Itinerarium – Chairul Sinaga https://chairulsinaga.me A Note From The Chief Sat, 11 Jul 2026 19:25:56 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=7.0.1 https://chairulsinaga.me/wp-content/uploads/2026/07/cropped-DSC00360-scaled-1-32x32.webp Itinerarium – Chairul Sinaga https://chairulsinaga.me 32 32 Gyeongbokgung: Istana dan Aksara yang Menolak Dilupakan https://chairulsinaga.me/itinerarium/gyeongbokgung-istana-dan-aksara-yang-menolak-dilupakan/ https://chairulsinaga.me/itinerarium/gyeongbokgung-istana-dan-aksara-yang-menolak-dilupakan/#respond Thu, 11 Jun 2026 18:11:17 +0000 https://chairulsinaga.me/?p=1155 “Where do you come from?”
“Aaahh, Indonesia. Good country. Good country…”
“Sini, sini, kamu pilih dulu…nanti saya bantu pasangkan…”

Dengan bahasa Indonesia terbata-bata — yang sampai akhir pun saya masih penasaran setengah mati dari mana ia mempelajari kosakata “ajaib” tersebut — laki-laki muda yang menjadi pemilik tempat kami menyewa hanbok pagi itu menyapa kami dengan ramah, lalu memandu kami memilih di antara koleksi yang berjajar rapi di etalasenya.

Untuk pria, terdapat 3 macam tema hanbok yang tersedia: king, prince, dan warrior. Saya memilih setelan prince berwarna biru dongker (sayang sekali tidak ada pilihan hitam ala grim reaper, *ups hahaha). Sedangkan istri saya memilih hanbok putri berwarna pink muda. Memang tidak terlalu kompak secara warna, tetapi bagian terpentingnya adalah tentang kebersamaan dan kenyamanan, bukan? Hehehe…

Staf toko membantu kami mengenakan hanbok dengan berbagai pernak-pernik aksesoris pelengkapnya. Setelah itu, kami melangkah mantap menuju tujuan utama hari itu: Gyeongbokgung Palace. Bersama para wisatawan lain yang juga baru keluar dari toko-toko penyewaan di sepanjang jalan, rasanya kami seperti serombongan penduduk Joseon zaman dahulu yang terlempar ke abad modern, melintas kikuk di antara keramaian lalu lintas kota Seoul.

Tapi tak mengapa. Ada banyak alasan untuk menggunakan hanbok di hari pertama kami di negara ini. Selain karena busana ini merupakan ciri khas ketika berkunjung ke Korea Selatan, alasan utama lainnya adalah untuk mendapatkan akses masuk gratis ke Gyeongbokgung.

GRATIS, itu benar. Untuk mengakses kompleks istana, tersedia 2 jalur masuk bagi para pengunjung. Pertama, jalur reguler dengan tarif sekitar 3.000 won. Kedua, jalur khusus yang gratis bagi siapapun yang mengenakan hanbok. Sebuah strategi yang cerdas, saya pikir. Kebijakan ini, selain untuk mengapresiasi dan melestarikan budaya negeri ini dengan penuh keanggunan, juga menjadi daya tarik wisatawan agar bisa merasakan langsung atmosfer sejarah di istana terbesar di Seoul ini.

Kami tiba sekitar pukul 10 pagi, bertepatan ketika upacara pergantian penjaga gerbang kerajaan (Sumunjang Gyodae Uisik) sedang berlangsung. Para penjaga berseragam Joseon berbaris dalam formasi yang presisi diiringi tabuh genderang tradisional. Wajah-wajah mereka serius meski di bawah terik matahari musim panas. Seakan ingin mengutarakan bahwa seluruh rangkaian tradisi ini merupakan warisan turun-temurun yang harus dijaga dengan sehormat mungkin. Untuk sesaat, tangan saya berhenti mengabadikan momen, berdiri takzim memandangi kemegahan latar suasana di sekitar.

Tentang Gyeongbokgung, syahdan, kompleks istana ini lahir dari ambisi sebuah peradaban yang baru saja menemukan dirinya. Tahun 1395, Raja Taejo membangunnya sebagai pusat ibukota Dinasti Joseon yang baru saja berdiri. Dari tembok-tembok yang sama inilah, beberapa dekade kemudian, Raja Sejong yang Agung — dua generasi setelah Raja Taejo — merumuskan sesuatu yang akan menjadi salah satu warisan paling abadi dari Korea: Aksara Hangul.

