Chairul Sinaga – Chairul Sinaga https://chairulsinaga.me A Note From The Chief Mon, 13 Jul 2026 19:53:54 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=7.0.2 https://chairulsinaga.me/wp-content/uploads/2026/07/cropped-DSC00360-scaled-1-32x32.webp Chairul Sinaga – Chairul Sinaga https://chairulsinaga.me 32 32 Program Penguatan Literasi Digital — Beasiswa Eramet Beyond https://chairulsinaga.me/activities/program-penguatan-literasi-digital-beasiswa-eramet-beyond/ https://chairulsinaga.me/activities/program-penguatan-literasi-digital-beasiswa-eramet-beyond/#respond Wed, 08 Jul 2026 12:54:52 +0000 https://chairulsinaga.me/?p=1111 Kecakapan digital hari ini telah menjelma menjadi bekal dasar untuk bisa belajar, bekerja, dan menjaga diri di ruang yang kian terhubung. Di tengah derasnya arus informasi, kemampuan untuk memilah, memahami, dan menciptakan secara bertanggung jawab menjadi semakin menentukan bagi siapa pun, di mana pun ia berada.

Selama tiga bulan terakhir, saya berkesempatan membersamai 41 mahasiswa penerima Beasiswa Eramet Beyond dalam Program Penguatan Literasi Digital. Mereka datang dari Maluku Utara, Papua, dan Sulawesi. Melalui Dampak Sosial Indonesia (DSI), kami dipercaya sebagai mitra pelaksana, bergandengan tangan dengan Kitong Bisa dalam merawat perjalanan belajar adik-adik dari Indonesia Timur ini. Program ini sendiri merupakan bagian dari Scholarship Management di DSI, sebuah layanan end-to-end pengelolaan beasiswa yang di dalamnya kami menghadirkan kurikulum pengembangan diri, mentoring, serta pembinaan berkelanjutan bagi para penerima manfaat.

Sejak awal, kami berusaha merancang pendekatan program yang berpijak pada landasan yang teruji. Kerangka kurikulumnya kami adaptasi dari MediaSmarts Digital Literacy Model, sebuah model yang dikembangkan oleh MediaSmarts, pusat literasi digital dan media terkemuka di Kanada. Kami memilih framework ini karena progresi belajarnya yang runtut: mengalir dari USE, UNDERSTAND, hingga CREATE. Model ini kami anggap dapat menuntun peserta dari sekadar bisa memakai perkakas digital, menuju memahami cara kerja ruang digital, hingga akhirnya mampu menjadi pencipta (baca: creator) yang bertanggung jawab di dalamnya.

Berpijak pada kerangka itu, kami merancang tujuh sesi pelatihan yang berjalan bertahap sepanjang April hingga Juni lalu. Para peserta belajar menata sistem digital pribadi (foldering), menimbang kredibilitas sebuah informasi sebelum memercayainya, menjaga keamanan akun dan privasinya dengan lebih sadar, hingga merancang gagasan sederhana berbasis teknologi untuk menjawab persoalan di sekitarnya. Setiap sesi juga kami lengkapi dengan Assignment of the Session, tugas praktik yang membantu peserta melatih langsung apa yang baru mereka pelajari pada konteks kehidupan nyata mereka. Perlahan, tujuan seluruh pembelaran ini mulai kelihatan:: dari sekadar pengguna teknologi, menuju pencipta yang bertanggung jawab, dan pada akhirnya calon penggerak dampak di lingkungannya masing-masing.

Kami percaya, bekal kecakapan digital yang mereka bawa hari ini bukanlah milik mereka seorang. Kelak, ia akan pulang ke tanah asalnya masing-masing, menjadi cahaya kecil yang menerangi lebih banyak orang di Timur sana.

Terima kasih untuk Kitong Bisa Foundation dan Eramet Indonesia atas kepercayaan dan kolaborasi yang begitu bermakna ini. Sebuah kehormatan bisa belajar dan bertumbuh bersama sahabat-sahabat hebat dari Timur Indonesia. 😊

#DampakSosialIndonesia #LiterasiDigital #ErametScholarship #IndonesiaTimur #SocialImpact

]]>
https://chairulsinaga.me/activities/program-penguatan-literasi-digital-beasiswa-eramet-beyond/feed/ 0
ImpactCorner by DSI: Claude AI for Productivity https://chairulsinaga.me/activities/impactcorner-by-dsi-claude-ai-for-productivity/ https://chairulsinaga.me/activities/impactcorner-by-dsi-claude-ai-for-productivity/#respond Fri, 03 Jul 2026 12:55:37 +0000 https://chairulsinaga.me/?p=1122 Jumat, 26 Juni 2026 kemarin, kami di Dampak Sosial Indonesia resmi membuka lembaran baru: #ImpactCorner. Sebuah program yang kami niatkan sebagai ruang temu untuk berbagi dampak dan kebermanfaatan bersama para sahabat DSI.

