Chief’s Note – Chairul Sinaga https://chairulsinaga.me A Note From The Chief Sat, 18 Jul 2026 16:35:27 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=7.1 https://chairulsinaga.me/wp-content/uploads/2026/07/cropped-DSC00360-scaled-1-32x32.webp Chief’s Note – Chairul Sinaga https://chairulsinaga.me 32 32 Chief’s Note: Intention Tree di Youth Action Forum 5.0 https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-intention-tree-di-youth-action-forum-5-0/ https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-intention-tree-di-youth-action-forum-5-0/#respond Mon, 29 Dec 2025 16:30:53 +0000 https://chairulsinaga.me/?p=1316 Sesi Intention Tree di pagi itu, -pagi yang mengawali 5 hari kebersamaan kami di Bali- dibuka oleh fasilitator dengan pertanyaan pemantik yang membuat saya terdiam barang sejenak, “Apa niatan yang membawamu hadir dalam kegiatan ini? Apa yang kamu cari? Tujuan apa yang ingin kamu capai?

Sebagai pertanyaan pemantik, well, saya tentu sudah sering menyimak kalimat barusan. Di beberapa kesempatan, saya-lah yang bahkan membantu mengelaborasi pertanyaan tersebut kepada peserta-peserta yang sedang mengikuti pelatihan/mentoring bersama lembaga kami.

Tetapi pagi tersebut, ketika dihadapkan pada pertanyaan yang sama, saya malah terhenyak diam.  Bukan karena pertanyaannya kurang jelas atau saya kesulitan memahami konteksnya. Tetapi sebaliknya, karena saya sangat memahami latar belakang pertanyaan tersebut, saya justru kesulitan menemukan jawaban paling otentik dalam diri saya.

Ah iya, ya. Jauh-jauh berangkat ke Pulau Dewata ini, sebenarnya apa yang hendak saya temukan?

Lidah saya kaku. Hati saya kelu. Saya khawatir, jangan-jangan alasan kehadiran saya hanya sedangkal ego, -sekedar perlu diberi makan dengan embel-embel “delegasi terpilih perwakilan pemuda Indonesia”. Saya merenung beberapa saat, berusaha menemukan jawaban yang tepat. Tepat dalam arti jujur dan otentik. Seirama dengan panggilan hati. Senada dengan karsa dalam berkarya.

Hingga kemudian tangan saya perlahan mantap menulis tiga kalimat pada lembaran post-it yang tersedia: “Untuk melihat Indonesia yang lebih luas. Untuk mencari peluang dan mitra kolaborasi aksi. Untuk bersama-sama menciptakan dan menghadirkan ekosistem kepemimpinan muda Indonesia.

Saya menuliskan apa yang saya inginkan, atau lebih tepatnya, apa yang sebetul saya harapkan. Ketiganya mewakili tingkatan yang disarankan oleh panitia, yaitu niatan yang mencerminkan hasrat pondasi diri (akar), niatan yang menggambarkan bagaimana saya menjembatani diri dengan sistem (batang), serta niatan yang melukiskan harapan aksi saya dalam sistem (daun).

Ada pepatah yang mengatakan, bahwa kita akan dipertemukan dengan apa yang kita cari sedari awal. Boleh jadi pepatah itu ada benarnya. Karena voila, siapa yang akan tahu, pada hari ketika saya menuliskan refleksi ini, dua dari tiga kalimat niatan di atas telah terwujud dengan begitu baik.

Melihat Indonesia lebih luas? Ah, siapa sangka, 5 hari kebersamaan tersebut membawa saya berkawan akrab dengan sosok-sosok hebat dari Sabang sampai Merauke. Saya bahu membahu mengerjakan persiapan Cultural Night bersama Bang Fauzul dari Aceh, satu kamar bersama Bang Zen dari Maluku, duduk bersebelahan di shuttle bus bareng Mas Rian dari Poso, bertukar pengalaman dengan Bang Akbar dari Palangka Raya, berboncengan motor menuju sholat Jumat bersama Bang Rinaldi dari Sulawesi Selatan, hingga meminjam motor berkeliling Pulau Dewata dari Mbak Nadia di Bali. Dan masih banyak sosok luar biasa lainnya yang tak mungkin saya tuliskan satu per satu kisah mereka di sini.

Pertemuan-pertemuan itu memang terbilang singkat, tetapi cukup untuk membuka mata saya melihat Indonesia dari sudut pandang yang lebih luas. Mengisi gelas kosong yang saya miliki dengan cerita-cerita inspiratif dari para sejawat nan hebat.

Lalu, ajaibnya, obrolan-obrolan santai tersebut ternyata mengantarkan saya pada niatan tujuan kedua. Pasca sepulang dari YAF 5.0, kami kini tengah asyik menjajaki beberapa peluang kolaborasi dan kemitraan bersama. 1 project sudah mulai berjalan, 2 hingga 3 lainnya menyusul sedang kita ikhtiarkan sebaik mungkin, insya allah. Saat ini, kita telah memasuki era co-creation. Jika bisa bergandeng tangan, mengapa harus bergerak sendiri-sendiri ya, kan? Hehehe

Hanya tinggal keinginan ketiga yang memang betul belum terlihat juntrungannya. Dan itu wajar.  Sejak awal, ketika menuliskan frasa “ekosistem kepemimpinan muda Indonesia”, saya sepenuhnya sadar bahwa harapan tersebut tidak mungkin terwujud dalam waktu singkat. Namun sebagaimana dua niatan sebelumnya, -yang alhamdulillah sama-sama terwujud dengan begitu indah-, saya haqqul yaqin bahwa keinginan tersebut hanya tinggal menunggu waktu sebelum perlahan menemukan bentuknya di permukaan.

Chief's Note: Intention Tree di Youth Action Forum 5.0

Saya percaya itu. Karena Youth Action Forum 5.0 kemarin memang bukan sekedar ajang pertemuan 50 delegasi pemuda dari seluruh Indonesia. Ia juga menyatukan pikiran, hati, dan keyakinan kami bersama: bahwa harapan itu masih ada. Hope is still with us.

Untuk memperbaiki keadaan negeri ini, kita perlu ikut andil menjadi bagian dari sistem. Bukan dengan berdiri di luar dan mengutuk keadaan, tetapi dengan menjadi penggerak akar rumput, —memimpin dengan meninggalkan pendekatan ego-sentris berbasis ke-aku-an dan beralih menuju eco-leadership yang mengedepankan kesadaran sistemik, keberlanjutan dampak, serta kesejahteraan bersama sebagai tujuan utama kepemimpinan.

Selama kita meyakini hal tersebut, saya kira, cepat atau lambat keinginan ketiga saya itu akan tercapai seiring berjalannya waktu. Tinggal tunggu waktu saja.