Source Image: seoulina.com

Sebelum adanya Hangul, bangsa Korea menulis dengan Hanja, aksara Cina nan rumit yang butuh bertahun-tahun untuk dipelajari. Praktis aksara ini hanya bisa dikuasai oleh kaum bangsawan yang ketika itu memang memiliki akses pendidikan lebih tinggi. Padahal Hanja sendiri sejatinya adalah aksara untuk bahasa Cina, bukan untuk bahasa Korea. Bunyi-bunyi yang sehari-hari hidup di lidah orang Korea, sering kali tidak bisa direpresentasikan dengan tepat oleh karakter Cina.

Maka di tahun 1443, Raja Sejong mengumpulkan para sarjana terbaiknya untuk merumuskan aksara baru. Mereka mempelajari anatomi mulut: bagaimana mulut bekerja saat mengucapkan bunyi, bagaimana lidah menempel ke langit-langit, bagaimana bibir membentuk huruf, dan bagaimana udara mengalir dari kerongkongan. Dari pendekatan tersebut, lahirlah sebuah sistem yang terdiri dari 28 huruf yang sederhana dan metodis. Dirancang khusus agar siapa saja, baik itu petani, pedagang, perempuan, maupun anak-anak, dapat membacanya dalam hitungan hari, bukan tahun.

Itu, sekitar enam ratus tahun yang lalu. Hari ini, di setiap sudut Seoul yang kami telusuri, aksara Hangul masih hidup dengan penuh semarak. Di papan toko, di nota belanja, di kemasan camilan yang istri saya beli. Aksara yang sama, yang dulu dirumuskan dari bilik-bilik istana Gyeongbokgung ini, sekarang telah menjadi bagian identitas yang mengikat satu bangsa. Menggenapi sejarah panjang di belakang, seakan ia adalah sebentuk deklarasi tegas: bahwa rakyat juga punya hak yang sama untuk membaca, untuk menulis, untuk merekam suara mereka sendiri.

Tapi sejarah, sebagaimana yang kita semua tahu, tidak pernah berjalan lurus.

Tahun 1592, Perang Imjin pecah ketika Jepang menginvasi Semenanjung Korea. Istana Gyeongbokgung yang saya lihat hari ini terbakar habis. Selama hampir tiga abad lamanya, istana ini dibiarkan tergeletak dalam reruntuhan. Baru di tahun 1867, di bawah arahan Heungseon Daewongun, restorasi besar-besaran dilakukan. 330 bangunan dibangkitkan ulang dari nol.

Namun, setelah Jepang mencaplok Korea di tahun 1910, Gyeongbokgung kembali dibongkar secara sistematis. Lebih dari sembilan puluh persen bangunannya dirobohkan. Gedung Pemerintahan Kolonial didirikan tepat di depan singgasana raja-raja Joseon, sengaja memblokir pemandangan dari gerbang utama. Bahkan Maharani Permaisuri Myeongseong sendiri dibunuh di kamarnya pada pagi buta 8 Oktober 1895, lalu jasadnya dibakar di hutan pinus terdekat.

Perang memang kejam. Dan kekejaman tersebut tidak hanya berhenti pada kehancuran arsitektur semata, tetapi juga berusaha untuk menghapus identitas sebuah bangsa. Pada masa pendudukan yang sama, bahasa Korea dilarang diajarkan di sekolah-sekolah. Murid-murid diwajibkan berbicara bahasa Jepang dalam keseharian mereka. Nama-nama marga Korea pun diganti paksa dengan nama-nama Jepang.

Apakah itu semua berhasil? Nope.
Tidak ada yang bisa mengalahkan ingatan kolektif bangsa dengan ribuan tahun sejarah.

Hangul bertahan diam-diam, diajarkan di rumah-rumah, dilestarikan di komunitas-komunitas yang menolak melepaskan bahasa ibu mereka. Gyeongbokgung pun, meski sempat hanya tersisa segelintir bangunan, ingatan tentangnya tidak pernah benar-benar luntur dari kesadaran bangsa Korea.

Di tahun 1995, bertepatan dengan lima puluh tahun pembebasan Korea, Gedung Pemerintahan Kolonial yang ada di depan tadi akhirnya dibongkar. Restorasi kembali dimulai. Hari ini, ketika kami berjalan di pelataran Geunjeongjeon, singgasana yang menjadi jantung kompleks Gyeongbokgung itu kembali berdiri terbuka tanpa penghalang apapun.