Untuk edisi perdana kemarin, kami memutuskan memilih tema yang menurut kami paling menyapa keresahan banyak orang belakangan: Claude AI for Productivity. Alasannya cukup mendasar. Kemajuan AI hari ini bergerak begitu cepat, dan mau tak mau kita semua sedang berdiri di persimpangan yang sama. Maka melalui sesi ini, kami ingin mendorong rekan-rekan peserta untuk belajar memanfaatkan Claude AI secara lebih optimal dalam kerja nyata sehari-hari.

Poster Claude for Productivity
Poster Claude for Productivity

Saya memulai sesi #ImpactCorner bukan dari cerita tentang fitur-fitur utama Claude-nya, melainkan dari pola pikir yang menggerakkan manusia di balik ruang kemudinya. Saya sampaikan sebuah analogi: AI itu ibarat anggota tim super pintar yang baru kita terima bekerja di kantor, tetapi belum kenal sama sekali dengan pekerjaan kita. Ia butuh diberi konteks, diberi contoh, lalu hasilnya kita tinjau kembali supaya sesuai dengan ekspektasi kita. Setelah memahami pola pikir tersebut, baru kami lanjut membahas cara memilah tugas mana yang paling layak untuk mulai diotomasi. Tidak semua pekerjaan cocok diserahkan ke AI. Yang paling ideal biasanya tugas yang berulang, memakan banyak waktu dan tenaga, serta punya pola pengerjaan yang jelas.

Respons rekan-rekan peserta terhadap sesi tersebut ternyata jauh lebih hangat dari yang saya bayangkan. Menariknya lagi, di balik antusiasme itu tersingkap satu kenyataan: banyak di antara mereka yang sebenarnya sudah pernah mencoba AI, tetapi belum benar-benar mengoptimalkannya. Ketika saya membahas fitur Skills dan Project Files misalnya, tidak sedikit yang baru menyadari bahwa fitur-fitur semacam itu ternyata ada dan bisa sangat memudahkan pekerjaan mereka selama ini.

Survei penggunaan Claude for Productivity

Bagi saya, temuan kecil ini justru menjadi cermin yang jujur. Bahwa persoalan kita bersama hari ini bukanlah soal seberapa canggih tools yang tersedia, tetapi lebih pada seberapa jauh kita mau mengenali dan mengoptimalkan kemajuan teknologi yang ada di hadapan kita.

Bukan AI yang akan menggantikan peran kita. Justru manusia-manusia lain, yang lebih dulu mau beradaptasi dan mengoptimalkan kemajuan AI, yang perlahan bisa menggeser posisi kita. Maka mari terus belajar beradaptasi, sembari menjaga agar setiap kemajuan yang kita raih tetap bermuara pada kebaikan.

Terima kasih sudah hadir pekan lalu, Teman Diskusi.
Nantikan #ImpactCorner berikutnya dari DSI! 😊

]]>
https://chairulsinaga.me/activities/impactcorner-by-dsi-claude-ai-for-productivity/feed/ 0
Gyeongbokgung: Istana dan Aksara yang Menolak Dilupakan https://chairulsinaga.me/itinerarium/gyeongbokgung-istana-dan-aksara-yang-menolak-dilupakan/ https://chairulsinaga.me/itinerarium/gyeongbokgung-istana-dan-aksara-yang-menolak-dilupakan/#respond Thu, 11 Jun 2026 18:11:17 +0000 https://chairulsinaga.me/?p=1155 “Where do you come from?”
“Aaahh, Indonesia. Good country. Good country…”
“Sini, sini, kamu pilih dulu…nanti saya bantu pasangkan…”

Dengan bahasa Indonesia terbata-bata — yang sampai akhir pun saya masih penasaran setengah mati dari mana ia mempelajari kosakata “ajaib” tersebut — laki-laki muda yang menjadi pemilik tempat kami menyewa hanbok pagi itu menyapa kami dengan ramah, lalu memandu kami memilih di antara koleksi yang berjajar rapi di etalasenya.

Untuk pria, terdapat 3 macam tema hanbok yang tersedia: king, prince, dan warrior. Saya memilih setelan prince berwarna biru dongker (sayang sekali tidak ada pilihan hitam ala grim reaper, *ups hahaha). Sedangkan istri saya memilih hanbok putri berwarna pink muda. Memang tidak terlalu kompak secara warna, tetapi bagian terpentingnya adalah tentang kebersamaan dan kenyamanan, bukan? Hehehe…

Staf toko membantu kami mengenakan hanbok dengan berbagai pernak-pernik aksesoris pelengkapnya. Setelah itu, kami melangkah mantap menuju tujuan utama hari itu: Gyeongbokgung Palace. Bersama para wisatawan lain yang juga baru keluar dari toko-toko penyewaan di sepanjang jalan, rasanya kami seperti serombongan penduduk Joseon zaman dahulu yang terlempar ke abad modern, melintas kikuk di antara keramaian lalu lintas kota Seoul.