————————–

Jagakarsa,
28 Desember 2025 – 16.52
Sebuah Rasa Syukur

 

Chief's Note: Intention Tree di Youth Action Forum 5.0

 

]]>
https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-intention-tree-di-youth-action-forum-5-0/feed/ 0
Chief’s Note: Mengapa Niat Baik Sering Gagal Bertahan https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-mengapa-niat-baik-sering-gagal-bertahan/ https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-mengapa-niat-baik-sering-gagal-bertahan/#respond Mon, 22 Dec 2025 13:00:50 +0000 https://chairulsinaga.me/?p=1258 Saya pernah 3 tahun tinggal dan menjadi guru pengabdian di salah satu sekolah pesantren di pelosok Maninjau, Sumatera Barat. Kehidupan di sana cukup berat. Akses serba terbatas dikepung danau dan hutan lebat Pulau Andalas. Gajinya juga kecil, bahkan sering terlambat dibayarkan, sehingga cukup sulit menemukan tenaga SDM yang sedia mengajar di sana. Tetapi ketika itu, saya merasa sangat bahagia. Sebab mampu berdiri bangga di atas idealisme masa muda, hidup berkawan langsung makna tangguh dan ikhlas.

Bertahun kemudian, melalui serangkaian proses pendewasaan kehidupan, saya menyadari banyak hal baru. Idealisme tanpa kesiapan dan pengetahuan yang cukup bisa menjadi sebentuk keangkuhan terselubung.

Di satu titik ketika dulu tinggal di Maninjau, saya pernah menganggap diri saya sudah laik untuk disebut guru inovatif karena mampu menghadirkan berbagai jurus mengajar nan kreatif untuk para siswa di kelas. Saya sempat mengira diri saya sudah “cukup”, tak perlu berkuliah tinggi karena merasa telah mencapai kriteria guru nan ideal versi saya sendiri.

Belakangan saya menyadari bahwa asumsi itu keliru. Saya abai memahami bahwa kapasitas sesungguhnya diri saya belum mencapai level tersebut. Saya lupa hakikat guru terbaik justru adalah mereka yang tak berhenti belajar hal-hal baru. Itu betul. Boleh jadi saya adalah katak dalam tempurung ketika itu.

Pengalaman tersebut menjadi sumber energi saya untuk terus berbenah hingga hari ini. Saya masih belum menyerah dengan impian saya untuk memajukan dunia pesantren yang menjadi tempat saya bertumbuh dan menemukan makna hidup. Saya masih menyimpan cita melihat pesantren-pesantren di Indonesia menjadi mercusuar peradaban masyarakat madani, tempat nilai-nilai kebaikan dan pengetahuan ditempa bersama. Saya ingin suatu hari nanti kembali berkontribusi ke posisi tersebut. Tetapi sebelum itu, saya menyadari masih harus terus belajar dan mengumpulkan bekal perjalanan.

Inovasi tidak dapat lahir dari semangat semata. Ia memerlukan desain. Ia membutuhkan lingkungan yang mendukung serta akumulasi modal —pengetahuan, pengalaman, sumber daya finansial— yang memadai agar sebuah gagasan bisa bertahan dan tumbuh menemukan bentuk terbaiknya. Keadaan saya ketika mengabdi di Maninjau, masih sangat jauh dari prasyarat barusan. Niat saya mungkin baik dan tulus, tetapi kemampuan saya belum cukup untuk merancang perubahan yang mampu hidup melampaui kehadiran saya sendiri.

Tempo hari, ketika mengikuti agenda Youth Action Forum (YAF) di Bali, saya turut merenungkan perihal ini. Banyak gagasan baik kandas bukan karena niatannya keliru, melainkan karena ia dijalankan dalam ekosistem yang belum siap menumbuhkannya. Ide-ide perubahan, untuk bisa bermekar menghasilkan dampak berkelanjutan, tidak cukup hanya sekedar digerakkan oleh individu-individu baik semata, tetapi tetap membutuhkan sistem yang mampu menopang, merawat, dan mereplikasi kebaikan tersebut. Inilah yang kemudian saya pahami sebagai kesadaran sistem.

Persoalan sosial yang seringkali menjadi pemantik lahirnya inovasi, selalu berkelindan erat dengan kebijakan pemerintah, struktur ekonomi masyarakat, pola pendidikan, hingga budaya yang telah mengendap.

Apa yang saya lakukan di Maninjau, dengan berusaha menghadirkan proses pembelajaran yang menyenangkan dan berbasis pemahaman, mungkin memang membantu menyelesaikan satu-dua persoalan di permukaan. Namun boleh jadi, itu hanyalah pucuk dari sebuah gunung es (iceberg). Bisa digunakan untuk menjawab tantangan di depan mata, tetapi tentu belum cukup menyentuh akar permasalahan sesungguhnya (root cause).

Oleh karena itu, ada kalanya kita memang perlu berhenti sejenak. Menarik napas, lalu bertanya lebih dalam: sistem apa yang membuat masalah ini terus berulang? Bagian mana yang sesungguhnya perlu diperbaiki agar inovasi perubahan dapat bertahan bahkan ketika kita tidak lagi hadir di sana?

Inovasi tidak pernah berdiri di ruang hampa. Ia selalu bergantung pada konteks sosial dimana ia dilahirkan. Inovasi adalah tentang bagaimana sebuah gagasan perubahan ditempatkan di dalam sistem yang tepat. Banyak upaya perubahan gagal bukan karena inovasinya lemah, tetapi karena sistem di sekitarnya belum memberi ruang untuk inovasi itu hidup, —mulai dari keterbatasan kebijakan pendukung, kurang kuatnya kapasitas sumber daya manusia, hingga minimnya mekanisme pembiayaan yang berkelanjutan. Tanpa dukungan itu semua, inovasi bak seperti eksperimen sesaat: menarik di awal, namun perlahan layu sebelum sempat menghasilkan dampak yang bertahan lama.

Di sisi lain, penting juga untuk dicatat bahwa tidak selamanya inovasi-inovasi yang berfokus pada solusi di permukaan itu keliru dan sia-sia. Banyak juga inisiatif di level ini yang justru berhasil membuka mata publik dan menggerakkan kesadaran awal. Aksi-aksi seperti yang dilakukan Pandawara, misalnya, sangat efektif membangun awareness masyarakat terhadap isu lingkungan dan perilaku membuang sampah.

Theory U Iceberg

Soucer: Youtube Suara Hati Bangsa

Namun jika dilihat melalui kerangka iceberg dalam Theory U, kerja-kerja semacam ini umumnya masih berada di level kejadian dan pola perilaku yang tampak di permukaan. Ia penting sebagai pemantik, tetapi belum cukup untuk menyentuh lapisan yang lebih dalam—mental model, kebijakan, dan sistem yang membuat persoalan serupa terus berulang dari waktu ke waktu. Di titik inilah, kerja di balik layar untuk memperbaiki sistem menjadi krusial agar perubahan tidak berhenti sebagai respons sesaat.

Oleh karena itu, alih-alih saling menegasikan peran, mari kita sekarang saling berbagi posisi. Seperti halnya ikhtiar kita bersama dalam membangun dan memajukan dunia pesantren. Ada yang setia menjaga nyala dari dalam pesantren, —memastikan nilai, adab, dan pengetahuan terus hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Ada pula yang, pada fase tertentu, belajar melengkapi pandangan dari luar, —memahami cara kerja kebijakan, pengelolaan sumber daya, hingga dinamika kolaborasi lintas kepentingan.

Di satu titik kita pasti akan bertemu dan saling membutuhkan.  Berkolaborasi menuju apa yang menjadi impian kita semua: membangun dan memajukan pesantren supaya bisa bersama-sama menghadirkan inovasi yang mampu bertahan, berakar, dan menciptakan dampak berkelanjutan bagi masyarakat Indonesia.

