Cinta?
Duhai cendekiawan dunia,
sudikah kiranya kalian,
mengabari pemilik hati ini,
arti dari sang cinta?
Ribuan jalan telah kususuri,
tak alpa tuk sapa kanan dan kiri,
bertanya pada mereka para bijak bestari,
tentang apakah arti kata cinta itu?
Ratusan lakon telah kumainkan,
lihai berganti topeng beralih peran,
berburu makna dan jawaban,
dari para alim kehidupan.
Ah, rupa-rupanya hanya tersisa gelengan heran,
saat tiba pertanyaan: Apa itu Cinta?
“Nak, betapa pandir dirimu!
bertanya perihal rasa suka dalam hehati insan,
seakan dunia esok purna akan,
dan kau masih menjadi bujang perawan!”
ejek kalian,
dengan muka bertabur gurauan,
di satu sudut terlupakan suatu peradaban.
“Berapa kali kan kau tanyakan pertanyaan
bodohmu itu, heh?
Cinta itu perkara ringan..
suka asal suka,
lalu terbang ke fantasi surga!
tak ada beban, tak ada duka,
yang ada hanya sepeser harga!
Hahahahahaha”,
teriak kalian penuh tawa,
di hadapan diri yang tegak menghening
bersama sekumpulan dinding dan batu pasar kumuh ini.
Kulanjutkan kembali patahan langkah kaki,
mencari siapalah yang mampu mengabarkan kabar
cerita suci di balik makna cinta hakiki,
dan cerita mengapa ada jutaan lelaki
yang sedia jatuh bangun memperjuangkan satu kata ini.
Hingga tibalah aku di suatu masa,
ribuan hari sesudah permulaan jejak asa,
menghadang di hadapanku seorang renta tua
bertanya, mau kemanakah kisanak muda?
Penuh layu lisan ini berbicara,
aku hanyalah seorang pengembara,
mencari arti cinta penuh bara,
dan kiranya dapat hidup dengan gembira.
Ah, kisanak!
Tak perlu berpanjang lebar mengutarakan,
angin barat lebih cepat mengabarkan,
bahkan bintang gemintang pun turut menceritakan,
perihal dustamu barusan.
Dusta?
Ribuan kali kuucapkan perihal yang sekata
pada mereka yang bertanya bak utusan duta,
Dan, oh, bahkan semesta pun tahu aku tak sedang bermain mata
Hahahahaha, anak muda!
bukan itu yang menjadi tanya,
dan bukan itu pula yang menjadi jawabnya.
Aku sekedar heran, akan kemanakah engkau
pergi sesudah mengerti arti cinta?
Meneruskan jejak?
Melanjutkan garis anak?
Atau pergi mencari sanak?
Atau bahkan berhenti bak induk beranak?
Akan lantas kau kemanakan
jawaban atas pertanyaan
-mu itu?
Ah, aku paham.
Rupa-rupanya ia sedang menyelidiki penuh dalam
maksud dari perjalanan siang malam
milikku ini.
Kisanak!
Apa yang kisanak cari begitu luas,
bak setetes embun di tengah hujan deras,
atau setitik noktah dalam ribuan lembar kertas.
Mari,
ceritakan apa yang menjadi ceritamu,
agar jelas semua keluh kesahmu,
dan terang benderang segala tujuanmu.
Kuberikan telingaku,
maka berikan aku ceritamu,
cerita terbaik agar perjalananmu tak lantas lekang
tertiup bak seonggok debu lalu hilang.
…….
. . . . . . . . .
. . . . . . . . .
Selimut hening masih mengungkung kami,
pilihan serupa yang lagi-lagi tak kusesali.
Aih, tapi ini lain sama sekali,
diamku bukan karena menyimpan senyum simpul tali
ini diam bersebab bingung hendak dari mana mengawali.
Pak tua,
dia adalah seorang wanita mulia,
matanya semarak dengan kilau bercahaya,
kian indah dengan wajah manis berhias sendu,
Dan ah, lengkap sudah alasan mengapa hati ini begitu merindu.
Pak tua,
semenjak kanak kami telah bersua,
rumah tabib kerajaan menjadi saksi mula
tumbuh kembang onak bernama cinta,
di hati lelaki yang kini engkau tanya.
Sekian lama kami berkawan,
hingga tiba misteri takdir penuh jalinan
dan perpisahan jadi suatu keniscayaan.
Aku berkelana dan berteman dengan kicau jalanan,
sedang dia pergi jauh mencari pengetahuan.
Pak tua,
sekian lama kami bercabang jalur,
dan waktu terus bergulir menuakan umur.
Saat itulah takdir kembali lepas dari sang busur,
memunculkan ingatan demi ingatan yang terasa kabur,
dan tiba-tiba semua berubah kelu tiada teratur.
Sungguh, dia tiba di saat tak tepat,
kala tekad merelakan telah mengambil tempat
Pak tua,
kitab-kitab usang banyak menulis
bila cinta tak lebih dari sekedar kegilaan manis,
bikin ketagihan berujung pada kenyataan miris,
Benarkah demikian?
—————————
Indonesia,
9 September 2019