tadi akhirnya dibongkar. Restorasi kembali dimulai. Hari ini, ketika kami berjalan di pelataran Geunjeongjeon, singgasana yang menjadi jantung kompleks Gyeongbokgung itu kembali berdiri terbuka tanpa penghalang apapun.
![]()
Dari pelataran singgasana itu, sekitar 400 meter ke arah utara, saya dan istri menyempatkan diri berfoto bersama di tepi Hyangwonji, sebuah kolam kecil yang dahulu dirancang khusus untuk peristirahatan keluarga kerajaan. Di tengah kolam itu, berdiri tegak paviliun heksagonal mungil yang dijuluki Hyangwonjeong, yang dalam bahasa Korea berarti “Wanginya Menyebar Jauh.” Paviliun tersebut tetap berdiri tenang di tengah air, seakan tak pernah ada apa-apa selama ratusan tahun ke belakang.
Para penjajah boleh membakar atap-atap istana di negeri ini. Mereka boleh meruntuhkan tembok-tembok kokoh yang melingkari bagian luar bangunan ini. Mereka boleh melarang penggunaan aksara Hangul yang dilahirkan di istana ini. Tetapi ada satu hal yang tak bisa dihancurkan oleh api, palu, atau dekrit kolonial manapun: ingatan sebuah bangsa tentang siapa mereka sebenarnya.
Dan ingatan itu, sebagaimana wangi paviliun di tengah kolam Hyangwonji tadi, hanya menyebar diam-diam,
terlalu jauh untuk dibendung, terlalu hidup untuk dipadamkan.
—————
Lenteng Agung,
9 Juni 2026 – 19.28 WIB
Sejarah Dijaga oleh Mereka yang Ingat.