———————–

Cipete,
22 Desember 2025 – 00.14
Menutup Lembaran 2025

]]>
https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-mengapa-niat-baik-sering-gagal-bertahan/feed/ 0
Chief’s Note: Gigitan Semut, Luka Kecil, dan Broken Window Theory https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-gigitan-semut-luka-kecil-dan-broken-window-theory/ https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-gigitan-semut-luka-kecil-dan-broken-window-theory/#respond Mon, 22 Dec 2025 10:30:25 +0000 https://chairulsinaga.me/?p=1303 Belakangan ini, di rumah saya sedang banyak-banyaknya semut yang berkeliaran. Makanan yang ada di atas meja, bila tak lekas diamankan di kulkas, bisa dipastikan akan dikerubungi semut dalam beberapa jam berikutnya. Itu masih belum seberapa. Terkadang rute lintasan mereka juga melewati baju-baju yang dicantol di dinding. Bila sudah demikian, siap-siap saja kulit tiba-tiba gatal digigit semut ketika akan memakai baju-baju ‘bekas pakai namun sayang untuk dicuci’ tersebut.

Meskipun ukuran mungil semut membuat kita acapkali mengabaikannya, tetapi gigitan semut bukan sesuatu yang bisa dikesampingkan begitu saja. Rasa gatal yang muncul sesudahnya, timbul akibat asam format, suatu zat yang dikeluarkan semut saat menggigit dan menyebabkan iritasi pada kulit manusia. Memang betul gigitan tersebut tak menimbulkan luka yang dalam, tetapi jangan salah, dampaknya bisa mengakibatkan mood kita berantakan, membuat tidak nyaman aktivitas kita selama berjam-jam kemudian.

Kita tidak sadar, bahwa gigitan kecil yang terkesan sepele ini, bila dibiarkan tanpa perhatian, bisa menimbulkan gangguan yang jauh lebih besar.

Dalam konteks dinamika tim atau organisasi, situasi seperti ini juga biasa hadir di sekitar kita. Masalah-masalah kecil, -seperti komentar menyindir yang dilontarkan di grup komunikasi, sikap egois yang tidak segera dikoreksi, atau konflik ringan yang dianggap sekedar remeh-temeh-, seringkali diasumsikan sebagai sesuatu yang tidak patut mendapatkan perhatian lebih. Kita mungkin mengira, “Ah, ini kan cuma masalah kecil. Nanti juga paling reda sendirinya“.

Kita tak sadar, bahwa laiknya gigitan semut, bila masalah-masalah kecil seperti itu selalu diberi ruang toleransi, ia bisa bertumbuh menjadi bola salju yang terus membesar, menyimpan bom waktu yang bisa meledak kapanpun ketika menemukan momentum yang tepat. 

Bayangkan, jika ada salah satu anggota tim kita yang sering terlambat meeting dan tak pernah terlihat ditegur oleh leader di kantor. Lambat laun, ini akan menciptakan perasaan ketidakadilan dan ketidakdisiplinan yang menyebar ke anggota tim lainnya.

Ada sebuah teori yang bisa membantu menjelaskan fenomena ini dengan menarik. Namanya teori Broken Window Theory. Teori ini pertama kali diperkenalkan tahun 1982 oleh dua ilmuwan sosial Amerika, James Q. Wilson dan George Kelling.

Dalam penelitian mereka, Wilson dan Kelling menunjukkan bahwa sebuah jendela pecah yang dibiarkan begitu saja dalam gedung kosong akan mendorong perilaku-perilaku buruk lainnya seperti vandalisme, perusakan lebih lanjut, dan sebagainya. Jendela pecah yang tidak segera diperbaiki, memberi pesan bahwa gedung tersebut tidak terurus, sehingga orang-orang “semakin berani” untuk merusaknya lebih jauh. Hingga lambat laun, gedung tersebut berubah menjadi tempat yang dipenuhi berbagai tindakan kriminal.

broken-windows-theory

Image Source: fourweekmba.com

Teori ini pernah diterapkan di New York City pada masa pemerintahan walikota Rudy Giuliani (tahun 90an). Ketika itu, Giuliani menerapkan kebijakan “Zero Tolerance“, dengan fokus penindakan terhadap pelanggaran-pelanggaran kecil (seperti vandalisme dan pelanggaran lalu lintas), untuk menciptakan persepsi bahwa perilaku ketidaktertiban di masyarakat akan senantiasa diproses sesuai hukum yang berlaku.

Meski memang di kemudian hari menimbulkan pro-kontra perihal isu racial profiling dan penargetan tidak proporsional terhadap kelompok minoritas, tetapi kebijakan tersebut berhasil membuktikan satu hal: dengan tidak membiarkan pelanggaran kecil berlalu begitu saja, pelanggaran besar pun berhasil dicegah lebih lanjut sehingga tingkat kejahatan di New York City berkurang signifikan.

Sebagai seorang pemimpin, teori “broken window” dan ilustrasi gigitan semut di atas, seyogianya mengantarkan kita menuju refleksi mendalam tentang pentingnya menangani “jendela-jendela pecah” dalam tim semenjak dini. Kita harus peka melihat beragam masalah yang mungkin tampak kecil dari luar, tetapi berpotensi menimbulkan dampak besar di kemudian hari.

Coba perhatikan baik-baik anggota tim kita. Di organisasi kampus. Di komunitas. Di tempat kerja. Hal-hal seperti ketidakadilan perlakuan antar sesama anggota, perasaan tidak dihargai, atau sindiran-sindiran negatif yang terjadi di internal tim, bisa menjadi pemicu runtuhnya keharmonisan tim jika tidak segera ditangani dengan bijak.

Kita mungkin bersikap permisif kepada hal-hal demikian karena merasa sungkan untuk menegur anggota tim kita. Tidak enakan. Takut ribut dan memilih menghindari konfrontasi. Itu mungkin betul. Tetapi di sisi lain, kita seharusnya jua ingat, bahwa ketegasan terukur dari seorang pemimpin, -dengan segera bertindak memberikan feedback perbaikan, atau sekadar mengajak berbincang secara personal-, merupakan isyarat pertanda bahwa ia peduli terhadap pertumbuhan timnya.

Bukan berarti kita harus mengawasi setiap gerak-gerik anggota tim secara berlebihan, melainkan sebagai seorang pemimpin, kita musti memiliki sensitivitas terhadap dinamika hubungan antar anggota tim dan mengatasi masalah kecil sebelum tumbuh menjadi konflik besar. Saya haqqul yakin, pemimpin bijak tahu kapan ia harus diam, kapan harus bicara, kapan harus menegur, dan kapan harus memberi apresiasi secara terbuka.

Sebelum “jendela-jendela kecil” dalam tim kita pecah satu demi satu, mari segera bertindak. Jangan sampai bangunan kokoh yang selama ini kita perjuangkan runtuh hanya karena masalah kecil yang sengaja kita abaikan. Semut memang kecil, tapi rasa gatal akibat gigitannya bisa sangat mengganggu. Begitu juga masalah-masalah kecil dalam tim kita, -jika dibiarkan, bisa tumbuh menjadi persoalan besar yang mungkin terlalu sulit untuk kita selesaikan di kemudian hari.

Seperti negeri ini misalnya, eh.

