Chief’s Note – Chairul Sinaga https://chairulsinaga.me A Note From The Chief Mon, 13 Jul 2026 20:47:49 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=7.0.1 https://chairulsinaga.me/wp-content/uploads/2026/07/cropped-DSC00360-scaled-1-32x32.webp Chief’s Note – Chairul Sinaga https://chairulsinaga.me 32 32 Chief’s Note: Mengapa Niat Baik Sering Gagal Bertahan https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-mengapa-niat-baik-sering-gagal-bertahan/ https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-mengapa-niat-baik-sering-gagal-bertahan/#respond Mon, 22 Dec 2025 13:00:50 +0000 https://chairulsinaga.me/?p=1258 Saya pernah 3 tahun tinggal dan menjadi guru pengabdian di salah satu sekolah pesantren di pelosok Maninjau, Sumatera Barat. Kehidupan di sana cukup berat. Akses serba terbatas dikepung danau dan hutan lebat Pulau Andalas. Gajinya juga kecil, bahkan sering terlambat dibayarkan, sehingga cukup sulit menemukan tenaga SDM yang sedia mengajar di sana. Tetapi ketika itu, saya merasa sangat bahagia. Sebab mampu berdiri bangga di atas idealisme masa muda, hidup berkawan langsung makna tangguh dan ikhlas.

Bertahun kemudian, melalui serangkaian proses pendewasaan kehidupan, saya menyadari banyak hal baru. Idealisme tanpa kesiapan dan pengetahuan yang cukup bisa menjadi sebentuk keangkuhan terselubung.

Di satu titik ketika dulu tinggal di Maninjau, saya pernah menganggap diri saya sudah laik untuk disebut guru inovatif karena mampu menghadirkan berbagai jurus mengajar nan kreatif untuk para siswa di kelas. Saya sempat mengira diri saya sudah “cukup”, tak perlu berkuliah tinggi karena merasa telah mencapai kriteria guru nan ideal versi saya sendiri.

Belakangan saya menyadari bahwa asumsi itu keliru. Saya abai memahami bahwa kapasitas sesungguhnya diri saya belum mencapai level tersebut. Saya lupa hakikat guru terbaik justru adalah mereka yang tak berhenti belajar hal-hal baru. Itu betul. Boleh jadi saya adalah katak dalam tempurung ketika itu.

Pengalaman tersebut menjadi sumber energi saya untuk terus berbenah hingga hari ini. Saya masih belum menyerah dengan impian saya untuk memajukan dunia pesantren yang menjadi tempat saya bertumbuh dan menemukan makna hidup. Saya masih menyimpan cita melihat pesantren-pesantren di Indonesia menjadi mercusuar peradaban masyarakat madani, tempat nilai-nilai kebaikan dan pengetahuan ditempa bersama. Saya ingin suatu hari nanti kembali berkontribusi ke posisi tersebut. Tetapi sebelum itu, saya menyadari masih harus terus belajar dan mengumpulkan bekal perjalanan.

Inovasi tidak dapat lahir dari semangat semata. Ia memerlukan desain. Ia membutuhkan lingkungan yang mendukung serta akumulasi modal —pengetahuan, pengalaman, sumber daya finansial— yang memadai agar sebuah gagasan bisa bertahan dan tumbuh menemukan bentuk terbaiknya. Keadaan saya ketika mengabdi di Maninjau, masih sangat jauh dari prasyarat barusan. Niat saya mungkin baik dan tulus, tetapi kemampuan saya belum cukup untuk merancang perubahan yang mampu hidup melampaui kehadiran saya sendiri.

Tempo hari, ketika mengikuti agenda Youth Action Forum (YAF) di Bali, saya turut merenungkan perihal ini. Banyak gagasan baik kandas bukan karena niatannya keliru, melainkan karena ia dijalankan dalam ekosistem yang belum siap menumbuhkannya. Ide-ide perubahan, untuk bisa bermekar menghasilkan dampak berkelanjutan, tidak cukup hanya sekedar digerakkan oleh individu-individu baik semata, tetapi tetap membutuhkan sistem yang mampu menopang, merawat, dan mereplikasi kebaikan tersebut. Inilah yang kemudian saya pahami sebagai kesadaran sistem.

Persoalan sosial yang seringkali menjadi pemantik lahirnya inovasi, selalu berkelindan erat dengan kebijakan pemerintah, struktur ekonomi masyarakat, pola pendidikan, hingga budaya yang telah mengendap.

Apa yang saya lakukan di Maninjau, dengan berusaha menghadirkan proses pembelajaran yang menyenangkan dan berbasis pemahaman, mungkin memang membantu menyelesaikan satu-dua persoalan di permukaan. Namun boleh jadi, itu hanyalah pucuk dari sebuah gunung es (iceberg). Bisa digunakan untuk menjawab tantangan di depan mata, tetapi tentu belum cukup menyentuh akar permasalahan sesungguhnya (root cause).