Tapi tak mengapa. Ada banyak alasan untuk menggunakan hanbok di hari pertama kami di negara ini. Selain karena busana ini merupakan ciri khas ketika berkunjung ke Korea Selatan, alasan utama lainnya adalah untuk mendapatkan akses masuk gratis ke Gyeongbokgung.

GRATIS, itu benar. Untuk mengakses kompleks istana, tersedia 2 jalur masuk bagi para pengunjung. Pertama, jalur reguler dengan tarif sekitar 3.000 won. Kedua, jalur khusus yang gratis bagi siapapun yang mengenakan hanbok. Sebuah strategi yang cerdas, saya pikir. Kebijakan ini, selain untuk mengapresiasi dan melestarikan budaya negeri ini dengan penuh keanggunan, juga menjadi daya tarik wisatawan agar bisa merasakan langsung atmosfer sejarah di istana terbesar di Seoul ini.

Kami tiba sekitar pukul 10 pagi, bertepatan ketika upacara pergantian penjaga gerbang kerajaan (Sumunjang Gyodae Uisik) sedang berlangsung. Para penjaga berseragam Joseon berbaris dalam formasi yang presisi diiringi tabuh genderang tradisional. Wajah-wajah mereka serius meski di bawah terik matahari musim panas. Seakan ingin mengutarakan bahwa seluruh rangkaian tradisi ini merupakan warisan turun-temurun yang harus dijaga dengan sehormat mungkin. Untuk sesaat, tangan saya berhenti mengabadikan momen, berdiri takzim memandangi kemegahan latar suasana di sekitar.

Tentang Gyeongbokgung, syahdan, kompleks istana ini lahir dari ambisi sebuah peradaban yang baru saja menemukan dirinya. Tahun 1395, Raja Taejo membangunnya sebagai pusat ibukota Dinasti Joseon yang baru saja berdiri. Dari tembok-tembok yang sama inilah, beberapa dekade kemudian, Raja Sejong yang Agung — dua generasi setelah Raja Taejo — merumuskan sesuatu yang akan menjadi salah satu warisan paling abadi dari Korea: Aksara Hangul.

Source Image: seoulina.com

Sebelum adanya Hangul, bangsa Korea menulis dengan Hanja, aksara Cina nan rumit yang butuh bertahun-tahun untuk dipelajari. Praktis aksara ini hanya bisa dikuasai oleh kaum bangsawan yang ketika itu memang memiliki akses pendidikan lebih tinggi. Padahal Hanja sendiri sejatinya adalah aksara untuk bahasa Cina, bukan untuk bahasa Korea. Bunyi-bunyi yang sehari-hari hidup di lidah orang Korea, sering kali tidak bisa direpresentasikan dengan tepat oleh karakter Cina.

Maka di tahun 1443, Raja Sejong mengumpulkan para sarjana terbaiknya untuk merumuskan aksara baru. Mereka mempelajari anatomi mulut: bagaimana mulut bekerja saat mengucapkan bunyi, bagaimana lidah menempel ke langit-langit, bagaimana bibir membentuk huruf, dan bagaimana udara mengalir dari kerongkongan. Dari pendekatan tersebut, lahirlah sebuah sistem yang terdiri dari 28 huruf yang sederhana dan metodis. Dirancang khusus agar siapa saja, baik itu petani, pedagang, perempuan, maupun anak-anak, dapat membacanya dalam hitungan hari, bukan tahun.

Itu, sekitar enam ratus tahun yang lalu. Hari ini, di setiap sudut Seoul yang kami telusuri, aksara Hangul masih hidup dengan penuh semarak. Di papan toko, di nota belanja, di kemasan camilan yang istri saya beli. Aksara yang sama, yang dulu dirumuskan dari bilik-bilik istana Gyeongbokgung ini, sekarang telah menjadi bagian identitas yang mengikat satu bangsa. Menggenapi sejarah panjang di belakang, seakan ia adalah sebentuk deklarasi tegas: bahwa rakyat juga punya hak yang sama untuk membaca, untuk menulis, untuk merekam suara mereka sendiri.

Tapi sejarah, sebagaimana yang kita semua tahu, tidak pernah berjalan lurus.

Tahun 1592, Perang Imjin pecah ketika Jepang menginvasi Semenanjung Korea. Istana Gyeongbokgung yang saya lihat hari ini terbakar habis. Selama hampir tiga abad lamanya, istana ini dibiarkan tergeletak dalam reruntuhan. Baru di tahun 1867, di bawah arahan Heungseon Daewongun, restorasi besar-besaran dilakukan. 330 bangunan dibangkitkan ulang dari nol.

Namun, setelah Jepang mencaplok Korea di tahun 1910, Gyeongbokgung kembali dibongkar secara sistematis. Lebih dari sembilan puluh persen bangunannya dirobohkan. Gedung Pemerintahan Kolonial didirikan tepat di depan singgasana raja-raja Joseon, sengaja memblokir pemandangan dari gerbang utama. Bahkan Maharani Permaisuri Myeongseong sendiri dibunuh di kamarnya pada pagi buta 8 Oktober 1895, lalu jasadnya dibakar di hutan pinus terdekat.

