Catatan Guru Rantau – Chairul Sinaga https://chairulsinaga.me A Note From The Chief Sun, 12 Jul 2026 06:10:21 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=7.0.1 https://chairulsinaga.me/wp-content/uploads/2026/07/cropped-DSC00360-scaled-1-32x32.webp Catatan Guru Rantau – Chairul Sinaga https://chairulsinaga.me 32 32 Catatan Guru Rantau #2: Mencari Kayu Bakar https://chairulsinaga.me/catatan-guru-rantau/catatan-guru-rantau-2-mencari-kayu-bakar/ https://chairulsinaga.me/catatan-guru-rantau/catatan-guru-rantau-2-mencari-kayu-bakar/#respond Sun, 13 Jun 2021 05:48:35 +0000 https://chairulsinaga.me/?p=1229 Di tanah rantau Oesao, mencari kayu bakar adalah sebuah keharusan demi keberlanjutan mengepulnya dapur rumah tangga. “Mengepul” di sini, ditulis dalam arti sesungguhnya, karena memang betul, masyarakat disini rerata masih menggunakan kayu kering sebagai bahan bakar perapian mereka.

Kami yang datang bermukim di Rumah Belajar (Rumbel) Oesao, selain berfokus pada akselerasi pendidikan, juga punya misi memperbaiki gizi anak-anak yang ikut belajar di Rumbel. Karena itulah, di samping mengajar materi , setiap harinya kami juga harus menyiapkan menu masakan bagi segenap peserta didik. Kebijakan ini yang kemudian ikut membawa (baca : menyeret) kami pada keharusan mencari kayu bakar di atas. Hahaha…

Sebagai ‘anak kota’ yang sudah agak lupa bagaimana caranya berkehidupan dengan nilai-nilai tradisional, pengalaman memilah dan memikul kayu bakar, lalu memasak makanan dengannya, tentu merupakan pengalaman yang cukup langka bagi seorang saya pribadi. Namun karena itulah, saya bisa mengosongkan gelas untuk kemudian belajar banyak hal baru dari pengalaman tersebut.

Memilah dan memilih kayu, bukan hanya tentang memotong atau membacok pohon. Kita perlu menyortir mana saja kayu yang kering dan mana yang tidak. Semakin kering, semakin baik.

Tapi bukan disitu bagian tersulitnya. Mengangkat dan memikul kayu dari hutan, merupakan tantangan terberat sesungguhnya, terutama bagi orang-orang yang jarang berolahraga seperti saya. Selain harus dipastikan beratnya sesuai dengan kapasitas kemampuan angkut kita, juga harus dipastikan agar bagian tajam dari ranting jangan sampai melukai bagian belakang tubuh kita. Variabel yang harus diperhatikan berikutnya adalah jarak tempuh dari hutan menuju rumah. Semakin jauh, tentu juga semakin melelahkan, bukan?

Catatan Guru Rantau #2: Mencari Kayu Bakar

Namun dari serangkaian proses di atas, saya jadi belajar kian menghormati orang-orang desa yang setiap hari melakukan hal semisal. Mereka orang-orang yang kuat, tangguh, dan tahan banting. Saya akui itu. Hehehe…

Dan tentang memasak dengan kayu bakar, konon kata orang di sini (dikonfirmasi juga oleh beberapa kawan lainnya), lebih lezat cita rasanya ketimbang menggunakan kompor minyak atau kompor gas. Entahlah. Saya tidak tahu kebenaran sesungguhnya. Karena bagi saya, semua makanan -baik dimasak di kayu bakar atau kompor- tetap sama enak untuk disantap, apalagi bila disajikan gratis tanpa perlu membayar sepeser pun. Hehehe…

Tentang memasak menggunakan kayu bakar, saya juga turut memahami beberapa suara masukan perihal keselamatan lingkungan. Penggundulan hutan, pencemaran udara, dsb.

Tapi sejauh dari yang saya amati di Oesao, hampir semua masyarakat di sini hanya mengambil kayu dari pohon-pohon yang sudah tumbang atau sudah hanyut terbawa sungai. Mereka tidak menebang pohon baru. Karena selain pepohonan tersebut merupakan aset kekayaan, bila dipikir lebih lanjut, menebang pohon sekedar untuk kayu bakar jelas merupakan tindakan yang sangat sia-sia. Lebih baik dijual untuk dipergunakan sebagai bahan mebel atau perabotan lainnya.