Oleh karena itu, ada kalanya kita memang perlu berhenti sejenak. Menarik napas, lalu bertanya lebih dalam: sistem apa yang membuat masalah ini terus berulang? Bagian mana yang sesungguhnya perlu diperbaiki agar inovasi perubahan dapat bertahan bahkan ketika kita tidak lagi hadir di sana?

Inovasi tidak pernah berdiri di ruang hampa. Ia selalu bergantung pada konteks sosial dimana ia dilahirkan. Inovasi adalah tentang bagaimana sebuah gagasan perubahan ditempatkan di dalam sistem yang tepat. Banyak upaya perubahan gagal bukan karena inovasinya lemah, tetapi karena sistem di sekitarnya belum memberi ruang untuk inovasi itu hidup, —mulai dari keterbatasan kebijakan pendukung, kurang kuatnya kapasitas sumber daya manusia, hingga minimnya mekanisme pembiayaan yang berkelanjutan. Tanpa dukungan itu semua, inovasi bak seperti eksperimen sesaat: menarik di awal, namun perlahan layu sebelum sempat menghasilkan dampak yang bertahan lama.

Di sisi lain, penting juga untuk dicatat bahwa tidak selamanya inovasi-inovasi yang berfokus pada solusi di permukaan itu keliru dan sia-sia. Banyak juga inisiatif di level ini yang justru berhasil membuka mata publik dan menggerakkan kesadaran awal. Aksi-aksi seperti yang dilakukan Pandawara, misalnya, sangat efektif membangun awareness masyarakat terhadap isu lingkungan dan perilaku membuang sampah.

Theory U Iceberg

Soucer: Youtube Suara Hati Bangsa

Namun jika dilihat melalui kerangka iceberg dalam Theory U, kerja-kerja semacam ini umumnya masih berada di level kejadian dan pola perilaku yang tampak di permukaan. Ia penting sebagai pemantik, tetapi belum cukup untuk menyentuh lapisan yang lebih dalam—mental model, kebijakan, dan sistem yang membuat persoalan serupa terus berulang dari waktu ke waktu. Di titik inilah, kerja di balik layar untuk memperbaiki sistem menjadi krusial agar perubahan tidak berhenti sebagai respons sesaat.

Oleh karena itu, alih-alih saling menegasikan peran, mari kita sekarang saling berbagi posisi. Seperti halnya ikhtiar kita bersama dalam membangun dan memajukan dunia pesantren. Ada yang setia menjaga nyala dari dalam pesantren, —memastikan nilai, adab, dan pengetahuan terus hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Ada pula yang, pada fase tertentu, belajar melengkapi pandangan dari luar, —memahami cara kerja kebijakan, pengelolaan sumber daya, hingga dinamika kolaborasi lintas kepentingan.

Di satu titik kita pasti akan bertemu dan saling membutuhkan.  Berkolaborasi menuju apa yang menjadi impian kita semua: membangun dan memajukan pesantren supaya bisa bersama-sama menghadirkan inovasi yang mampu bertahan, berakar, dan menciptakan dampak berkelanjutan bagi masyarakat Indonesia.

———————–

Cipete,
22 Desember 2025 – 00.14
Menutup Lembaran 2025

]]>
https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-mengapa-niat-baik-sering-gagal-bertahan/feed/ 0
Chief’s Note: Local Challenges Require Local-First Solutions https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-local-challenges-require-local-first-solutions/ https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-local-challenges-require-local-first-solutions/#respond Fri, 21 Nov 2025 19:29:54 +0000 https://chairulsinaga.me/?p=1190 Di Dampak Sosial Indonesia (DSI), kami percaya bahwa “local challenges require local-first solutions.” Setiap tantangan yang tumbuh dari tanah Indonesia, pada akhirnya membutuhkan solusi yang berakar dari potensi dan partisipasi anak negeri itu sendiri.

Keyakinan inilah yang membimbing perjalanan DSI selama beberapa kurun terakhir. Kami mencoba fokus pada penguatan jejaring lokal, bekerja bersama para penggerak komunitas, fasilitator daerah, serta masyarakat yang setiap hari berjuang dalam realitas sosialnya masing-masing. Salah satu program utama DSI, yaitu Community Hub hadir di berbagai daerah dengan semangat tersebut: ruang belajar, ruang bertumbuh, sekaligus ruang berinovasi yang dibentuk dari pemahaman mendalam terhadap konteks lokal.

Dan di tahun ini, perjalanan tersebut mendapatkan tambahan energi baru. Melalui NAMA Foundation, -sebuah lembaga filantropi internasional yang berfokus pada penguatan sektor pendidikan dan organisasi masyarakat sipil di berbagai belahan dunia-, DSI memperoleh kepercayaan untuk memperluas salah satu inisiatif strategis kami di Serasi Community Hub, Cipanas. Dukungan ini memungkinkan DSI untuk memperkuat program-program yang kita siapkan guna menjawab tantangan lokal yang terjadi di tengah masyarakat sekitar, mulai dari kesenjangan digital yang dialami para ibu rumah tangga hingga keterbatasan akses pelatihan vokasi bagi para pemuda putus sekolah.