—————————–

Cipete,
21 Desember 2025 – 22.10
Hal-Hal Yang Harus Dituliskan

]]>
https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-gigitan-semut-luka-kecil-dan-broken-window-theory/feed/ 0
Chief’s Note: Local Challenges Require Local-First Solutions https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-local-challenges-require-local-first-solutions/ https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-local-challenges-require-local-first-solutions/#respond Fri, 21 Nov 2025 19:29:54 +0000 https://chairulsinaga.me/?p=1190 Di Dampak Sosial Indonesia (DSI), kami percaya bahwa “local challenges require local-first solutions.” Setiap tantangan yang tumbuh dari tanah Indonesia, pada akhirnya membutuhkan solusi yang berakar dari potensi dan partisipasi anak negeri itu sendiri.

Keyakinan inilah yang membimbing perjalanan DSI selama beberapa kurun terakhir. Kami mencoba fokus pada penguatan jejaring lokal, bekerja bersama para penggerak komunitas, fasilitator daerah, serta masyarakat yang setiap hari berjuang dalam realitas sosialnya masing-masing. Salah satu program utama DSI, yaitu Community Hub hadir di berbagai daerah dengan semangat tersebut: ruang belajar, ruang bertumbuh, sekaligus ruang berinovasi yang dibentuk dari pemahaman mendalam terhadap konteks lokal.

Dan di tahun ini, perjalanan tersebut mendapatkan tambahan energi baru. Melalui NAMA Foundation, -sebuah lembaga filantropi internasional yang berfokus pada penguatan sektor pendidikan dan organisasi masyarakat sipil di berbagai belahan dunia-, DSI memperoleh kepercayaan untuk memperluas salah satu inisiatif strategis kami di Serasi Community Hub, Cipanas. Dukungan ini memungkinkan DSI untuk memperkuat program-program yang kita siapkan guna menjawab tantangan lokal yang terjadi di tengah masyarakat sekitar, mulai dari kesenjangan digital yang dialami para ibu rumah tangga hingga keterbatasan akses pelatihan vokasi bagi para pemuda putus sekolah.

Penyerahan Penghargaan BSF NAMA Foundation 2025

Di DSI, kami melihat masyarakat bukan sekadar hitungan penerima manfaat. Mereka hadir sebagai co-creators perubahan, -ikut merancang, menggerakkan, dan menjaga keberlanjutan inisiatif yang mereka bangun bersama. Melalui pengembangan ekosistem kreator berbasis komunitas dan ruang inkubasi keterampilan kerja, kami berupaya membuka peluang ekonomi baru yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan relevan dengan konteks lokal masyarakat Cipanas.

Perjalanan DSI masih panjang. Namun selama kita tetap bergandeng tangan dengan potensi lokal dan bergerak bersama komunitas, niscaya langkah kecil hari ini dapat berubah menjadi gerakan besar di masa depan. Terima kasih untuk NAMA Foundation atas dukungan dan kepercayaannya kepada DSI!

——————-

Kopte Tarik,
20 November 2025 – 10.42 WIB
Merawat Harapan, Membersamai Impian

]]>
https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-local-challenges-require-local-first-solutions/feed/ 0
Chief’s Note : Frieren dan Bagaimana Mimpi-Mimpi Kita Bekerja https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-frieren-dan-bagaimana-mimpi-mimpi-kita-bekerja/ https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-frieren-dan-bagaimana-mimpi-mimpi-kita-bekerja/#respond Sat, 21 Jun 2025 13:04:58 +0000 https://chairulsinaga.me/?p=1069 Tahun 2025 sudah hampir berjalan separuh usia kalender. Berapa dari kita yang masih merasa semangat dengan resolusi yang telah dibuat di awal tahun kemarin? Sebagian mungkin masih merasa antusias mengejar target-target yang perlu dituntaskan, namun tentu tak sedikit pula yang justru mulai hilang arah, terjebak dalam rutinitas yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

Setiap dari kita pasti punya impian. Punya cita-cita dan setumpuk harapan. Bahkan itulah yang membuat manusia menjadi manusia. Tetapi kenyataan lalu datang dan membenturkan kita dengan realita hidup yang kita hadapi saat ini. Di saat itulah, satu pertanyan penting hadir dan mengemuka, “Seluruh impian barusan, apakah kita benar-benar bisa membayangkan diri kita menggenggamnya suatu hari nanti? Apakah itu sesungguh ingin atau sekedar angan?”

Bicara soal imajinasi dan batasan, saya jadi teringat salah satu anime terbaik di tahun 2024 yang layak untuk kita bahas bersama. Berjudul Sousou no Frieren (Frieren the Slayer), anime ini berhasil menduduki peringkat pertama di MyAnimeList dengan lebih dari 650.000 voters dari seluruh dunia (ini bukan promosi btw, hehehe). Ceritanya berkutat  tentang karakter bernama Frieren, seorang penyihir elf berumur panjang, yang melakukan perjalanan keliling dunia guna memahami makna kehidupan setelah kematian sahabat-sahabat manusianya.

Nah, dalam anime Sousou no Frieren, ada satu konsep menarik yang ingin saya ceritakan di sini. Tentang sihir di dunia Frieren yang tidak bisa berfungsi jika user-nya tidak mampu membayangkan dirinya menggunakan sihir tersebut.

Salah satu contoh yang paling mencolok dalam anime ini adalah ketika Ritcher, seorang penyihir yang menguasai elemen tanah, dikalahkan secara instan oleh Kanne, seorang penyihir air, hanya karena hujan turun di tempat dimana mereka bertarung. Ritcher kalah bukan karena sihir tanah lebih lemah dari air (dia awalnya sangat mendominasi pertarungan sebelum turun hujan), melainkan karena dalam pikirannya sendiri, Ritcher tidak bisa membayangkan dirinya menang melawan penyihir air dalam kondisi hujan. Pada titik tersebut, ia sudah kalah bahkan sebelum pertarungan usai. Terhalang batas imajinasi dan keyakinan yang kemudian menumpulkan peluang kemenangannya.

Sekarang mari kita bawa konsep ini ke dalam kehidupan nyata. Berapa banyak dari kita yang bermimpi menjadi seorang yang hebat, tetapi bahkan tidak bisa membayangkan berada di posisi tersebut?

Kita bermimpi menjadi seorang presiden, tetapi apakah kita benar-benar bisa membayangkan diri kita berada di sebuah rapat kabinet, bersiap memutuskan kebijakan negara yang dengan satu tanda tangan pengesahan dari kita akan mempengaruhi hidup jutaan rakyat negeri? Kita ingin keliling dunia, tetapi pernahkah kita benar-benar membayangkan diri kita berdiri di tengah kota Buenos Aires, atau menikmati angin gersang di atas gurun Sahara? Jika kita tidak bisa membayangkan diri kita ada di sana, apakah mimpi itu benar-benar sesuatu yang kita yakini bisa terjadi, atau hanya sekadar angan kosong?

Imajinasi bukan hanya sekadar fantasi. Imajinasi adalah stimulus, sesuatu yang dapat merangsang jiwa untuk bergegas bangkit dan melakukan aksi nyata.

Dengan membayangkan diri kita berada di titik yang ingin kita capai, otak kita akan mulai memetakan kemungkinan-kemungkinan yang harus kita tempuh untuk sampai ke tujuan nan jauh di sana. Itu akan membantu kita membangun setumpuk kesadaran. Apa saja yang harus disiapkan? Apa saja yang harus mulai dipelajari? Siapa orang-orang yang harus kita temui sedari sekarang? Kebiasaaan apa yang harus mulai kita ikhtiarkan?