Apalagi pasca bencana topan Seroja beberapa bulan silam, ada begitu banyak sisa pohon dan bangunan kayu yang tumbang berserakan sejauh mata memandang. Itu semua tentu lebih layak untuk dijadikan bahan bakar tungku perapian, bukan?

Lalu berikutnya, daripada alih-alih memaksakan konversi kayu bakar ke tabung gas / minyak tanah, saya kira isu kesejahteraan masyarakat di sini lebih layak untuk kita perhatikan terlebih dahulu ketimbang itu semua.

Karena begini kawan, katakanlah dengan satu atau dua cara, kita dapat mengupayakan bantuan berupa kompor gas atau kompor minyak kepada seluruh warga sekitar. Namun sesudah itu, lantas bagaimana? Untuk bisa terus memakai kompor, mereka harus rutin mengalokasikan dana guna membeli tabung gas atau minyak tanah. Padahal, sekedar memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sudah terbilang sudah cukup sulit bagi mereka, apatah lagi dengan beban tambahan itu semua, bukan? Itu mengapa sebagian besar masyarakat di sini suka menggunakan kayu bakar, karena gratis..tis…tis. Hanya perlu mencari pergi di hutan, lalu memikulnya ke rumah.

Matahari sore di Desa Oesao

Bonus: Suasana matahari sore di Desa Oesao

Tentang mencari kayu bakar, saya menyimak begitu banyak lapisan kehidupan. Ini bukan sekedar pengalaman, namun juga perihal pembelajaran. Untuk kita yang semakin arif, untuk kita yang semakin bijak dalam memandang segala ihwal persoalan masyarakat.

Karena pada akhirnya, ya inilah #IndonesiaKita. Hehe.

—————

Kelurahan Oesao,
1 Dzulqoidah 1442 H – 10.50 WITA
Selamat Pergi

]]>
https://chairulsinaga.me/catatan-guru-rantau/catatan-guru-rantau-2-mencari-kayu-bakar/feed/ 0
Catatan Guru Rantau #2: Tentang Cita-Cita https://chairulsinaga.me/catatan-guru-rantau/catatan-guru-rantau-2-tentang-cita-cita/ https://chairulsinaga.me/catatan-guru-rantau/catatan-guru-rantau-2-tentang-cita-cita/#respond Sat, 08 May 2021 05:41:21 +0000 https://chairulsinaga.me/?p=1227 Ada yang menarik ketika kami bertanya kepada anak-anak di desa Oesao perihal cita-cita mereka tempo hari kemarin.

“Marden, kalau besar nanti mau jadi apa?”
“Egel, cita-cita kamu mau jadi apa?”
“Anggun, kalau besar cita-citanya jadi apa?
“Jeki, cita-citanya nanti mau jadi apa?”

….dan seterusnya.

Dan dari sekitar 20 jawaban yang kami dengar, hampir semuanya mengerucut pada beberapa profesi favorit : tentara, polisi, guru, dan petani.

Ini sesuatu yang menarik. Sebab, dari sekian ribu jenis pekerjaan yang ada di dunia, mengapa justru hanya 4 itu yang kerap dikemukakan oleh mereka? Saya mencoba merenung dan mencari jawabannya.

Asumsi pertama saya, jawaban tersebut mewakili seberapa luas dunia yang mereka lihat dari desa Oesao tempat mereka tumbuh besar.

Mengapa hanya 4 profesi? Karena 4 profesi itulah yang sehari-hari ada di sekeliling mereka; begitu dekat dan dapat langsung mereka rasakan keberadaannya.

Mereka tidak kenal astronout, data scientist, ahli kimia, konsultan, PNS, pelukis, sastrawan, aktor, karena ya sesederhana mereka tidak pernah menerima akses informasi tentang pekerjaan-pekerjaan tersebut.