Penyerahan Penghargaan BSF NAMA Foundation 2025

Di DSI, kami melihat masyarakat bukan sekadar hitungan penerima manfaat. Mereka hadir sebagai co-creators perubahan, -ikut merancang, menggerakkan, dan menjaga keberlanjutan inisiatif yang mereka bangun bersama. Melalui pengembangan ekosistem kreator berbasis komunitas dan ruang inkubasi keterampilan kerja, kami berupaya membuka peluang ekonomi baru yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan relevan dengan konteks lokal masyarakat Cipanas.

Perjalanan DSI masih panjang. Namun selama kita tetap bergandeng tangan dengan potensi lokal dan bergerak bersama komunitas, niscaya langkah kecil hari ini dapat berubah menjadi gerakan besar di masa depan. Terima kasih untuk NAMA Foundation atas dukungan dan kepercayaannya kepada DSI!

——————-

Kopte Tarik,
20 November 2025 – 10.42 WIB
Merawat Harapan, Membersamai Impian

]]>
https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-local-challenges-require-local-first-solutions/feed/ 0
Chief’s Note : Frieren dan Bagaimana Mimpi-Mimpi Kita Bekerja https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-frieren-dan-bagaimana-mimpi-mimpi-kita-bekerja/ https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-frieren-dan-bagaimana-mimpi-mimpi-kita-bekerja/#respond Sat, 21 Jun 2025 13:04:58 +0000 https://chairulsinaga.me/?p=1069 Tahun 2025 sudah hampir berjalan separuh usia kalender. Berapa dari kita yang masih merasa semangat dengan resolusi yang telah dibuat di awal tahun kemarin? Sebagian mungkin masih merasa antusias mengejar target-target yang perlu dituntaskan, namun tentu tak sedikit pula yang justru mulai hilang arah, terjebak dalam rutinitas yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

Setiap dari kita pasti punya impian. Punya cita-cita dan setumpuk harapan. Bahkan itulah yang membuat manusia menjadi manusia. Tetapi kenyataan lalu datang dan membenturkan kita dengan realita hidup yang kita hadapi saat ini. Di saat itulah, satu pertanyan penting hadir dan mengemuka, “Seluruh impian barusan, apakah kita benar-benar bisa membayangkan diri kita menggenggamnya suatu hari nanti? Apakah itu sesungguh ingin atau sekedar angan?”

Bicara soal imajinasi dan batasan, saya jadi teringat salah satu anime terbaik di tahun 2024 yang layak untuk kita bahas bersama. Berjudul Sousou no Frieren (Frieren the Slayer), anime ini berhasil menduduki peringkat pertama di MyAnimeList dengan lebih dari 650.000 voters dari seluruh dunia (ini bukan promosi btw, hehehe). Ceritanya berkutat  tentang karakter bernama Frieren, seorang penyihir elf berumur panjang, yang melakukan perjalanan keliling dunia guna memahami makna kehidupan setelah kematian sahabat-sahabat manusianya.

Nah, dalam anime Sousou no Frieren, ada satu konsep menarik yang ingin saya ceritakan di sini. Tentang sihir di dunia Frieren yang tidak bisa berfungsi jika user-nya tidak mampu membayangkan dirinya menggunakan sihir tersebut.

Salah satu contoh yang paling mencolok dalam anime ini adalah ketika Ritcher, seorang penyihir yang menguasai elemen tanah, dikalahkan secara instan oleh Kanne, seorang penyihir air, hanya karena hujan turun di tempat dimana mereka bertarung. Ritcher kalah bukan karena sihir tanah lebih lemah dari air (dia awalnya sangat mendominasi pertarungan sebelum turun hujan), melainkan karena dalam pikirannya sendiri, Ritcher tidak bisa membayangkan dirinya menang melawan penyihir air dalam kondisi hujan. Pada titik tersebut, ia sudah kalah bahkan sebelum pertarungan usai. Terhalang batas imajinasi dan keyakinan yang kemudian menumpulkan peluang kemenangannya.

Sekarang mari kita bawa konsep ini ke dalam kehidupan nyata. Berapa banyak dari kita yang bermimpi menjadi seorang yang hebat, tetapi bahkan tidak bisa membayangkan berada di posisi tersebut?

Kita bermimpi menjadi seorang presiden, tetapi apakah kita benar-benar bisa membayangkan diri kita berada di sebuah rapat kabinet, bersiap memutuskan kebijakan negara yang dengan satu tanda tangan pengesahan dari kita akan mempengaruhi hidup jutaan rakyat negeri? Kita ingin keliling dunia, tetapi pernahkah kita benar-benar membayangkan diri kita berdiri di tengah kota Buenos Aires, atau menikmati angin gersang di atas gurun Sahara? Jika kita tidak bisa membayangkan diri kita ada di sana, apakah mimpi itu benar-benar sesuatu yang kita yakini bisa terjadi, atau hanya sekadar angan kosong?