Perang memang kejam. Dan kekejaman tersebut tidak hanya berhenti pada kehancuran arsitektur semata, tetapi juga berusaha untuk menghapus identitas sebuah bangsa. Pada masa pendudukan yang sama, bahasa Korea dilarang diajarkan di sekolah-sekolah. Murid-murid diwajibkan berbicara bahasa Jepang dalam keseharian mereka. Nama-nama marga Korea pun diganti paksa dengan nama-nama Jepang.

Apakah itu semua berhasil? Nope.
Tidak ada yang bisa mengalahkan ingatan kolektif bangsa dengan ribuan tahun sejarah.

Hangul bertahan diam-diam, diajarkan di rumah-rumah, dilestarikan di komunitas-komunitas yang menolak melepaskan bahasa ibu mereka. Gyeongbokgung pun, meski sempat hanya tersisa segelintir bangunan, ingatan tentangnya tidak pernah benar-benar luntur dari kesadaran bangsa Korea.

Di tahun 1995, bertepatan dengan lima puluh tahun pembebasan Korea, Gedung Pemerintahan Kolonial yang ada di depan tadi akhirnya dibongkar. Restorasi kembali dimulai. Hari ini, ketika kami berjalan di pelataran Geunjeongjeon, singgasana yang menjadi jantung kompleks Gyeongbokgung itu kembali berdiri terbuka tanpa penghalang apapun.

Hyangwonji

Dari pelataran singgasana itu, sekitar 400 meter ke arah utara, saya dan istri menyempatkan diri berfoto bersama di tepi Hyangwonji, sebuah kolam kecil yang dahulu dirancang khusus untuk peristirahatan keluarga kerajaan. Di tengah kolam itu, berdiri tegak paviliun heksagonal mungil yang dijuluki Hyangwonjeong, yang dalam bahasa Korea berarti “Wanginya Menyebar Jauh.” Paviliun tersebut tetap berdiri tenang di tengah air, seakan tak pernah ada apa-apa selama ratusan tahun ke belakang.

Para penjajah boleh membakar atap-atap istana di negeri ini. Mereka boleh meruntuhkan tembok-tembok kokoh yang melingkari bagian luar bangunan ini. Mereka boleh melarang penggunaan aksara Hangul yang dilahirkan di istana ini. Tetapi ada satu hal yang tak bisa dihancurkan oleh api, palu, atau dekrit kolonial manapun: ingatan sebuah bangsa tentang siapa mereka sebenarnya.

Dan ingatan itu, sebagaimana wangi paviliun di tengah kolam Hyangwonji tadi, hanya menyebar diam-diam,
terlalu jauh untuk dibendung, terlalu hidup untuk dipadamkan.

—————

Lenteng Agung,
9 Juni 2026 – 19.28 WIB
Sejarah Dijaga oleh Mereka yang Ingat.

]]>
https://chairulsinaga.me/itinerarium/gyeongbokgung-istana-dan-aksara-yang-menolak-dilupakan/feed/ 0
Annyeonghaseyo: Tiba-Tiba Korea https://chairulsinaga.me/itinerarium/annyeonghaseyo-tiba-tiba-korea/ https://chairulsinaga.me/itinerarium/annyeonghaseyo-tiba-tiba-korea/#respond Mon, 08 Jun 2026 12:45:15 +0000 https://chairulsinaga.me/?p=1143 Suara pengumuman boarding bergema sekali lagi di langit-langit bandara, memanggil kami yang gegas menuju garbarata keberangkatan. Saya meringis tersenyum ke istri yang akan menjadi rekan perjalanan selama sepekan ke depan. Wajah saya terlihat tenang dan gembira, namun sejujurnya menyembunyikan banyak sekali kekhawatiran di kepala.

Pesawat memang tidak pernah menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi saya. Dulu, ketika pertama kali melangkahkan kaki ke luar negeri, saya masih ingat menulis seperti ini dalam tulisan pasca perjalanan saya: “Selagi mungkin, saya jelas akan memilih transportasi lain. Bis, kereta, kapal, mobil pribadi, atau bahkan sepeda motor. Prinsip konyol saya, semua kendaraan yang saya sebutkan di atas tadi masih menyediakan opsi darurat ketika terjadi hal-hal yang tidak diharapkan.” Bertahun kemudian, perasaan takut tersebut masih sama. Hanya saja, kini lebih lihai untuk disembunyikan dengan rapi.

Pagi itu wajar jika saya menabung banyak ketakutan. Penerbangan kali ini akan memakan waktu hingga 5 jam untuk tiba di bandara transit — dua kali lebih lama dari durasi penerbangan terjauh saya selama ini. Ditambah lagi, kami akan pergi ke negara yang sepenuhnya asing. Negara yang bahkan tidak pernah masuk dalam rencana petualangan saya untuk beberapa tahun mendatang.