Jika ini benar, maka sepatutnya kita perlu bersikap khawatir. Karena secara tidak langsung, ini juga menggambarkan sejauh apa imajinasi yang mereka miliki saat ini. Dan sejauh yang pernah saya temukan, anak-anak yang kekurangan imajinasi dan hasrat harapan, tidak akan pernah bisa melangkah terlalu jauh dari titik keberangkatan mereka.

Imajinasi hanya dapat bertumbuh subur seiring dengan semakin luasnya arus informasi yang diterima. Mereka tidak boleh sekedar dibiarkan melihat dunia dari sepetak sempit akuarium, namun mereka harus didorong untuk berani menyaksikan luasnya dunia dari dalam lautan samudera.

Catatan Guru Rantau #2: Tentang Cita-Cita

Asumsi kedua saya, jawaban tersebut juga memberikan pemahaman, bahwa jalan tersingkat untuk menaikkan strata sosial keluarga besar mereka adalah dengan melalui profesi-profesi tersebut.

Petani dan Guru, tanpa bermaksud merendahkan pihak manapun, mungkin memang cenderung terkesan biasa-biasa saja. Namun beda halnya dengan profesi Polisi dan Tentara. Keduanya memiliki jenjang karir yang jelas ke depan. Selama mereka tidak berulah, mereka tidak akan pernah dipecat atau diberhentikan. Dan di samping itu, kesejahteraan hidup mereka juga jelas terjamin bahkan hingga sesudah memasuki masa pensiun nantinya.

Dengan menjadi polisi dan tentara, setidaknya mereka dapat menggaransi kehidupan yang lebih baik untuk mereka serta keturunan mereka, menyokong kebutuhan jangka panjang keluarga besar, serta menjadi kebanggaan tersendiri di tengah masyarakat sekitar.

Bila asumsi ini benar, kita boleh bersyukur sekaligus merasa khawatir.

Bersyukur, karena di tengah minimnya minat orang tua di kota untuk mengirimkan anak-anak mereka ke pendidikan tentara dan polisi, masih ada begitu banyak generasi muda di penjuru Nusantara yang siap bersemangat menjadi kader unggulan terbaik di kedua profesi tersebut. Namun kita juga perlu merasa khawatir, karena secara tidak langsung, ini menggambarkan betapa timpangnya kehidupan sosial antara masyarakat di pusat peradaban dengan masyarakat di Oesao dan di pelosok Indonesia lainnya.

Saya tidak tahu, apakah asumsi-asumsi yang saya buat di atas merupakan jawaban yang tepat atau bukan. Boleh jadi keduanya ternyata sama-sama tidak tepat. Boleh jadi keduanya sama benar dalam hubungan sebab-akibat. Atau boleh jadi juga, perlu ada variabel-variabel lain yang harus kita perhatikan sebelum membuat asumsi ketiga, keempat, kelima yang lebih tepat dan lebih mengena.

Apapun itu, saya hanya berharap bahwa semoga cerita singkat ini dapat menggugah kesadaran Anda sekalian. Bahwa masih ada PR besar untuk menjawab permasalahan pendidikan di negeri kita, sebelum bisa sebenar-benar tuntas mewujudkan amanat yang tertuang dalam alinea keempat UUD 1945, “...untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa….

Tugas siapakah itu?
Ya tentu, tugas kita bersama, dong.

—————-

Kelurahan Oesao,
25 Ramadhan 1442 H – 14.19 WITA
Pendidikan Negeri Kita

]]>
https://chairulsinaga.me/catatan-guru-rantau/catatan-guru-rantau-2-tentang-cita-cita/feed/ 0
Catatan Guru Rantau #2: Selamat Datang di Kota Kupang! https://chairulsinaga.me/catatan-guru-rantau/catatan-guru-rantau-2-selamat-datang-di-kota-kupang/ https://chairulsinaga.me/catatan-guru-rantau/catatan-guru-rantau-2-selamat-datang-di-kota-kupang/#respond Wed, 05 May 2021 05:27:46 +0000 https://chairulsinaga.me/?p=1220 Waktu menunjukkan pukul 06.20 WITA ketika pesawat yang saya tumpangi mendarat dengan selamat di Bandara Internasional El Tari, Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Saya sekilas mengaktifkan kembali paket data, guna memberi kabar kepada keluarga terdekat yang menanti di rumah. Namun, setelah beberapa saat, baru saya sadari bila ternyata provider yang saya gunakan sebelumnya di Ibukota benar-benar nir-sinyal di bandara ini.