Imajinasi bukan hanya sekadar fantasi. Imajinasi adalah stimulus, sesuatu yang dapat merangsang jiwa untuk bergegas bangkit dan melakukan aksi nyata.

Dengan membayangkan diri kita berada di titik yang ingin kita capai, otak kita akan mulai memetakan kemungkinan-kemungkinan yang harus kita tempuh untuk sampai ke tujuan nan jauh di sana. Itu akan membantu kita membangun setumpuk kesadaran. Apa saja yang harus disiapkan? Apa saja yang harus mulai dipelajari? Siapa orang-orang yang harus kita temui sedari sekarang? Kebiasaaan apa yang harus mulai kita ikhtiarkan?

Jika bahkan kita sendiri tidak pernah bisa melihat diri kita berada di titik impian, bagaimana mungkin kita bisa mulai melangkahkan kaki untuk menuju ke arah garis akhir tersebut ya, kan? Ingat, siapapun yang sama sekali tidak tahu akan pergi kemana, ia tentu tidak akan pernah pergi kemana-mana. Untuk menggunakan kompas dan peralatan navigasi, kita harus tahu terlebih dahulu titik yang akan dituju.

Dan ajaibnya, ajaran Islam juga menguatkan kita pada gagasan tersebut. Dalam salah satu hadis qudsi, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman bahwa Dia bersama prasangka hamba-Nya. Jika kita tidak pernah menanamkan keyakinan bahwa kita mampu mencapai sesuatu, lalu bagaimana mungkin Allah akan mengabulkan doa-doa yang bahkan tidak kita yakini sendiri? Jika kita ragu pada diri kita sendiri, bukankah itu sama saja dengan ragu pada takdir yang bisa Allah tetapkan untuk kita?

Maka mungkin, kunci paling awal dari sebuah mimpi bukanlah rencana, bukan juga eksekusi. Tetapi ialah  membayangkan—melihat diri kita berdiri di nun jauh sana, sedang tersenyum meraih apapun bentuk mimpi-mimpi tersebut. Itulah keyakinan paling asasi. Prasangka paling dasar. Imajinasi yang membantu memperjelas segala rencana serta ikhtiar eksekusi, mendorong kita melewati segala halang rintangan.

Tahun 2025 sudah berjalan hampir separuh habis. Yakin masih mau begini-begini saja?

—————————-

Jagakarsa,
21 Juni 2025 – 02.44
Lintasan Lengkung Roket Angkasa

]]>
https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-frieren-dan-bagaimana-mimpi-mimpi-kita-bekerja/feed/ 0
Chief’s Note : Benjamin Franklin Effect https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-benjamin-franklin-effect/ https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-benjamin-franklin-effect/#respond Wed, 15 Jan 2025 13:07:48 +0000 https://chairulsinaga.me/?p=1074 Benjamin Franklin, salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Amerika Serikat, pernah menyadari sebuah hal unik dalam interaksinya bersama orang lain.

Dalam otobiografinya, Franklin menceritakan bahwa suatu ketika ia berusaha mendapatkan dukungan dari seseorang yang selama ini dikenal sebagai musuh politiknya. Alih-alih menawarkan bantuan atau imbalan besar, Franklin justru meminta tolong kepada pria tersebut untuk meminjamkannya sebuah buku langka dari koleksi yang ia miliki. Permintaan -yang bahkan menurut standar kita hari ini- terkesan sangat sepele dan sederhana.

Namun ajaibnya, setelah mengembalikan buku tersebut kepada sang pemilik dan mengucapkan terima kasih nan tulus melalui secarik surat, Franklin malah mendapati bahwa si musuh politik tersebut berubah menjadi seorang teman yang akrab. “Dia yang sebelumnya tak pernah berbicara dengan saya,” tulis Franklin, “justru menjadi seseorang yang dengan ramah menyapa saya, dan siap membantu saya di kesempatan selanjutnya.

Dari sinilah konsep Benjamin Franklin Effect bermula. Sebuah gagasan bahwa orang lain cenderung semakin menyukai kita setelah mereka melakukan kebaikan untuk kita. Terasa aneh, bukan? Karena biasanya, kitalah yang seharusnya makin menyukai seseorang karena mereka telah berbuat baik kepada kita. Bukan malah sebaliknya, ya kan?

Tetapi fenomena tersebut benar adanya, dan dunia psikologi punya penjelasan ilmiah untuk kita pelajari bersama.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 1969 oleh Jon Jecker dan David Landy, fenomena ini kembali divalidasi. Mereka mengamati bahwa partisipan yang diminta melakukan kebaikan sederhana justru kemudian mereka merasa lebih dekat dengan orang yang mereka bantu. Secara tak sadar, mereka mulai membangun alasan dalam diri mereka: “Kenapa ya saya melakukan kebaikan ini? Oh, boleh jadi karena saya memang menyukai orang itu.