Jadi, mengapa tiba-tiba Korea Selatan?
Jawabannya sederhana saja. Karena kebetulan tiketnya sedang murah. Hahaha.

Semua bermula pada satu momen makan malam di kitaran daerah Cikini. Saya dan istri sedang membahas rencana libur panjang Idul Adha nanti, ketika mata saya menangkap harga tiket murah Jakarta–Seoul di salah satu aplikasi online. Istri saya seketika antusias. Korea Selatan selalu menjadi salah satu tujuan utama rencana studi S2-nya sedari dulu. Banyak rekan-rekan istri yang juga kebetulan berkuliah di sana.

Diskusi malam itu menjadi pemantik “kenekatan” yang kami lalui selama 2 pekan berikutnya. Sebagai gambaran: kami berangkat di tanggal 24 Mei. Tanggal 7 Mei, usulan Korea Selatan pertama kali menyembul ke permukaan — out of nowhere. Hahaha. Tanggal 9 Mei, kami nekat membeli tiket PP-nya terlebih dulu. Tanggal 11, baru berangkat mengurus visa, sembari banyak-banyak berdoa semoga tidak ada masalah dalam pengajuannya.

Syukurnya, meskipun cukup mepet, seluruh persiapan dan pengajuan visa tersebut berjalan lancar tanpa hambatan. Syukurnya juga, penerbangan kami berlangsung mulus tanpa terkendala suatu apapun. Kami transit di Fuzhou selama 2 jam, sebelum lanjut 3 jam perjalanan udara menuju tujuan akhir di Seoul.

Perjalanan adalah tentang bagaimana kita berani menghadapi ketakutan maupun ketidakpastian. Siapapun itu, selama ia punya keberanian untuk melangkah maju menantang suatu yang baru, ia berhak untuk merasakan serunya perjalanan.

Ketika duduk di ruang transit bandara, saya silih berganti melihat lalu lalang orang-orang yang mengenakan jenama ternama sebagai identitas visual mereka. Kacamata Chanel. Jam tangan Bvlgari. Tas Gucci. Koper Louis Vuitton. Tapi apakah perjalanan memang tentang semua ke-maha-mahalan tersebut?

Uang memang mampu membeli kenyamanan perjalanan. Tetapi perjalanan itu sendiri tidak pernah menjadi domain eksklusif hanya bagi mereka yang berdompet tebal.

Orang-orang terdahulu yang namanya kini abadi dalam literatur petualangan dunia, sejatinya bukanlah mereka yang berlimpah harta ataupun duduk di singgasana raja. Mereka berangkat justru karena cukup berani untuk melangkah pergi. Bertualang menjemput mimpi-mimpi di cakrawala dunia, dengan berbekal keberanian nekat yang dibungkus tawakal pada-Nya.

Siapa Ibnu Battuta ketika pertama kali ia melangkahkan kaki dari Tangier menuju Mekkah? Ia bukan seorang sultan, bukan pula seorang hartawan. Ia hanya seorang pemuda 21 tahun berbekal tekad dan rasa ingin tahu yang tak sanggup ia bendung. Lalu sepanjang 29 tahun berikutnya, ia menorehkan perjalanan yang bahkan mengalahkan jarak yang pernah ditempuh Marco Polo.

Atau tengok lebih dekat para pelaut Bugis-Makassar yang selama berabad-abad mengarungi lautan Nusantara. Jauh sebelum kapal James Cook menjejak Australia, mereka bahkan sudah lebih dulu menapaki pesisir utara benua itu. Bukan dengan kapal mewah nan megah, melainkan dengan segenap keberanian dan keteguhan yang tiada tanding di hadapan ombak samudera.

Perjalanan adalah hak semua orang! Kaya-miskin. Muda-tua. Jauh-dekat. Selama ia punya keberanian untuk merentas tabir keraguan dan memintas pekat ketakutan, ia berhak untuk melanglang ke tempat manapun yang hendak ia kunjungi.

Rasa takut itu nyata, Kawan. Sedari awal ia memang ada.
Tapi keberanian selalu sanggup melangkah satu jejak lebih jauh dari ketakutan. Selalu.

—————-

Tebet,
7 Juni 2026 – 20.50 WIB
Tulisan Pertama dari 12 yang Dijanjikan.

]]>
https://chairulsinaga.me/itinerarium/annyeonghaseyo-tiba-tiba-korea/feed/ 0
Itinerarium: Gunung Tangkuban Perahu https://chairulsinaga.me/itinerarium/gunung-tangkuban-perahu/ https://chairulsinaga.me/itinerarium/gunung-tangkuban-perahu/#respond Fri, 02 Jan 2026 19:17:38 +0000 https://chairulsinaga.me/?p=1081 Ada tempat-tempat yang begitu dekat, sampai kita lupa untuk benar-benar mendatanginya.