Jika bahkan kita sendiri tidak pernah bisa melihat diri kita berada di titik impian, bagaimana mungkin kita bisa mulai melangkahkan kaki untuk menuju ke arah garis akhir tersebut ya, kan? Ingat, siapapun yang sama sekali tidak tahu akan pergi kemana, ia tentu tidak akan pernah pergi kemana-mana. Untuk menggunakan kompas dan peralatan navigasi, kita harus tahu terlebih dahulu titik yang akan dituju.

Dan ajaibnya, ajaran Islam juga menguatkan kita pada gagasan tersebut. Dalam salah satu hadis qudsi, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman bahwa Dia bersama prasangka hamba-Nya. Jika kita tidak pernah menanamkan keyakinan bahwa kita mampu mencapai sesuatu, lalu bagaimana mungkin Allah akan mengabulkan doa-doa yang bahkan tidak kita yakini sendiri? Jika kita ragu pada diri kita sendiri, bukankah itu sama saja dengan ragu pada takdir yang bisa Allah tetapkan untuk kita?

Maka mungkin, kunci paling awal dari sebuah mimpi bukanlah rencana, bukan juga eksekusi. Tetapi ialah  membayangkan—melihat diri kita berdiri di nun jauh sana, sedang tersenyum meraih apapun bentuk mimpi-mimpi tersebut. Itulah keyakinan paling asasi. Prasangka paling dasar. Imajinasi yang membantu memperjelas segala rencana serta ikhtiar eksekusi, mendorong kita melewati segala halang rintangan.

Tahun 2025 sudah berjalan hampir separuh habis. Yakin masih mau begini-begini saja?

—————————-

Jagakarsa,
21 Juni 2025 – 02.44
Lintasan Lengkung Roket Angkasa

]]>
https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-frieren-dan-bagaimana-mimpi-mimpi-kita-bekerja/feed/ 0
Chief’s Note : Benjamin Franklin Effect https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-benjamin-franklin-effect/ https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-benjamin-franklin-effect/#respond Wed, 15 Jan 2025 13:07:48 +0000 https://chairulsinaga.me/?p=1074 Benjamin Franklin, salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Amerika Serikat, pernah menyadari sebuah hal unik dalam interaksinya bersama orang lain.

Dalam otobiografinya, Franklin menceritakan bahwa suatu ketika ia berusaha mendapatkan dukungan dari seseorang yang selama ini dikenal sebagai musuh politiknya. Alih-alih menawarkan bantuan atau imbalan besar, Franklin justru meminta tolong kepada pria tersebut untuk meminjamkannya sebuah buku langka dari koleksi yang ia miliki. Permintaan -yang bahkan menurut standar kita hari ini- terkesan sangat sepele dan sederhana.

Namun ajaibnya, setelah mengembalikan buku tersebut kepada sang pemilik dan mengucapkan terima kasih nan tulus melalui secarik surat, Franklin malah mendapati bahwa si musuh politik tersebut berubah menjadi seorang teman yang akrab. “Dia yang sebelumnya tak pernah berbicara dengan saya,” tulis Franklin, “justru menjadi seseorang yang dengan ramah menyapa saya, dan siap membantu saya di kesempatan selanjutnya.

Dari sinilah konsep Benjamin Franklin Effect bermula. Sebuah gagasan bahwa orang lain cenderung semakin menyukai kita setelah mereka melakukan kebaikan untuk kita. Terasa aneh, bukan? Karena biasanya, kitalah yang seharusnya makin menyukai seseorang karena mereka telah berbuat baik kepada kita. Bukan malah sebaliknya, ya kan?

Tetapi fenomena tersebut benar adanya, dan dunia psikologi punya penjelasan ilmiah untuk kita pelajari bersama.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 1969 oleh Jon Jecker dan David Landy, fenomena ini kembali divalidasi. Mereka mengamati bahwa partisipan yang diminta melakukan kebaikan sederhana justru kemudian mereka merasa lebih dekat dengan orang yang mereka bantu. Secara tak sadar, mereka mulai membangun alasan dalam diri mereka: “Kenapa ya saya melakukan kebaikan ini? Oh, boleh jadi karena saya memang menyukai orang itu.

Benjamin Effect ini juga bisa dipahami lebih luas melalui teori cognitive dissonance yang dicetuskan oleh Leon Festinger. Saat kita melakukan sesuatu yang bertentangan dengan keyakinan awal kita—seperti menolong orang yang mungkin tak kita sukai—pikiran kita cenderung mengatasi disonansi tersebut dengan cara merevisi perasaan kita tentang orang tersebut. Kita mulai meyakini bahwa kita sebenarnya menyukai mereka, karena itulah mengapa kita mau menolong mereka.

Nah, dalam konteks kepemimpinan, konsep ini bisa menjadi sebuah media berharga. Kita mungkin seringkali berpikir bahwa untuk menjadi pemimpin yang baik, kita harus menjelma bak sinterklas: sosok serba bisa yang dapat menyelesaikan seluruh masalah; seorang figur yang selalu hadir dengan membawa segudang solusi. Namun itu tidak tepat. Ada saatnya, justru dengan meminta bantuan, kita dapat membangun hubungan yang lebih erat dengan anggota tim. Ketika kita memberikan ruang bagi orang lain untuk membantu, mereka merasa lebih dihargai dan diakui kontribusinya. Ini yang kemudian akan menciptakan perasaan kepemilikan terhadap tanggung jawab keberhasilan tim nantinya.

Contoh sederhanya seperti ini. Bayangkan kita sedang meng-handle sebuah project di tempat kerja kita. Sebagai pemimpin, kita berusaha meminta masukan dari anggota tim lainnya dalam beberapa urusan yang discuss-able. Bukan hanya demi formalitas belaka, tetapi kita benar-benar bersungguh mengajak mereka untuk ikut urun memberikan solusi serta pemikiran terbaik demi kemajuan project. Maka apa yang terjadi dari skenario ini?

Anggota akan merasa lebih dihargai, lebih merasa lebih diikutsertakan. Setelah seluruh upaya yang mereka tuangkan untuk memikirkan masukan tersebut, kesediaan kita -sebagai pemimpin- untuk menerima dan bahkan mempertimbangkan masukan dari mereka, akan membuat anggota merasa bahwa kontribusi mereka diakui. Sehingga pada akhirnya mendorong mereka untuk lebih partisipatif ketika ada kesempatan-kesempatan berikutnya di masa mendatang.

Momen seperti di atas merupakan contoh Benjamin Franklin Effect dalam ihwal kepemimpinan. Alih-alih selalu tampil sebagai “pemimpin kuat” yang menyelesaikan semua masalah sendiri, kita justru bisa mengundang anggota tim untuk turut membantu dan urun bersuara. Dan ini bukan tanda kelemahan, melainkan sebuah strategi cerdas untuk membangun ikatan yang lebih dalam.