Benjamin Effect ini juga bisa dipahami lebih luas melalui teori cognitive dissonance yang dicetuskan oleh Leon Festinger. Saat kita melakukan sesuatu yang bertentangan dengan keyakinan awal kita—seperti menolong orang yang mungkin tak kita sukai—pikiran kita cenderung mengatasi disonansi tersebut dengan cara merevisi perasaan kita tentang orang tersebut. Kita mulai meyakini bahwa kita sebenarnya menyukai mereka, karena itulah mengapa kita mau menolong mereka.

Nah, dalam konteks kepemimpinan, konsep ini bisa menjadi sebuah media berharga. Kita mungkin seringkali berpikir bahwa untuk menjadi pemimpin yang baik, kita harus menjelma bak sinterklas: sosok serba bisa yang dapat menyelesaikan seluruh masalah; seorang figur yang selalu hadir dengan membawa segudang solusi. Namun itu tidak tepat. Ada saatnya, justru dengan meminta bantuan, kita dapat membangun hubungan yang lebih erat dengan anggota tim. Ketika kita memberikan ruang bagi orang lain untuk membantu, mereka merasa lebih dihargai dan diakui kontribusinya. Ini yang kemudian akan menciptakan perasaan kepemilikan terhadap tanggung jawab keberhasilan tim nantinya.

Contoh sederhanya seperti ini. Bayangkan kita sedang meng-handle sebuah project di tempat kerja kita. Sebagai pemimpin, kita berusaha meminta masukan dari anggota tim lainnya dalam beberapa urusan yang discuss-able. Bukan hanya demi formalitas belaka, tetapi kita benar-benar bersungguh mengajak mereka untuk ikut urun memberikan solusi serta pemikiran terbaik demi kemajuan project. Maka apa yang terjadi dari skenario ini?

Anggota akan merasa lebih dihargai, lebih merasa lebih diikutsertakan. Setelah seluruh upaya yang mereka tuangkan untuk memikirkan masukan tersebut, kesediaan kita -sebagai pemimpin- untuk menerima dan bahkan mempertimbangkan masukan dari mereka, akan membuat anggota merasa bahwa kontribusi mereka diakui. Sehingga pada akhirnya mendorong mereka untuk lebih partisipatif ketika ada kesempatan-kesempatan berikutnya di masa mendatang.

Momen seperti di atas merupakan contoh Benjamin Franklin Effect dalam ihwal kepemimpinan. Alih-alih selalu tampil sebagai “pemimpin kuat” yang menyelesaikan semua masalah sendiri, kita justru bisa mengundang anggota tim untuk turut membantu dan urun bersuara. Dan ini bukan tanda kelemahan, melainkan sebuah strategi cerdas untuk membangun ikatan yang lebih dalam.

Tetapi perlu diingat juga, bahwa Benjamin Franklin Effect tidak boleh lantas dipahami sebagai alat manipulasi. Sebagai seorang pemimpin, kita perlu membangun garis batas etika yang jelas. Kita harus sepenuhnya menyadari, bahwa meminta kebaikan dari orang lain seharusnya didorong dari niatan tulus untuk menciptakan rasa kebersamaan dan kesatuan, bukan justru untuk mengeksploitasi kerentanan emosi mereka. Dalam kepemimpinan, kejujuran harus tetap menjadi pondasi utama.  Memanfaatkan efek ini sebagai sarana manipulatif justru akan merusak kepercayaan tim dan membuat hubungan menjadi tidak tulus.

Mari kita tidak ragu meminta bantuan kecil dari rekan-rekan kita. Siapa tahu, kebaikan sederhana semisal itu bisa menjadi awal dari hubungan yang lebih hangat dan penuh makna—bukan hanya dalam kepemimpinan, tapi dalam setiap aspek kehidupan kita. Siapa tahu, itu juga bisa menjadi kunci pemantik guna menciptakan kolaborasi yang lebih kuat serta bermanfaat ke depannya. Karena setelah dipikir-pikir, Benjamin Franklin Effect sejatinya adalah sesuatu yang lahir dari hakikat kemanusiaan itu sendiri : ketika satu kebaikan melahirkan kebaikan lainnya.

 

———————-

Perpustakaan Nasional,
15 Januari 2025 – 18.45 WIB
Mari Memikirkan Masa Depan

]]>
https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-benjamin-franklin-effect/feed/ 0
Chief’s Note: Leadership dan Tantangan Pendidikan Indonesia https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-leadership-dan-tantangan-pendidikan-indonesia/ https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-leadership-dan-tantangan-pendidikan-indonesia/#respond Tue, 20 Aug 2024 06:00:57 +0000 https://chairulsinaga.me/?p=1252 Beberapa waktu lalu, saya mengikuti pelatihan Pra-Lokakarya Kebijakan Pendidikan Indonesia yang diinisiasi oleh Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK) di Paragon Hall, Jakarta Selatan. Dalam kegiatan tersebut, saya hadir sebagai fasilitator program mewakili Maxima Impact Consulting bersama beberapa rekan kerja lainnya.