Gunung Tangkuban Perahu ini jaraknya hanya kitaran sekian jam dari Ibukota Jakarta. Tetapi baru di perjalanan singkat pada pertengahan tahun kemarin, saya akhirnya berkesempatan berhenti, menatap, dan hadir sepenuhnya di gunung legenda tersebut. Singgah di sela-sela kepulangan ke Bandung, bukan dengan rencana besar, hanya sekedar mencari ruang bernapas di tengah kepenatan kerja kala itu.

Kami tidak lama berhenti memandangi kawah di sana. Gerimis tipis turun perlahan, bau belerang semakin terasa, menandai sore yang berjalan tanpa tergesa. Anehnya, justru dalam waktu sesingkat itu, perjalanan ini terasa utuh. Tidak untuk mengejar apa pun, selain menikmati jeda dalam dalam alur kehidupan yang terus bergerak.

Mungkin, tidak semua perjalanan perlu jauh.
Sebagian hanya perlu diberi waktu.

Selamat datang 2026.

]]>
https://chairulsinaga.me/itinerarium/gunung-tangkuban-perahu/feed/ 0
Chief’s Note: Mengapa Niat Baik Sering Gagal Bertahan https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-mengapa-niat-baik-sering-gagal-bertahan/ https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-mengapa-niat-baik-sering-gagal-bertahan/#respond Mon, 22 Dec 2025 13:00:50 +0000 https://chairulsinaga.me/?p=1258 Saya pernah 3 tahun tinggal dan menjadi guru pengabdian di salah satu sekolah pesantren di pelosok Maninjau, Sumatera Barat. Kehidupan di sana cukup berat. Akses serba terbatas dikepung danau dan hutan lebat Pulau Andalas. Gajinya juga kecil, bahkan sering terlambat dibayarkan, sehingga cukup sulit menemukan tenaga SDM yang sedia mengajar di sana. Tetapi ketika itu, saya merasa sangat bahagia. Sebab mampu berdiri bangga di atas idealisme masa muda, hidup berkawan langsung makna tangguh dan ikhlas.

Bertahun kemudian, melalui serangkaian proses pendewasaan kehidupan, saya menyadari banyak hal baru. Idealisme tanpa kesiapan dan pengetahuan yang cukup bisa menjadi sebentuk keangkuhan terselubung.

Di satu titik ketika dulu tinggal di Maninjau, saya pernah menganggap diri saya sudah laik untuk disebut guru inovatif karena mampu menghadirkan berbagai jurus mengajar nan kreatif untuk para siswa di kelas. Saya sempat mengira diri saya sudah “cukup”, tak perlu berkuliah tinggi karena merasa telah mencapai kriteria guru nan ideal versi saya sendiri.

Belakangan saya menyadari bahwa asumsi itu keliru. Saya abai memahami bahwa kapasitas sesungguhnya diri saya belum mencapai level tersebut. Saya lupa hakikat guru terbaik justru adalah mereka yang tak berhenti belajar hal-hal baru. Itu betul. Boleh jadi saya adalah katak dalam tempurung ketika itu.

Pengalaman tersebut menjadi sumber energi saya untuk terus berbenah hingga hari ini. Saya masih belum menyerah dengan impian saya untuk memajukan dunia pesantren yang menjadi tempat saya bertumbuh dan menemukan makna hidup. Saya masih menyimpan cita melihat pesantren-pesantren di Indonesia menjadi mercusuar peradaban masyarakat madani, tempat nilai-nilai kebaikan dan pengetahuan ditempa bersama. Saya ingin suatu hari nanti kembali berkontribusi ke posisi tersebut. Tetapi sebelum itu, saya menyadari masih harus terus belajar dan mengumpulkan bekal perjalanan.

Inovasi tidak dapat lahir dari semangat semata. Ia memerlukan desain. Ia membutuhkan lingkungan yang mendukung serta akumulasi modal —pengetahuan, pengalaman, sumber daya finansial— yang memadai agar sebuah gagasan bisa bertahan dan tumbuh menemukan bentuk terbaiknya. Keadaan saya ketika mengabdi di Maninjau, masih sangat jauh dari prasyarat barusan. Niat saya mungkin baik dan tulus, tetapi kemampuan saya belum cukup untuk merancang perubahan yang mampu hidup melampaui kehadiran saya sendiri.

Tempo hari, ketika mengikuti agenda Youth Action Forum (YAF) di Bali, saya turut merenungkan perihal ini. Banyak gagasan baik kandas bukan karena niatannya keliru, melainkan karena ia dijalankan dalam ekosistem yang belum siap menumbuhkannya. Ide-ide perubahan, untuk bisa bermekar menghasilkan dampak berkelanjutan, tidak cukup hanya sekedar digerakkan oleh individu-individu baik semata, tetapi tetap membutuhkan sistem yang mampu menopang, merawat, dan mereplikasi kebaikan tersebut. Inilah yang kemudian saya pahami sebagai kesadaran sistem.

