Keping Kehidupan – Chairul Sinaga https://chairulsinaga.me A Note From The Chief Sun, 12 Jul 2026 04:45:05 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=7.0.1 https://chairulsinaga.me/wp-content/uploads/2026/07/cropped-DSC00360-scaled-1-32x32.webp Keping Kehidupan – Chairul Sinaga https://chairulsinaga.me 32 32 Keping Kedua Belas: Ketidaksempurnaan yang Sempurna https://chairulsinaga.me/keping-kehidupan/keping-kedua-belas-ketidaksempurnaan-yang-sempurna/ https://chairulsinaga.me/keping-kehidupan/keping-kedua-belas-ketidaksempurnaan-yang-sempurna/#respond Thu, 14 Jun 2018 12:17:50 +0000 https://chairulsinaga.me/?p=1207 Kita tak sempurna, tak pernah sempurna, dan memang selalu akan tetap tak sempurna. Karena sedari awal, Allah telah takdirkan bahwa ‘kesempurnaan’ bukan sesuatu yang ‘baik’ untuk kita, para anak Adam.

Tak percaya?

Syahdan, dalam hikayat perjalanan bergurunya Nabi Musa ‘alaihissalam kepada Nabi Khidir ‘alaihissalam, sebagaimana termaktub dalam gelaran Surat Al Kahfi 65-82 (monggo, ditadabburi…), ada satu keping cerita yang menarik untuk bersama kita telisik.

Tentang perahu nelayan yang ditumpangi kedua nabi nan sholih tadi, dimana di tengah-tengah pelayaran, tetiba sang Khidir justru malah melubangi dinding kapal tersebut. Padahal untuk menaikinya menuju tujuan di seberang, mereka berdua tak sedikitpun dimintai upah oleh para pemilik perahu.

Merasa ada yang ganjil, maka Musa dengan perawakannya yang tegas lagi keras, bergegas menayakan maksud dari perbuatan tersebut kepada sang Guru : “Mengapa engkau lubangi perahu itu? Apakah engkau hendak menenggelamkan penumpangnya? Sungguh, engkau telah berbuat suatu kesalahan yang besar...” (Al Kahfi : 71)

Menurut ayat berikutnya, Khidir memang tak langsung menjawab tanya barusan. Karena di awal pertemuan kedua utusan Allah tersebut, telah terjadi kesepakatan dimana Musa tak sekalipun diperkenankan mempertanyakan arti dari perbuatan-perbuatan Khidir hingga tiba waktunya bagi penjelasan itu sendiri.

Tapi di akhir hikayat nanti, kita tentu tahu bersama bahwa sejatinya perbuatan beliau tadi adalah upaya untuk menyelamatkan nasib para nelayan pemilik perahu. Karena di belakang mereka ada penguasa lalim yang gemar bertindak semena-mena, mengambil kapal-kapal yang terlihat indah dan sempurna untuk kemudian dijadikan sebagai milik pribadinya.

Sehingga cela berupa lubang itu, -lewat bisikan wahyu langit tentunya-, sesungguhnya merupakan ikhtiar Khidir dalam membantu mereka, agar dengan cacat yang diberikan di dindingnya, perahu-perahu tadi dapat terselamatkan dari perampasan sepihak penguasa setempat. Apalagi, nelayan-nelayan tersebut pun secara kasat duniawi memang termasuk para fakir miskin yang menggantungkan mata pencaharian keluarga mereka semata hanya dari penghasilan melaut saja.

Maka dari sini kita bisa belajar bersama, bahwa ‘kesempurnaan’, boleh jadi ternyata lebih banyak mendatangkan madharat (bahaya) daripada yang kita sadari selama ini.

Sebagaimana halnya kapal para nelayan di atas, -yang kesempurnaannya justru mengundang tindakan zhalim dari raja-, kesempurnaan pada kita selaku makhluk biasa pun, boleh jadi hanya malah mengundang segenap iri dari para sesama, membawa benci dari orang-orang sekitar, dan menjadikan diri kita sebagai titik sasaran yang manusia lain berbondong-bondong menjungkalkannya ke tanah.

Pun kesempurnaan, jika ditelisik lebih jauh, malah kian mendekatkan diri kita pada fitnah sombong maupun riya’, membawa kita melangkah lebih dekat pada jurang sum’ah dan puji-pujian. Niat tak lagi ikhlas, ibadah sholih tak lagi bersebab karena Allah semata.

Lihatlah Iblis la’natullah. Bukankah awal mula dia terusir dari surga karena merasa dirinya lebih ‘sempurna’ dari Adam yang sekedar diciptakan dari segumpal tanah liat?

Maka boleh jadi, -hanya Allah yang tahu hakikat sebenarnya-, kisah Khidir dan Musa di awal tadi, juga merupakan isyarat dari langit, bila selama ini Allah sekalipun tak pernah meminta kita untuk menjadi sempurna SEUTUHNYA. Karena kesempurnaan sejati hanyalah patut disandarkan kepada-Nya. Namun, Allah hanya meminta kita untuk berusaha semampu kita: “Mas tatho’tum“, “semampu kalian”, untuk kemudian saling berlomba (fastabiqul khairat) dalam gelaran amal kesholihan dan timbangan kebaikan.

Dari ketidaksempurnaan yang kita miliki itulah, kita kemudian terus dan terus berusaha menjadi lebih baik. Berbenah meningkatkan diri dari setiap salah yang melekat, agar kian berkurang setiap cela kita di hadapan Rabb Yang Maha Melihat.