Tetapi perlu diingat juga, bahwa Benjamin Franklin Effect tidak boleh lantas dipahami sebagai alat manipulasi. Sebagai seorang pemimpin, kita perlu membangun garis batas etika yang jelas. Kita harus sepenuhnya menyadari, bahwa meminta kebaikan dari orang lain seharusnya didorong dari niatan tulus untuk menciptakan rasa kebersamaan dan kesatuan, bukan justru untuk mengeksploitasi kerentanan emosi mereka. Dalam kepemimpinan, kejujuran harus tetap menjadi pondasi utama.  Memanfaatkan efek ini sebagai sarana manipulatif justru akan merusak kepercayaan tim dan membuat hubungan menjadi tidak tulus.

Mari kita tidak ragu meminta bantuan kecil dari rekan-rekan kita. Siapa tahu, kebaikan sederhana semisal itu bisa menjadi awal dari hubungan yang lebih hangat dan penuh makna—bukan hanya dalam kepemimpinan, tapi dalam setiap aspek kehidupan kita. Siapa tahu, itu juga bisa menjadi kunci pemantik guna menciptakan kolaborasi yang lebih kuat serta bermanfaat ke depannya. Karena setelah dipikir-pikir, Benjamin Franklin Effect sejatinya adalah sesuatu yang lahir dari hakikat kemanusiaan itu sendiri : ketika satu kebaikan melahirkan kebaikan lainnya.

 

———————-

Perpustakaan Nasional,
15 Januari 2025 – 18.45 WIB
Mari Memikirkan Masa Depan

]]>
https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-benjamin-franklin-effect/feed/ 0
Chief’s Note: Leadership dan Tantangan Pendidikan Indonesia https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-leadership-dan-tantangan-pendidikan-indonesia/ https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-leadership-dan-tantangan-pendidikan-indonesia/#respond Tue, 20 Aug 2024 06:00:57 +0000 https://chairulsinaga.me/?p=1252 Beberapa waktu lalu, saya mengikuti pelatihan Pra-Lokakarya Kebijakan Pendidikan Indonesia yang diinisiasi oleh Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK) di Paragon Hall, Jakarta Selatan. Dalam kegiatan tersebut, saya hadir sebagai fasilitator program mewakili Maxima Impact Consulting bersama beberapa rekan kerja lainnya.

Salah satu sesi yang menurut saya menarik untuk dibagikan di sini adalah sesi pemaparan bersama Bapak Iwan Syahril, Direktur Jenderal Paud, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Kemendikbudristek. Beliau menyampaikan banyak sekali insight menarik seputar kondisi dunia pendidikan kita hari ini.

Saat ini pemerintah melihat bahwa permasalahan utama pendidikan di Indonesia bukan sekedar tentang pemerataan jumlah akses pendidikan saja. Karena bila hanya bicara tentang kuantitas akses pendidikan semata, selama beberapa tahun terakhir, angka partisipasi sekolah di Indonesia sudah menunjukkan persentase yang cukup tinggi (lihat gambar).

Tetapi skor tinggi tersebut belum diikuti pemerataan akses pendidikan yang BERKUALITAS dan BERKEADILAN untuk semua anak Indonesia. Masih banyak anak-anak yang secara “jasadiyah” mereka sudah mengikuti program pendidikan di sekolah, tetapi masih menunjukkan kompetensi minim dalam hal literasi dan numerasi.

Kalau kata Bu Itje Chodidjah, Ketua Dewan Pakar PSPK yang kemarin juga mengisi materi bersama Pak Iwan, “Schooling Yes! Learning No!“.

Untuk menyikapi problem di atas, salah satu strategi utama yang hendak diterapkan pemerintah adalah meningkatkan kualitas SDM tenaga pendidik dengan berfokus pada sosok-sosok pemimpin lokal (kepala sekolah, kepada dinas, dsb) sebagai agent of change. Sehingga diharapkan, dengan adanya peningkatan kualitas leader, para leader tersebut dapat meng-encourage tenaga pendidik lainnya untuk kemudian pada akhirnya meningkatkan kualitas proses pembelajaran bersama peserta didik nantinya.

Pak Iwan kemudian menceritakan success story yang sempat beliau temui di salah satu SMP di daerah Papua Barat. Pak Arby, kepala sekolah di instansi tersebut, berhasil mengubah sekolah yang dulunya dikenal sebagai sekolah buangan -tempat anak-anak mabuk dan nakal disekolahkan-, menjadi salah satu sekolah yang aktif menorehkan prestasi. Dan itu semua dimulai dari semangat Pak Arby dalam menginisiasi perubahan, dimulai dari mengubah paradigma berpikir para guru di sana. Kisah tentang Pak Arby bahkan sempat diliput beberapa media nasional. Salah satunya ialah berita di sini

Overall, saya merasa sangat senang dapat mengikuti sesi pelatihan tersebut. Selain menghadirkan beragam insight dalam dunia pendidikan, ini juga selaras dengan salah satu visi Maxima Impact Consulting yang ingin memfasilitasi transformasi pemimpin melalui inisiatif berdampak serta berkelanjutan.

Terima kasih atas sesi luar biasanya, dan semoga bermanfaat!

—————-

Jakarta Selatan,
15 Safar 1446 H – 14.00
Indonesia Kita Bersama.

]]>
https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-leadership-dan-tantangan-pendidikan-indonesia/feed/ 0
Chief’s Note: Tentang Blibli, Tentang SEO, dan Tentang Hidup yang Berkesinambungan https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-tentang-blibli-tentang-seo-dan-tentang-hidup-yang-berkesinambungan/ https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-tentang-blibli-tentang-seo-dan-tentang-hidup-yang-berkesinambungan/#respond Mon, 07 Nov 2022 10:15:01 +0000 https://chairulsinaga.me/?p=1298 Ada 2 hal yang selalu saya ingat dari masa-masa pembelajaran saya sebagai SEO Marketing Intern di Blibli.com. Keduanya berasal dari pemahaman fundamental seputar SEO yang berulang kali disampaikan oleh manajer kami, Mas Ryandy Dwian, di sela-sela sesi mentoring kami ketika itu.

Pertama, tidak ada ‘kebenaran mutlak’ di dunia SEO, karena SEO sendiri akan selalu mengikuti pembaharuan algoritma Google (mesin pencarian paling populer saat ini). Boleh jadi, apa yang kita terapkan di hari kemarin, akan berbeda sepenuhnya di hari esok karena adanya perubahan pada mekanisme dasar algoritma. Mudahnya, suka-suka Google lah ya. Heuheu…

Kedua, meskipun akan selalu ada pembaharuan dalam algoritma Google, namun logika dasar yang bekerja di baliknya akan selalu sama : selalu berkutat pada relevansi (seberapa relevan isi konten kita dengan kata kunci yang digunakan user) dan kenyamanan user (seberapa nyaman pengalaman yang didapatkan user ketika berkunjung ke konten kita).

Ketika dirasa semakin relevan dan menghadirkan kenyamanan, pembaca tentu akan lebih sering menghabiskan waktunya untuk berkutat dengan konten buatan kita. Dan pada akhirnya, Google akan memperhatikan itu dan perlahan mendorong naik konten kita di mesin pencarian.

2 hal tersebut yang saya masih ingat betul dari masa-masa pembelajaran saya sebagai SEO Marketing Intern di Blibli.com. Meski sekedar singkat 1 tahun semata, namun saya kira, kesempatan mentoring bersama Mas Ryandy tadi, merupakan satu dari sekian bagian terbaik yang sepatutnya saya syukuri. Sebab ada banyak perspektif mendasar perihal dunia SEO dan digital marketing yang bisa saya pelajari serta jadikan bekal untuk perjalanan saya berikutnya.