Persoalan sosial yang seringkali menjadi pemantik lahirnya inovasi, selalu berkelindan erat dengan kebijakan pemerintah, struktur ekonomi masyarakat, pola pendidikan, hingga budaya yang telah mengendap.

Apa yang saya lakukan di Maninjau, dengan berusaha menghadirkan proses pembelajaran yang menyenangkan dan berbasis pemahaman, mungkin memang membantu menyelesaikan satu-dua persoalan di permukaan. Namun boleh jadi, itu hanyalah pucuk dari sebuah gunung es (iceberg). Bisa digunakan untuk menjawab tantangan di depan mata, tetapi tentu belum cukup menyentuh akar permasalahan sesungguhnya (root cause).

Oleh karena itu, ada kalanya kita memang perlu berhenti sejenak. Menarik napas, lalu bertanya lebih dalam: sistem apa yang membuat masalah ini terus berulang? Bagian mana yang sesungguhnya perlu diperbaiki agar inovasi perubahan dapat bertahan bahkan ketika kita tidak lagi hadir di sana?

Inovasi tidak pernah berdiri di ruang hampa. Ia selalu bergantung pada konteks sosial dimana ia dilahirkan. Inovasi adalah tentang bagaimana sebuah gagasan perubahan ditempatkan di dalam sistem yang tepat. Banyak upaya perubahan gagal bukan karena inovasinya lemah, tetapi karena sistem di sekitarnya belum memberi ruang untuk inovasi itu hidup, —mulai dari keterbatasan kebijakan pendukung, kurang kuatnya kapasitas sumber daya manusia, hingga minimnya mekanisme pembiayaan yang berkelanjutan. Tanpa dukungan itu semua, inovasi bak seperti eksperimen sesaat: menarik di awal, namun perlahan layu sebelum sempat menghasilkan dampak yang bertahan lama.

Di sisi lain, penting juga untuk dicatat bahwa tidak selamanya inovasi-inovasi yang berfokus pada solusi di permukaan itu keliru dan sia-sia. Banyak juga inisiatif di level ini yang justru berhasil membuka mata publik dan menggerakkan kesadaran awal. Aksi-aksi seperti yang dilakukan Pandawara, misalnya, sangat efektif membangun awareness masyarakat terhadap isu lingkungan dan perilaku membuang sampah.

Theory U Iceberg

Soucer: Youtube Suara Hati Bangsa

Namun jika dilihat melalui kerangka iceberg dalam Theory U, kerja-kerja semacam ini umumnya masih berada di level kejadian dan pola perilaku yang tampak di permukaan. Ia penting sebagai pemantik, tetapi belum cukup untuk menyentuh lapisan yang lebih dalam—mental model, kebijakan, dan sistem yang membuat persoalan serupa terus berulang dari waktu ke waktu. Di titik inilah, kerja di balik layar untuk memperbaiki sistem menjadi krusial agar perubahan tidak berhenti sebagai respons sesaat.

Oleh karena itu, alih-alih saling menegasikan peran, mari kita sekarang saling berbagi posisi. Seperti halnya ikhtiar kita bersama dalam membangun dan memajukan dunia pesantren. Ada yang setia menjaga nyala dari dalam pesantren, —memastikan nilai, adab, dan pengetahuan terus hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Ada pula yang, pada fase tertentu, belajar melengkapi pandangan dari luar, —memahami cara kerja kebijakan, pengelolaan sumber daya, hingga dinamika kolaborasi lintas kepentingan.

Di satu titik kita pasti akan bertemu dan saling membutuhkan.  Berkolaborasi menuju apa yang menjadi impian kita semua: membangun dan memajukan pesantren supaya bisa bersama-sama menghadirkan inovasi yang mampu bertahan, berakar, dan menciptakan dampak berkelanjutan bagi masyarakat Indonesia.

———————–

Cipete,
22 Desember 2025 – 00.14
Menutup Lembaran 2025

]]>
https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-mengapa-niat-baik-sering-gagal-bertahan/feed/ 0
Chief’s Note: Local Challenges Require Local-First Solutions https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-local-challenges-require-local-first-solutions/ https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-local-challenges-require-local-first-solutions/#respond Fri, 21 Nov 2025 19:29:54 +0000 https://chairulsinaga.me/?p=1190 Di Dampak Sosial Indonesia (DSI), kami percaya bahwa “local challenges require local-first solutions.” Setiap tantangan yang tumbuh dari tanah Indonesia, pada akhirnya membutuhkan solusi yang berakar dari potensi dan partisipasi anak negeri itu sendiri.

Keyakinan inilah yang membimbing perjalanan DSI selama beberapa kurun terakhir. Kami mencoba fokus pada penguatan jejaring lokal, bekerja bersama para penggerak komunitas, fasilitator daerah, serta masyarakat yang setiap hari berjuang dalam realitas sosialnya masing-masing. Salah satu program utama DSI, yaitu Community Hub hadir di berbagai daerah dengan semangat tersebut: ruang belajar, ruang bertumbuh, sekaligus ruang berinovasi yang dibentuk dari pemahaman mendalam terhadap konteks lokal.