Dari ketidaksempurnaan itulah kita bertolak bangkit dan mencari peluang baru, mendobrak batas agar tak lantas terkekang di satu kulminasi nan membosankan.

Juga dari ketidaksempurnaan itulah kita kemudian sadar, bahwa kita hanyalah sekedar makhluk biasa yang tak luput dari silap dan juga khilaf. Agar kita, yang kumpulan dari darah dan daging ini senantiasa merasa rendah hati, tak berbesar kepala di hadapan sesama insan, sambil mengutamakan prasangka baik seakan diri kita lah yang paling berkekurangan amal di dunia ini.

Dan terakhir, diakui ataupun tidak, ketidaksempurnaan itulah yang pada akhirnya membuat diri kita ‘sempurna’ sebagai manusia seutuhnya. Lengkap dengan semua perangai baik maupun buruknya.

Jadi, kawanku, jelang hari kemenangan ini, bersyukurlah kita untuk setiap ketidaksempurnaan yang kita miliki. Agar kita dapat terus bergerak menuju kebaikan yang lebih purna, untuk menuju sebaik-baik hamba nan bertakwa di sisi Dia Yang Maha Mencipta.

o-●-o-●-o-●-o-●

NB : Sama halnya dengan kita semua. Tulisan ini pun juga tak pernah mencapai derajat sempurna. Karena tulisan yang sempurna, hanyalah tulisan yang tak pernah dibuat sama sekali. 😉

o-●-o-●-o-●-o-●

Masjid Namira – Bis Mira,
29 Ramadhan 1439 H
Dari Tanah Berkah Penuh Cinta

]]>
https://chairulsinaga.me/keping-kehidupan/keping-kedua-belas-ketidaksempurnaan-yang-sempurna/feed/ 0
Keping Kesebelas: Simpul Semangat https://chairulsinaga.me/keping-kehidupan/keping-kesebelas-simpul-semangat/ https://chairulsinaga.me/keping-kehidupan/keping-kesebelas-simpul-semangat/#respond Mon, 11 Jun 2018 09:37:41 +0000 https://chairulsinaga.me/?p=1210

“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali..”

~(Surat An-Nahl (16) : 92)~

o-●-o-●-o-●-o-●

Jangan kasih kendor! Terhadap semua simpul amal sholih yang telah kita seksamai bersama dalam Ramadhan tahun ini, jangan kasih kendor!

Sudahi dahulu semua gelisah yang mendera sanubari terdalam lautan hati kita, juga menyandera raga kita dalam badai keraguan yang tak kunjung berkesudah. Sudahi dahulu seluruh khilaf maupun silap, yang terkumpul bersama segenap maksiat kala lupa maupun ingat. Sudahi dahulu riuh-gaduh rutinitas penduduk dunia yang membuat kita terlena dari sunyi senyapnya 10 malam terakhir di bulan suci Ramadhan tahun ini.

Karena kini, kita telah tiba di penghujung waktu, detik penentuan dimana kesimpulan itu pasti akan ditanyakan : sejauh mana Ramadhan menjadi makna bertakwa bagi kita yang mengaku beriman?

Maka jangan kasih kendor! Agar semoga keping demi keping perjalanan pencarian tentang siapa sesungguhnya jati diri kita ini tak lantas hilang begitu saja, namun sebaliknya menyatu secara utuh menjadi bagian dari perbaikan terhadap segenap kurangnya jiwa kita saat ini.

Juga jangan kasih kendor! Karena sungguh, di hari-hari inilah, sepatutnya kita menyadari betapa teramat sedikitnya bekal takwa kita menuju kampung akhirat kelak, betapa tak siapnya kita untuk menemui Pencipta kita, pun betapa banyaknya hutang dosa yang harus segera kita lunasi sebelum tiba masa pengadilan kita nanti.

Kawan, jangan kasih kendor di 4 hari nan ujung ini.

Untuk para pejuang I’tikaf, pemburu malam-malam Lailatul Qadr dimanapun berada: Tetaplah semangat, Tetaplah berjuang! Bahkan hingga detik terakhir bulan Ramadhan! Untuk terus dan terus menumpuk berbagai amal sholih, melipatgandakan beragam jariyah kebaikan, dan mengikis sebanyak mungkin rupa keburukan yang menghiasi catatan hidup kita masing-masing.

Pun bagi segenap para saudara/saudari kita yang belum bisa beritikaf tahun ini, sekalipun rutinitas kesibukan jelang lebaran menjadikan jasad kita belum sempat beradu kasih dengan Allah di masjid tercinta, setidaknya semoga ada hati yang kita titipkan di dalamnya. Berharap agar meski sekalipun kita jauh secara fisik dari rumah-rumah Allah, namun semoga hidayah maupun barokah Allah tetap senantiasa berdekatan dengan jiwa serta raga kita, menuntun kita menuju keselamatan dunia pula akhirat kelak.

Semoga dan semoga, ikhwahku sekalian. Agar kita di Ramadhan kali ini, Allah perkenankan untuk merasakan akhir yang baik, penghujung penuh barokah, mengantarkan kita pada ketakwaan sejati, dan menjadikan kita diri pribadi yang lebih mumpuni.

Allahumma Amiin. Semoga dan semoga, saudaraku tercinta.

o-●-o-●-o-●-o-●

Masjid Namira,
26 Ramadhan 1439 H
Tanah Berkah Tempat Banyak Kebaikan

]]>
https://chairulsinaga.me/keping-kehidupan/keping-kesebelas-simpul-semangat/feed/ 0