Untungnya, saya sudah menyiapkan backup nomer kartu baru dari Telkomsel. Berbekal wi-fi bandara, setidaknya saya bisa lekas membeli paket internet ala kadarnya untuk kegiatan komunikasi di hari pertama di Kupang.

Sekitar pukul 08.00 WITA, saya akhirnya dijemput dari bandara. Adalah Kak Ichi, salah seorang relawan lokal yang berbaik hati menyambut saya dengan mobil bak terbuka sewaan dari salah satu kenalannya.

Itu pengalaman yang spesial. Sungguh. Duduk di belakang bak, membuat kita lebih bebas mengamati dan menikmati keindahan kota Kupang. Rutinitas orang-orangnya. Hiruk pikuk jalanannya. Dan yang paling spesial, sepoi sejuk angin semilir yang terus memanjakan kita dalam buaian alami.

Ah, rasanya kita lupa sejenak tentang tujuan mengapa kita ada disini. Aroma petualangan. Aroma kebebasan. Aroma lautan. Semua menyatu bersama hembus udara yang bertiup begitu damai dari belakang mobil bak terbuka.

Catatan Guru Rantau #2: Selamat Datang di Kota Kupang!

Kak Ida, rekan sesama relawan lokal yang bergabung dengan kami di tengah perjalanan, hanya tersenyum ketika melihat semua itu, dan dengan tulus dia mengatakan kepada saya : “Selamat Datang di Kota Kupang! 2 kata kunci untuk kamu tentang kota ini : Panas dan hanya Telkomsel yang berjaya! Hahahaha…

Mendengar itu, saya hanya bisa tertawa terbahak-bahak. Karena memang ya, itu semua benar adanya. Hahaha.

Tentang cuaca yang panas, saya sendiri juga sudah turut merasakannya.

Di Desa Oesao, tempat kami bermukim menjalankan program selama beberapa waktu ke depan, terik mentari siang rasa-rasanya begitu dekat di kepala. Apalagi dengan kondisi yang sedang berpuasa Ramadhan, saya bahkan mengalami dehidrasi jelang penghujung petang. Dan ketika azan maghrib berkumandang, duh, berbuka dengan sekedar air putih saja rasa-rasanya tidak pernah senikmat yang saya rasakan tempo hari kemarin. Begitu segar, begitu menggelegak, begitu penuh syukur.

Juga di Desa Oesao, saya berjumpa pertama kali dengan anak-anak masyarakat yang akan menjadi target program kita di Nusa Tenggara Timur ini. Selama 6 pekan ke depan, insya allah, kita akan coba membersamai mereka untuk mengejar akselerasi pendidikan. Agar anak-anak yang belum merasakan akses pendidikan, dapat mengejar ketertinggalan dengan belajar kembali baca tulis hitung dan pelajaran-pelajaran mendasar sesuai jenjang kurikulum sekolah mereka yang seharusnya.

Pesan Ama Makadong, ketua RT setempat ketika kami sowan ke rumah beliau tadi malam, “Yang terpenting sebenarnya ini adalah tentang kepedulian, Mas. Setinggi apapun latar belakang pendidikan seseorang, kalau mereka enggak punya rasa peduli, ya percuma saja.

Saya mencatat baik-baik wejangan tersebut. Karena tentang kesan di hari pertama di pelosok negeri ini, saya sekedar meringkasnya dalam satu kalimat berikut, “Tidak seberat yang kita bayangkan, namun juga  tidak semudah yang pernah kita jalani di Maninjau dahulu.

Tantangannya berbeda. Budaya masyarakatnya juga berbeda. Maka dari itu, ujung perjalanan kita disini akan sepenuhnya bergantung pada kemampuan kita dalam beradaptasi di tengah semua perbedaan tersebut. Nah, bisakah?

Ah. Semoga.

—————-

Desa Oesao,
22 Ramadhan 1442 H – 08.15 WITA
Jurnal Kita Bersama

]]>
https://chairulsinaga.me/catatan-guru-rantau/catatan-guru-rantau-2-selamat-datang-di-kota-kupang/feed/ 0