Hyangwonji

Dari pelataran singgasana itu, sekitar 400 meter ke arah utara, saya dan istri menyempatkan diri berfoto bersama di tepi Hyangwonji, sebuah kolam kecil yang dahulu dirancang khusus untuk peristirahatan keluarga kerajaan. Di tengah kolam itu, berdiri tegak paviliun heksagonal mungil yang dijuluki Hyangwonjeong, yang dalam bahasa Korea berarti “Wanginya Menyebar Jauh.” Paviliun tersebut tetap berdiri tenang di tengah air, seakan tak pernah ada apa-apa selama ratusan tahun ke belakang.

Para penjajah boleh membakar atap-atap istana di negeri ini. Mereka boleh meruntuhkan tembok-tembok kokoh yang melingkari bagian luar bangunan ini. Mereka boleh melarang penggunaan aksara Hangul yang dilahirkan di istana ini. Tetapi ada satu hal yang tak bisa dihancurkan oleh api, palu, atau dekrit kolonial manapun: ingatan sebuah bangsa tentang siapa mereka sebenarnya.

Dan ingatan itu, sebagaimana wangi paviliun di tengah kolam Hyangwonji tadi, hanya menyebar diam-diam,
terlalu jauh untuk dibendung, terlalu hidup untuk dipadamkan.

—————

Lenteng Agung,
9 Juni 2026 – 19.28 WIB
Sejarah Dijaga oleh Mereka yang Ingat.

]]>
https://chairulsinaga.me/itinerarium/gyeongbokgung-istana-dan-aksara-yang-menolak-dilupakan/feed/ 0
Annyeonghaseyo: Tiba-Tiba Korea https://chairulsinaga.me/itinerarium/annyeonghaseyo-tiba-tiba-korea/ https://chairulsinaga.me/itinerarium/annyeonghaseyo-tiba-tiba-korea/#respond Mon, 08 Jun 2026 12:45:15 +0000 https://chairulsinaga.me/?p=1143 Suara pengumuman boarding bergema sekali lagi di langit-langit bandara, memanggil kami yang gegas menuju garbarata keberangkatan. Saya meringis tersenyum ke istri yang akan menjadi rekan perjalanan selama sepekan ke depan. Wajah saya terlihat tenang dan gembira, namun sejujurnya menyembunyikan banyak sekali kekhawatiran di kepala.

Pesawat memang tidak pernah menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi saya. Dulu, ketika pertama kali melangkahkan kaki ke luar negeri, saya masih ingat menulis seperti ini dalam tulisan pasca perjalanan saya: “Selagi mungkin, saya jelas akan memilih transportasi lain. Bis, kereta, kapal, mobil pribadi, atau bahkan sepeda motor. Prinsip konyol saya, semua kendaraan yang saya sebutkan di atas tadi masih menyediakan opsi darurat ketika terjadi hal-hal yang tidak diharapkan.” Bertahun kemudian, perasaan takut tersebut masih sama. Hanya saja, kini lebih lihai untuk disembunyikan dengan rapi.

Pagi itu wajar jika saya menabung banyak ketakutan. Penerbangan kali ini akan memakan waktu hingga 5 jam untuk tiba di bandara transit — dua kali lebih lama dari durasi penerbangan terjauh saya selama ini. Ditambah lagi, kami akan pergi ke negara yang sepenuhnya asing. Negara yang bahkan tidak pernah masuk dalam rencana petualangan saya untuk beberapa tahun mendatang.

Jadi, mengapa tiba-tiba Korea Selatan?
Jawabannya sederhana saja. Karena kebetulan tiketnya sedang murah. Hahaha.

Semua bermula pada satu momen makan malam di kitaran daerah Cikini. Saya dan istri sedang membahas rencana libur panjang Idul Adha nanti, ketika mata saya menangkap harga tiket murah Jakarta–Seoul di salah satu aplikasi online. Istri saya seketika antusias. Korea Selatan selalu menjadi salah satu tujuan utama rencana studi S2-nya sedari dulu. Banyak rekan-rekan istri yang juga kebetulan berkuliah di sana.

Diskusi malam itu menjadi pemantik “kenekatan” yang kami lalui selama 2 pekan berikutnya. Sebagai gambaran: kami berangkat di tanggal 24 Mei. Tanggal 7 Mei, usulan Korea Selatan pertama kali menyembul ke permukaan — out of nowhere. Hahaha. Tanggal 9 Mei, kami nekat membeli tiket PP-nya terlebih dulu. Tanggal 11, baru berangkat mengurus visa, sembari banyak-banyak berdoa semoga tidak ada masalah dalam pengajuannya.

Syukurnya, meskipun cukup mepet, seluruh persiapan dan pengajuan visa tersebut berjalan lancar tanpa hambatan. Syukurnya juga, penerbangan kami berlangsung mulus tanpa terkendala suatu apapun. Kami transit di Fuzhou selama 2 jam, sebelum lanjut 3 jam perjalanan udara menuju tujuan akhir di Seoul.