Salah satu sesi yang menurut saya menarik untuk dibagikan di sini adalah sesi pemaparan bersama Bapak Iwan Syahril, Direktur Jenderal Paud, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Kemendikbudristek. Beliau menyampaikan banyak sekali insight menarik seputar kondisi dunia pendidikan kita hari ini.

Saat ini pemerintah melihat bahwa permasalahan utama pendidikan di Indonesia bukan sekedar tentang pemerataan jumlah akses pendidikan saja. Karena bila hanya bicara tentang kuantitas akses pendidikan semata, selama beberapa tahun terakhir, angka partisipasi sekolah di Indonesia sudah menunjukkan persentase yang cukup tinggi (lihat gambar).

Tetapi skor tinggi tersebut belum diikuti pemerataan akses pendidikan yang BERKUALITAS dan BERKEADILAN untuk semua anak Indonesia. Masih banyak anak-anak yang secara “jasadiyah” mereka sudah mengikuti program pendidikan di sekolah, tetapi masih menunjukkan kompetensi minim dalam hal literasi dan numerasi.

Kalau kata Bu Itje Chodidjah, Ketua Dewan Pakar PSPK yang kemarin juga mengisi materi bersama Pak Iwan, “Schooling Yes! Learning No!“.

Untuk menyikapi problem di atas, salah satu strategi utama yang hendak diterapkan pemerintah adalah meningkatkan kualitas SDM tenaga pendidik dengan berfokus pada sosok-sosok pemimpin lokal (kepala sekolah, kepada dinas, dsb) sebagai agent of change. Sehingga diharapkan, dengan adanya peningkatan kualitas leader, para leader tersebut dapat meng-encourage tenaga pendidik lainnya untuk kemudian pada akhirnya meningkatkan kualitas proses pembelajaran bersama peserta didik nantinya.

Pak Iwan kemudian menceritakan success story yang sempat beliau temui di salah satu SMP di daerah Papua Barat. Pak Arby, kepala sekolah di instansi tersebut, berhasil mengubah sekolah yang dulunya dikenal sebagai sekolah buangan -tempat anak-anak mabuk dan nakal disekolahkan-, menjadi salah satu sekolah yang aktif menorehkan prestasi. Dan itu semua dimulai dari semangat Pak Arby dalam menginisiasi perubahan, dimulai dari mengubah paradigma berpikir para guru di sana. Kisah tentang Pak Arby bahkan sempat diliput beberapa media nasional. Salah satunya ialah berita di sini

Overall, saya merasa sangat senang dapat mengikuti sesi pelatihan tersebut. Selain menghadirkan beragam insight dalam dunia pendidikan, ini juga selaras dengan salah satu visi Maxima Impact Consulting yang ingin memfasilitasi transformasi pemimpin melalui inisiatif berdampak serta berkelanjutan.

Terima kasih atas sesi luar biasanya, dan semoga bermanfaat!

—————-

Jakarta Selatan,
15 Safar 1446 H – 14.00
Indonesia Kita Bersama.

]]>
https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-leadership-dan-tantangan-pendidikan-indonesia/feed/ 0
Chief’s Note: Memberi dan Mencuri https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-memberi-dan-mencuri/ https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-memberi-dan-mencuri/#respond Fri, 18 Sep 2020 19:00:56 +0000 https://chairulsinaga.me/?p=1254 Semenjak meninggalkan tanah rantau Maninjau, saya punya prinsip, bahwa dimanapun kita nanti berada, kita harus selalu bisa “memberi” dan “mencuri”.

Memberi“, dalam arti keberadaan kita mampu meninggalkan sumbangsih kebaikan, menitipkan karya kebermanfaatan, serta menghadirkan beragam makna positif bagi mereka yang di sekitar.

Lalu “mencuri“, dalam arti dimanapun nanti kita berada, kita harus lihai berpandai diri mengambil jejak-jejak pengalaman dari orang lain, belajar dari kisah kehidupan mereka mereka guna mengimbuhi khazanah keilmuan seorang kita pribadi.

Di FIM Jakarta sendiri, dalam kurun waktu kurang dari 1 tahun, saya tahu bahwa saya tak akan mampu “memberi” sebanyak yang saya angankan. Namun karena itulah, saya justru menyadari, bahwa saya tak boleh sampai melewatkan kesempatan ini untuk “mencuri” sebanyak-banyaknya.

Aji mumpung selagi bernaung di FIM, selagi bertemu orang-orang hebat nan luar biasa, ya sekalian-kan saja, bung! Belajar sebanyak-banyaknya! Merengkuh segala-galanya! Berakselerasi sejauh-jauhnya! “Mencuri” dengan sepenuh kehormatan. Untuk mencapai titik yang lebih tinggi.

Lalu pertanyaan berikutnya, selama beberapa bulan menjadi Volunteer di FIM Jakarta, apa-apa saja yang sudah berhasil saya ‘curi’ dari mereka? 

Aha. Saya tersenyum.

Di FIM Jakarta, saya belajar menyeksamai keberanian dalam bermimpi, perihal kesungguhan dalam bertekad.