Chief's Note: Tentang Blibli, Tentang SEO, dan Tentang Hidup yang Berkesinambungan

Pertemuan dengan Mas Ryandy circa 2023

Dan ternyata betul, sekitar 2 bulan kemudian, beragam ‘bekal’ tersebut kiranya mulai saya pergunakan satu per satu. Heuheu…

Tak dinyana, tugas pertama yang saya dapatkan begitu masuk di kantor baru saya saat ini adalah melakukan sekelumit SEO Audit dan Competitor Analysis untuk salah satu klien utama perusahaan. Dan tentu saja, dalam perjalanan prosesnya, saya banyak menggunakan pendekatan perspektif SEO seperti yang saya tuliskan di bagian atas tulisan ini.

Menempatkan sudut pandang diri sebagai user, untuk kemudian mengukur tingkat relevansi dan kenyamanan yang bisa disajikan, sembari tetap memaklumi bahwa akan selalu ada ruang perubahan tempat kita dituntut untuk belajar perkembangan terbaru dunia SEO.

Sayangnya, saya belum bisa membagikan hasil perjalanan kerja tersebut di laman ini. Namun semoga, sedikit cerita di atas dapat membantu segenap sahabat yang turut berkutat di dunia SEO sekaligus menyemangati para rekan yang sedang berproses sebagai karyawan magang dimanapun berada.

Bahwa memang begitulah hidup. Saling berkesinambungan dan mengisi satu sama lain. Waktu dan temu boleh jadi sudah genap berlalu. Namun jejak sebuah kebaikan, selamanya akan terus silih berpendar dan saling menginspirasi.

————

InFrame : Salah satu potret saya ketika Work From Anywhere ketika masih menjadi Intern di Blibli. Kebetulan sedang berada dalam sebuah petualangan keliling Jawa bersama sahabat terdekat. Namun meskipun berjalan ria, kami semua tetap punya komitmen, bahwa perjalanan hanya boleh dilakukan dengan tetap tidak mengabaikan tugas di kantor, dan demi kemaslahatan bersama, baiknya dilaksanakan setelah jam kerja itu usai. Heuheu.

————–

Kuningan,
12 Rabiul Akhir 1444 H – 20.48
Penanda Jejak.

]]>
https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-tentang-blibli-tentang-seo-dan-tentang-hidup-yang-berkesinambungan/feed/ 0
Chief’s Note: Tentang Adil https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-tentang-adil/ https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-tentang-adil/#respond Tue, 06 Oct 2020 17:04:09 +0000 https://chairulsinaga.me/?p=1289 Perihal menjadi Ketum AkSES Lipia dan Koreg FoSSEI Jabodetabek di waktu bersamaan, yang terberat adalah ketika ada kepentingan yang saling bersinggungan. Misalnya Oprec Bapereg FJ baru-baru ini.

Dari AkSES Lipia, ada 10 orang yang mendaftar. Semuanya kader-kader terbaik yang saya miliki. Saya izinkan, ya karena saya ingin mereka bebas melanglang kemana pun. Saya ingin mereka berkembang dan berpijar terang benderang di masa mendatang.

Itu prinsip saya.

Saya tak akan melarang sesiapapun yang mau belajar serta bertumbuh lebih baik. Meski juga saya tetap turut mewanti-wanti agar mereka tidak serta merta meninggalkan AkSES Lipia begitu saja. Karena bagaimanapun, ya itu adalah rumah tempat mereka memulai langkah pertama mereka. Hehe..

Namun sebagai Koreg FoSSEI Jabodetabek, tentu tidak semua dari mereka dapat saya luluskan. Sehebat dan sebaik apapun mereka, tetap akan ada batasan jumlah tertentu yang dapat kami terima.

Ini tentang keadilan.
Ini tentang persebaran peta kekuatan.
Ini tentang mencegah kecemburuan.

Sebagai pemimpin, kita akan belajar bagaimana membangun keseimbangan dalam tim yang kita susun. Kompetensi personal masih menjadi pertimbangan utama, namun tidak dapat dipungkiri bahwa tetap akan ada faktor non-teknis di balik seluruh pertimbangan tersebut. Itu lumrah. Mencegah keburukan secara jangka panjang jauh lebih diutamakan daripada mengambil manfaat untuk jangka pendek.

Maka bersama dengan tulisan ini, turut tertitip pula permohonan maaf dari saya kepada seluruh sahabat AkSES Lipia yang belum dapat bergabung dalam kepengurusan FJ tahun ini.

Bukan karena saya benci atau tidak ingin Antum/Antunna maju lebih jauh, namun memang karena ada orang-orang yang lebih berbakat (spesialis) dari kampus lain, ditambah dengan adanya batas maksimal delegasi per KSEI yang dapat kami terima.

Semoga mafhum.
Semoga tetap berukhuwah.
Semoga Antum/Antunna dapat terus melangkah lebih jauh.

Pun bersama tulisan ini, saya mohon maklum dari seluruh sahabat-sahabat KSEI lainnya, bilamana sekiranya melihat kader AkSES Lipia lebih banyak kami terima dibanding dengan yang lainnya. Ini murni tentang kompetensi. Ini murni demi kebutuhan tim selama satu tahun ke depan. Bukan karena latar belakang saya yang berasal dari kampus yang sama.

9,5 jam kami berdiskusi bersama para BPH. Ada banyak adu argumen yang saling silang sengkarut selama prosesi tersebut. Namun di penghujung, kami tetap bersepakat dengan mufakat hasil musyawarah tersebut. Karena ya, bagaimanapun jua, ini semata tentang maslahat kita bersama di FoSSEI Jabodetabek.

Maka, teruntuk seluruh kader FoSSEI Jabodetabek dimanapun berada, semoga ini dapat mafhum, semoga ini dapat dimaklumi. Dan di penghujung, semoga kita tetap kompak berukhuwah bersama.

Saya, -dan kami di BPH tentunya-, hanya sedang berusaha untuk menjadi adil seadilnya. Meski itu berat. Meski itu bahkan membuat kami berdebat satu sama lain di meja forum. Meski tak semua orang akan sedia menyetujuinya begitu saja.

Jalan kepemimpinan adalah jalan yang penuh terjal. Itu resiko yang telah saya mafhumi semenjak jauh-jauh hari. Namun izinkan saya menyampaikan satu hal : tujuan kami, -percayalah- hanya semata untuk memberikan yang terbaik bagi kepengurusan satu tahun ke depan. Dan demi itu semua, integritas merupakan hal pertama yang harus kita junjung bersama.

Tentang menjadi adil, semua pemimpin memang harus bisa bersikap adil. Adil yang bahkan semenjak dari pikiran. Adil yang bahkan terhadap musuh-musuh kita sekalipun. Karena tanpa menjadi adil, bagaimana kita akan, eh, berani mempertanggungjawabkan amanah ini di hadapan-Nya kelak, ya kan?

—————-

Tanjung Barat,
24 Rabi’ul Akhir – 1.50
Menjadi Adil Adalah Keharusan.