Perjalanan adalah tentang bagaimana kita berani menghadapi ketakutan maupun ketidakpastian. Siapapun itu, selama ia punya keberanian untuk melangkah maju menantang suatu yang baru, ia berhak untuk merasakan serunya perjalanan.

Ketika duduk di ruang transit bandara, saya silih berganti melihat lalu lalang orang-orang yang mengenakan jenama ternama sebagai identitas visual mereka. Kacamata Chanel. Jam tangan Bvlgari. Tas Gucci. Koper Louis Vuitton. Tapi apakah perjalanan memang tentang semua ke-maha-mahalan tersebut?

Uang memang mampu membeli kenyamanan perjalanan. Tetapi perjalanan itu sendiri tidak pernah menjadi domain eksklusif hanya bagi mereka yang berdompet tebal.

Orang-orang terdahulu yang namanya kini abadi dalam literatur petualangan dunia, sejatinya bukanlah mereka yang berlimpah harta ataupun duduk di singgasana raja. Mereka berangkat justru karena cukup berani untuk melangkah pergi. Bertualang menjemput mimpi-mimpi di cakrawala dunia, dengan berbekal keberanian nekat yang dibungkus tawakal pada-Nya.

Siapa Ibnu Battuta ketika pertama kali ia melangkahkan kaki dari Tangier menuju Mekkah? Ia bukan seorang sultan, bukan pula seorang hartawan. Ia hanya seorang pemuda 21 tahun berbekal tekad dan rasa ingin tahu yang tak sanggup ia bendung. Lalu sepanjang 29 tahun berikutnya, ia menorehkan perjalanan yang bahkan mengalahkan jarak yang pernah ditempuh Marco Polo.

Atau tengok lebih dekat para pelaut Bugis-Makassar yang selama berabad-abad mengarungi lautan Nusantara. Jauh sebelum kapal James Cook menjejak Australia, mereka bahkan sudah lebih dulu menapaki pesisir utara benua itu. Bukan dengan kapal mewah nan megah, melainkan dengan segenap keberanian dan keteguhan yang tiada tanding di hadapan ombak samudera.

Perjalanan adalah hak semua orang! Kaya-miskin. Muda-tua. Jauh-dekat. Selama ia punya keberanian untuk merentas tabir keraguan dan memintas pekat ketakutan, ia berhak untuk melanglang ke tempat manapun yang hendak ia kunjungi.

Rasa takut itu nyata, Kawan. Sedari awal ia memang ada.
Tapi keberanian selalu sanggup melangkah satu jejak lebih jauh dari ketakutan. Selalu.

—————-

Tebet,
7 Juni 2026 – 20.50 WIB
Tulisan Pertama dari 12 yang Dijanjikan.

]]>
https://chairulsinaga.me/itinerarium/annyeonghaseyo-tiba-tiba-korea/feed/ 0
Itinerarium: Gunung Tangkuban Perahu https://chairulsinaga.me/itinerarium/gunung-tangkuban-perahu/ https://chairulsinaga.me/itinerarium/gunung-tangkuban-perahu/#respond Fri, 02 Jan 2026 19:17:38 +0000 https://chairulsinaga.me/?p=1081 Ada tempat-tempat yang begitu dekat, sampai kita lupa untuk benar-benar mendatanginya.

Gunung Tangkuban Perahu ini jaraknya hanya kitaran sekian jam dari Ibukota Jakarta. Tetapi baru di perjalanan singkat pada pertengahan tahun kemarin, saya akhirnya berkesempatan berhenti, menatap, dan hadir sepenuhnya di gunung legenda tersebut. Singgah di sela-sela kepulangan ke Bandung, bukan dengan rencana besar, hanya sekedar mencari ruang bernapas di tengah kepenatan kerja kala itu.

Kami tidak lama berhenti memandangi kawah di sana. Gerimis tipis turun perlahan, bau belerang semakin terasa, menandai sore yang berjalan tanpa tergesa. Anehnya, justru dalam waktu sesingkat itu, perjalanan ini terasa utuh. Tidak untuk mengejar apa pun, selain menikmati jeda dalam dalam alur kehidupan yang terus bergerak.

Mungkin, tidak semua perjalanan perlu jauh.
Sebagian hanya perlu diberi waktu.

Selamat datang 2026.

]]>
https://chairulsinaga.me/itinerarium/gunung-tangkuban-perahu/feed/ 0