Saya bertemu orang-orang yang dengan penuh lantang mentargetkan cita-cita mereka untuk menjadi menteri Indonesia suatu hari nanti. Orang-orang dengan ambisi besar, yang berani bermimpi untuk menjadi yang terbaik di bidang mereka masing-masing.

Chief's Note: Memberi dan Mencuri

Dan di FIM Jakarta, itu dianggap lumrah. Biasa saja. Karena −ini yang membuat saya kian bertambah takjub-, tak ada seorangpun yang lantas menertawakan mimpi-mimpi sehebat itu, atau menganggapnya sebagai suatu hal mustahil di luar jangkauan. Alih-alih melakukan hal tersebut, yang ada malah justru semua dengan senang hati saling mendukung dan memberi bantuan. Bahkan di salah satu diskusi internal, saya turut mendengar seorang senior yang ringan menyarankan, “Kalau memang mau jadi menteri, ya itu udah bener jalur karirnya seperti sekarang, bro. Karena rekam jejak menteri kita yang hari ini, kalau dilihat-lihat, ya dulunya pun beliau merintis dari bidang ini.”

Saya kembali tersenyum. Di FIM Jakarta, hal pertama yang saya ‘curi’ adalah tentang keberanian melihat hari esok, lalu kesenangan dari memiliki orang-orang yang bermimpi dan bercita-cita sama hebatnya dengan apa yang sedang kita perjuangkan bersama. Itu luar biasa, bukan? Ehe.

Di FIM Jakarta, saya juga turut belajar tentang keberanian dalam berkarya. Karena orang-orang yang saya temui disana, hampir semuanya merupakan mereka yang telah fokus berkecimpung pada satu bidang tertentu. Dan oleh karena itu, mereka terbilang cukup produktif untuk terus bekerja keras melahirkan karya-karya hebat sesuai bidang mereka masing-masing.

Ada tenaga kesehatan yang selalu fokus memperdalam kemampuan mereka dalam penanganan pasien. Ada penulis yang setiap tahun selalu mentargetkan menghasilkan sekian buku. Ada relawan sosial yang sedang merintis jalan untuk bisa membantu saudara-saudara di Palestina. Ada desainer grafis yang selalu berhasil membuat kami terpukau dengan coretan gambar mereka. Ada juga orang-orang yang sedang mengasah bekal terbaik mereka sebelum melanjutkan studi ke luar negeri.

Itu semua sangat spesial. Kerja keras setiap dari mereka. Fokus dan determinasi tiap-tiap orang. Untuk mewarnai masa muda dengan beragam warna kebaikan sesuai bidang mereka masing-masing.

Dan bagi saya seorang, “mencuri” semangat dari mereka itulah yang kemudian membantu saya untuk terus yakin sepenuhnya dengan bidang yang saya geluti saat ini. Untuk terus menulis. Untuk terus beridealis. Untuk terus berjalan melahirkan kontribusi kebermanfaatan.

Hingga suatu hari nanti, jejak-jejak itulah yang akan disambut sebagai karya seorang kita bersama tatkala telah genap meninggalkan panggung dunia.

Di FIM Jakarta, saya juga belajar dari dekat perihal manajemen organisasi. Tentang menghadirkan kehangatan kekeluargaan, sehingga mereka yang pendiam pun tak lagi merasa asing untuk sekadar bertegur sapa dan bertukar balasan. Tentang kepedulian untuk mencari tahu hal-hal terbaik apa yang dapat kita lakukan demi menciptakan kenyamanan bersama di tim. Tentang keseimbangan untuk menempatkan semua sesuai dengan porsinya masing-masing, agar program dapat tetap berjalan dengan sepenuh profesionalitas, namun senyum serta bahagia jangan sampai hilang terbawa cemberut akibat sengkarut pekerjaan.

Aha. Menyatukan hati sesama rasanya memang menyenangkan. Dan itulah yang saya pelajari dari kebersamaan selama berkomunitas dan berorganisasi di FIM Jakarta. Karena ketika itu genap terbangun, percayalah, hari-hari berikutnya sekalipun dipenuhi penat rapat pekerjaan, akan selalu terasa membahagiakan, akan selalu terasa menyenangkan.

Menarik, bukan?

Masih ada banyak cerita-cerita lainnya yang belum saya tuliskan disini. Tentang “memberi” dan “mencuri”. Tentang momentum-momentum luar biasa selama membersamai FIM Jakarta sebagai Volunteer tahun 2020. Tapi sengaja tak saya cantumkan disini, dengan harapan dapat memberikan ruang bagi segenap pembaca untuk turut merasakan ketertarikan guna bergabung bersama jaringan FIM dimanapun Anda berada.

Karena semua keseruan tersebut, saya percaya, tak akan pernah cukup hanya dengan sekadar dituliskan dan diperdengarkan saja. Sebagaimana cinta, perasaan ketika merasakannya secara langsung-lah yang membuat cerita-cerita tersebut berkesan seumur hidup. Termasuk FIM itu sendiri.

