Suara pengumuman boarding bergema sekali lagi di langit-langit bandara, memanggil kami yang gegas menuju garbarata keberangkatan. Saya meringis tersenyum ke istri yang akan menjadi rekan perjalanan selama sepekan ke depan. Wajah saya terlihat tenang dan gembira, namun sejujurnya menyembunyikan banyak sekali kekhawatiran di kepala.
Pesawat memang tidak pernah menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi saya. Dulu, ketika pertama kali melangkahkan kaki ke luar negeri, saya masih ingat menulis seperti ini dalam tulisan pasca perjalanan saya: “Selagi mungkin, saya jelas akan memilih transportasi lain. Bis, kereta, kapal, mobil pribadi, atau bahkan sepeda motor. Prinsip konyol saya, semua kendaraan yang saya sebutkan di atas tadi masih menyediakan opsi darurat ketika terjadi hal-hal yang tidak diharapkan.” Bertahun kemudian, perasaan takut tersebut masih sama. Hanya saja, kini lebih lihai untuk disembunyikan dengan rapi.
Pagi itu wajar jika saya menabung banyak ketakutan. Penerbangan kali ini akan memakan waktu hingga 5 jam untuk tiba di bandara transit — dua kali lebih lama dari durasi penerbangan terjauh saya selama ini. Ditambah lagi, kami akan pergi ke negara yang sepenuhnya asing. Negara yang bahkan tidak pernah masuk dalam rencana petualangan saya untuk beberapa tahun mendatang.
Jadi, mengapa tiba-tiba Korea Selatan?
Jawabannya sederhana saja. Karena kebetulan tiketnya sedang murah. Hahaha.
Semua bermula pada satu momen makan malam di kitaran daerah Cikini. Saya dan istri sedang membahas rencana libur panjang Idul Adha nanti, ketika mata saya menangkap harga tiket murah Jakarta–Seoul di salah satu aplikasi online. Istri saya seketika antusias. Korea Selatan selalu menjadi salah satu tujuan utama rencana studi S2-nya sedari dulu. Banyak rekan-rekan istri yang juga kebetulan berkuliah di sana.
Diskusi malam itu menjadi pemantik “kenekatan” yang kami lalui selama 2 pekan berikutnya. Sebagai gambaran: kami berangkat di tanggal 24 Mei. Tanggal 7 Mei, usulan Korea Selatan pertama kali menyembul ke permukaan — out of nowhere. Hahaha. Tanggal 9 Mei, kami nekat membeli tiket PP-nya terlebih dulu. Tanggal 11, baru berangkat mengurus visa, sembari banyak-banyak berdoa semoga tidak ada masalah dalam pengajuannya.
![]()
Syukurnya, meskipun cukup mepet, seluruh persiapan dan pengajuan visa tersebut berjalan lancar tanpa hambatan. Syukurnya juga, penerbangan kami berlangsung mulus tanpa terkendala suatu apapun. Kami transit di Fuzhou selama 2 jam, sebelum lanjut 3 jam perjalanan udara menuju tujuan akhir di Seoul.
Perjalanan adalah tentang bagaimana kita berani menghadapi ketakutan maupun ketidakpastian. Siapapun itu, selama ia punya keberanian untuk melangkah maju menantang suatu yang baru, ia berhak untuk merasakan serunya perjalanan.
Ketika duduk di ruang transit bandara, saya silih berganti melihat lalu lalang orang-orang yang mengenakan jenama ternama sebagai identitas visual mereka. Kacamata Chanel. Jam tangan Bvlgari. Tas Gucci. Koper Louis Vuitton. Tapi apakah perjalanan memang tentang semua ke-maha-mahalan tersebut?
Uang memang mampu membeli kenyamanan perjalanan. Tetapi perjalanan itu sendiri tidak pernah menjadi domain eksklusif hanya bagi mereka yang berdompet tebal.
Orang-orang terdahulu yang namanya kini abadi dalam literatur petualangan dunia, sejatinya bukanlah mereka yang berlimpah harta ataupun duduk di singgasana raja. Mereka berangkat justru karena cukup berani untuk melangkah pergi. Bertualang menjemput mimpi-mimpi di cakrawala dunia, dengan berbekal keberanian nekat yang dibungkus tawakal pada-Nya.
Siapa Ibnu Battuta ketika pertama kali ia melangkahkan kaki dari Tangier menuju Mekkah? Ia bukan seorang sultan, bukan pula seorang hartawan. Ia hanya seorang pemuda 21 tahun berbekal tekad dan rasa ingin tahu yang tak sanggup ia bendung. Lalu sepanjang 29 tahun berikutnya, ia menorehkan perjalanan yang bahkan mengalahkan jarak yang pernah ditempuh Marco Polo.
Atau tengok lebih dekat para pelaut Bugis-Makassar yang selama berabad-abad mengarungi lautan Nusantara. Jauh sebelum kapal James Cook menjejak Australia, mereka bahkan sudah lebih dulu menapaki pesisir utara benua itu. Bukan dengan kapal mewah nan megah, melainkan dengan segenap keberanian dan keteguhan yang tiada tanding di hadapan ombak samudera.
![]()
Perjalanan adalah hak semua orang! Kaya-miskin. Muda-tua. Jauh-dekat. Selama ia punya keberanian untuk merentas tabir keraguan dan memintas pekat ketakutan, ia berhak untuk melanglang ke tempat manapun yang hendak ia kunjungi.
Rasa takut itu nyata, Kawan. Sedari awal ia memang ada.
Tapi keberanian selalu sanggup melangkah satu jejak lebih jauh dari ketakutan. Selalu.
—————-
Tebet,
7 Juni 2026 – 20.50 WIB
Tulisan Pertama dari 12 yang Dijanjikan.