]]>
https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-tentang-adil/feed/ 0
Chief’s Note: Dengan Memimpin, Apa yang Bisa Kita Lakukan? https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-dengan-memimpin-apa-yang-bisa-kita-lakukan/ https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-dengan-memimpin-apa-yang-bisa-kita-lakukan/#respond Mon, 05 Oct 2020 16:00:20 +0000 https://chairulsinaga.me/?p=1245 Oktober tahun lalu, dalam sebuah wawancara pendaftaran anggota FoSSEI Jabodetabek, saya mendapat pertanyaan yang unik namun begitu berkelas.

Bunyinya kurang lebih seperti ini, “Apa yang sudah kamu lakukan untuk membantu mengembangkan Ekonomi Syariah sampai saat ini?

Pertanyaan tersebut sangat wajar. Mengingat FoSSEI merupakan komunitas khusus yang bergerak di bidang Ekonomi Syariah, dan menanyakan kontribusi-kontribusi semisal itu, sudah barang tentu merupakan suatu keharusan, terlebih bila kita sedang menyeleksi calon-calon kepengurusan di tingkat regional itu sendiri.

Lalu bagaimana jawaban saya ketika itu?

Aha. Awalnya saya bingung. Sebagai orang awam di dunia Ekonomi Syariah, saya baru 1 tahun berkecimpung dalam komunitas khusus secamam FoSSEI maupun KSEI. Tapi saya ingat, 1 tahun tersebut adalah 1 tahun yang dipadatkan dalam sebentuk pengalaman sebagai seorang Kepala Divisi KSEI AkSES LIPIA. Itu artinya, saya tentu punya basis cukup solid untuk memberi jawaban yang diminta.

Maka, setelah sejenak mengerutkan dahi pertanda berpikir, saya pun berkata, “Ah, saya melarang anggota-anggota divisi saya untuk mengadakan rapat di restoran cepat saji yang jelas-jelas bermodalkan kapitalis asing, dan tidak memberikan keuntungan apapun bagi umat Islam itu sendiri. Memang belum terkesan hebat. Tapi sekurangnya, kami tidak sedang menjadi orang-orang yang menyerukan ekonomi syariah, namun untuk sekedar rapat membahas program-program tersebut, malah justru melakukannya di tempat berekonomi kapitalis. Itu, -visi-misi ekonomi syariah-, ya seharusnya kita mulai dari diri kita sendiri, ya kan? Ehe.

Saudara Pembaca,

Saya tidak tahu apakah itu merupakan jawaban yang tepat atau bukan. Tapi sekurangnya, itu mewakili keresahan saya terhadap kondisi FoSSEI dan KSEI tatkala itu. Ketika kita begitu gencar berkoar menyerukan masyarakat untuk kembali ke ekonomi syariah, namun duh, di satu sisi gaya hidup dan tongkrongan kita ternyata masih sering berkiblat ke tempat-tempat yang notabene bercorak kapitalis dan bermodal asing.

Saya tidak melarang. Sesekali bolehlah. Tapi akan lucu jadinya ketika rapat dan diskusi yang kita lakukan dalam rangka menyusun program-program ekonomi syariah, justru kita lakukan di tempat-tempat semisal itu.

Lalu dimana kalian rapat?” tanya tim yang mewawancarai saya ketika itu.

Ada banyak pilihan, bang. Selama ini kami sering memakai Perpusnas sebagai tempat berkumpul. Atau masjid. Atau terkadang saya juga mengusulkan di UMKM sekitar kampus, atau kafe-kafe yang sedang dirintis teman kuliah kami sendiri. Hehe…” jawab saya mantap.

Saudara Pembaca,

Satu bulan berikutnya, November 2019, ketika tetiba dicalonkan sebagai Ketua Umum KSEI AkSES LIPIA periode berikutnya, saya diminta untuk menyampaikan visi-misi yang akan diusung.

Karena saya tak pernah mengira akan maju sejauh itu, maka tentu saya belum sempat mempersiapkan apapun. Alih-alih presentasi power point, yang ada justru hanya saya yang berdiri di depan hadirin dengan bermodalkan contekan di secarik sobekan bekas kardus.

Tapi meski begitu, saya sungguh-sungguh ketika dengan lantang mengucapkan, “Saya tidak akan menjanjikan apapun kepada kalian. Tapi hal pertama yang akan saya lakukan begitu terpilih nanti adalah melarang rapat-rapat KSEI di mall atau di restoran cepat saji yang bermodalkan kapitalis. Insya Allah. Mari kita memulai gerakan ekonomi syariah ini dari diri kita sendiri terlebih dahulu.

Itu momentum yang selamanya bakal terus terngiang di benak saya. Dan ketika ternyata betulan terpilih berdasar suara forum, dekrit pertama yang saya sampaikan adalah ya itu tadi: silahkan rapat dan berdiskusi di mana saja, selain di mall dan di restoran cepat saji yang berbau kapitalis.

Saudara Pembaca,

Jika ditanya, “dengan memimpin, apa yang bisa kita lakukan?”, saya tentu akan menanggapi dengan cerita di atas. Hanya perlu satu maklumat, dan kita pun dapat melakukan perubahan nyata untuk menjawab segenap keresahan yang kita rasakan.

Dengan menjadi pemimpin, ada banyak kebermanfaatan yang dapat kita upayakan. Ada banyak kekurangan yang dapat kita benahi dan perbaiki bersama. Dalam rangka memberdayakan umat, memajukan bangsa serta negara, dengan visi-misi yang mencakup skala lebih besar.

Jadilah pemimpin! Untuk menjawab segenap keresahan diri kita sendiri, dan untuk melakukan perubahan terhadap seluruh permasalahan yang kita rasakan.

Namun ketika Saudara Pembaca menjadi pemimpin, maka jadilah pemimpin yang sedia untuk peduli. Tidak hanya baik dan berkompeten. Tidak hanya jujur dan amanah. Karena pemimpin yang peduli, niscaya dia akan sedia untuk mendengarkan keluh kesah orang-orang yang dipimpinnya. Sedia untuk dikritisi dan diberi masukan. Sedia membersamai dan membarengi segenap tim dalam setiap kondisi apapun.

Dan jadilah pemimpin yang peduli, agar dengan itu, kita dapat mendengar lebih jernih suara jerit rintihan orang-orang yang berada di sekitar kita. Agar fokus perubahan kita bukan sekedar rangkaian program kerja berbujet ratusan juta yang tak sedikitpun memberi jawaban untuk permasalahan-permasalahan masyarakat sekitar, namun lebih konkret, lebih mendasar dengan dimulai dari hal-hal yang paling sederhana. Karena perubahan, bagaimanapun jua, selalu dimulai dari tindakan terkecil dari kita sebagai manusia.

Saudara Pembaca,

Bersama setangkup tulisan hangat ini, saya wariskan kepada Anda sekalian, suar api semangat agar semoga Anda menjadi pemimpin-pemimpin terbaik negeri ini. Hingga turut memafhumi, bahwa memimpin bukan sekedar mengambil alih tampuk kursi jabatan yang dipergilirkan satu sama lain, namun juga turut mengambil beban kepercayaan dari orang-orang yang berada di bawah kita, untuk lebih bermanfaat, untuk terus berkontribusi hingga akhir masa amanah.

Memimpin adalah tentang Merubah Keadaan.
Selamat Jalan, Generasi Muda.

—————

Ibukota,
17 Safar 1442 H – 21.47
Jawaban Saya.

]]>
https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-dengan-memimpin-apa-yang-bisa-kita-lakukan/feed/ 0