Selamat Melanglang.

————-

Tanjung Barat,
28 Muharram 1442 – 21.01
Sebentuk Ucapan Terima Kasih.

]]>
https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-memberi-dan-mencuri/feed/ 0
Chief’s Note: Kita Berkarya dengan Membawa Nama Orang-Orang yang Percaya pada Kita https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-kita-berkarya-dengan-membawa-nama-orang-orang-yang-percaya-pada-kita/ https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-kita-berkarya-dengan-membawa-nama-orang-orang-yang-percaya-pada-kita/#respond Sun, 30 Aug 2020 20:00:22 +0000 https://chairulsinaga.me/?p=1248 Satu kesempatan, saya terlibat dalam project organisasi yang terbilang cukup prestise. Proker terakhir, paling akbar, warisan pekerjaan dari pengurus sebelumnya, yang selama ini kami hindari karena skalanya terlalu besar bagi sumber daya kami ketika itu.

Namun salah seorang sahabat dekat berhasil membujuk saya. Katanya, “Gampang kok, tingal set set set, jadi deh.” Karena dia mengatakannya dengan begitu meyakinkan, plus dia juga berjanji untuk ikut serta membantu bagian terberat, maka saya pun akhirnya luluh dan merasa tertantang.

Kami berdua kemudian bersalaman pertanda optimis. Ketika itu saya sebagai ketua tim hanya tersenyum nyengir. Sedangkan anggota kami, hanya bisa terperangah setengah tak percaya menyaksikan saya yang setuju untuk memulai project tersebut.

Waktu berlalu. Dan tentunya, bicara memang selalu lebih mudah ketimbang kenyataan di lapangan.

H-5, progress kemajuan masih sangat sedikit. 20% bahkan kurang. Anggota tim banyak yang terbentur beragam kesibukan dan kendala lain.

Saya bingung setengah mati. Kepada wakil tim yang mendampingi saya ketika itu, saya bahkan berujar sudah hampir menyerah dengan keadaan. Putus asa. Padahal pelaksanaan proker sudah kami umumkan ke mana-mana. Sore itu saya bahkan katakan kepadanya, “Ini kepala saya berasa dipenggal kalau gagal“. Haha. Se-frustasi itu memang. Dan se-malu itulah kami jika ternyata ini semua batal terlaksana.

Namun justru di titik nadir seperti saat itulah, satu sudut pandang baru menyeruak dari dalam pemikiran saya.

Bahwa kita berkarya bukan sekedar membawa nama baik bagi diri kita sendiri. Namun juga turut mempertaruhkan nama baik dari sahabat-sahabat kita, dari orang-orang yang sedia percaya kepada kita, dari tim tempat kita menitip ruang bertumbuh serta berjuang.

Tentang kepercayaan, kita mengemban sepenuhnya amanah dari orang-orang yang mendukung dan mengikuti kita. Kebanggaan mereka. Pilihan mereka. Mimpi-mimpi mereka.

Jika semua itu gagal dikarenakan satu yang terdepan jatuh terjerembab, kepada siapakah salah terbesar patut dialamatkan?

Wahai, sekalipun badai mengguncang begitu kencang, batas waktu seakan menggerus mengejar tiada henti, satu-satunya pilihan hanyalah maju mengembangkan layar menerjang rintangan: kita belum boleh menyerah.

Proyek tadipun akhirnya tetap terus berlanjut. Apa yang tertera dalam kitab suci tersebut? Akan selalu ada kemudahan sebakda kesukaran? Ah, dengan segala hormat, itu benar sekali kiranya, tuan dan puan.

Entah bagaimana cara yang kami tempuh ketika itu, di hari H, proyek tersebut genap berhasil terlaksana dengan gemilang. Menutup buku, mengakhiri catatan perjalanan kepengurusan kami selama 1 tahun memegang amanah.

Hari yang membanggakan! Dimana kami dapat tersenyum tegak karena tak satupun program kerja kami tertinggal di belakang. Begitu puas! Penuh gairah dan euforia!

Di saat itulah, saya kemudian menjadikan gagasan tersebut sebagai bagian dari idealisme yang saya usung. Sebuah prinsip. Tentang kehormatan, tentang harga diri, dari kita sebagai seorang petarung.

Untuk tidak luruh menyerah terhadap segala komitmen yang telah kita iyakan, untuk tidak mendulang malu bagi orang-orang yang kita beri respek kepada mereka, untuk tetap setia pada arti kepercayaan itu sendiri.

Kita berkarya bukan sekedar membawa identitas diri kita pribadi. Melainkan juga turut mengemban nama mereka-mereka yang sedia berjasa bagi kita hingga detik ini.

Itulah arti perjuangan, setidaknya bagi seorang saya.

—————

Ibukota,
11 Muharram 1442 H – 06.16
Terima Kasih.

]]>
https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-kita-berkarya-dengan-membawa-nama-orang-orang-yang-percaya-pada-kita/feed/ 0