Dan di tahun ini, perjalanan tersebut mendapatkan tambahan energi baru. Melalui NAMA Foundation, -sebuah lembaga filantropi internasional yang berfokus pada penguatan sektor pendidikan dan organisasi masyarakat sipil di berbagai belahan dunia-, DSI memperoleh kepercayaan untuk memperluas salah satu inisiatif strategis kami di Serasi Community Hub, Cipanas. Dukungan ini memungkinkan DSI untuk memperkuat program-program yang kita siapkan guna menjawab tantangan lokal yang terjadi di tengah masyarakat sekitar, mulai dari kesenjangan digital yang dialami para ibu rumah tangga hingga keterbatasan akses pelatihan vokasi bagi para pemuda putus sekolah.

Penyerahan Penghargaan BSF NAMA Foundation 2025

Di DSI, kami melihat masyarakat bukan sekadar hitungan penerima manfaat. Mereka hadir sebagai co-creators perubahan, -ikut merancang, menggerakkan, dan menjaga keberlanjutan inisiatif yang mereka bangun bersama. Melalui pengembangan ekosistem kreator berbasis komunitas dan ruang inkubasi keterampilan kerja, kami berupaya membuka peluang ekonomi baru yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan relevan dengan konteks lokal masyarakat Cipanas.

Perjalanan DSI masih panjang. Namun selama kita tetap bergandeng tangan dengan potensi lokal dan bergerak bersama komunitas, niscaya langkah kecil hari ini dapat berubah menjadi gerakan besar di masa depan. Terima kasih untuk NAMA Foundation atas dukungan dan kepercayaannya kepada DSI!

——————-

Kopte Tarik,
20 November 2025 – 10.42 WIB
Merawat Harapan, Membersamai Impian

]]>
https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-local-challenges-require-local-first-solutions/feed/ 0
Belajar Bareng AI: Produktif dengan Integritas https://chairulsinaga.me/activities/belajar-bareng-ai-produktif-dengan-integritas/ https://chairulsinaga.me/activities/belajar-bareng-ai-produktif-dengan-integritas/#respond Tue, 12 Aug 2025 16:43:05 +0000 https://chairulsinaga.me/?p=1235 Ahad, 10 Agustus 2025 kemarin, saya berkesempatan mengisi sesi pembinaan BSI Scholarship Inspirasi bersama para mahasiswa penerima beasiswa dari beragam kampus di Indonesia. Pembinaan ini sendiri merupakan agenda rutin bulanan yang membahas berbagai topik pengembangan diri sesuai kurikulum program. Kebetulan, dalam pertemuan kemarin, saya diminta membawakan tema Belajar Bareng AI: Produktif dengan Integritas.

Kami memulai diskusi dengan membedah pro dan kontra penggunaan AI. Penelitian terbaru dari MIT menunjukkan potensi “metacognitive laziness“(malas berpikir) dan “cognitive debt (utang kognitif)” ketika seseorang terlalu bergantung pada AI, yang pada akhirnya dapat menurunkan kreativitas serta daya ingat. Namun di sisi lain, perkembangan AI sekarang kian menjadi standar baru di dunia kerja. Salah satunya terlihat dari internal memo Shopify yang sempat bocor beberapa waktu lalu (leaked), dimana CEO perusahaan tersebut menegaskan bahwa penguasaan AI kini merupakan keterampilan esensial bagi karyawan, dan wajib dimanfaatkan untuk mengatasi hambatan kerja sebelum beralih ke solusi rekrutmen SDM tambahan.

Belajar Bareng AI 2

Menurut saya, pilihan terbaik dalam pembahasan AI bukanlah menolak atau meninggalkannya sepenuhnya, melainkan memanfaatkannya secara bijak. AI seharusnya menjadi mitra yang mempercepat dan memperkaya proses, tanpa mengikis kemampuan berpikir kritis dan kreatif yang kita miliki sebagai manusia. Sikap ini yang saya dorong kepada para peserta kemarin.

Saya juga membagikan beberapa kiat menyusun prompt yang efektif. Prinsipnya sederhana: input yang berkualitas akan menghasilkan output yang berkualitas pula. Prompt yang jelas, spesifik, dan kontekstual membantu AI memberikan jawaban yang akurat dan relevan. Jika terbiasa menggunakan prompt dangkal, kita akan cenderung memilih jawaban yang mudah tanpa meninjau ulang, sehingga kehilangan kesempatan mengasah logika dan mempertajam hasil.

Tak kalah penting, kami membahas batasan dan etika Islam dalam menggunakan AI. Mulai dari niat yang lurus (menggunakannya untuk tujuan bermanfaat), menjaga amanah (melindungi privasi dan data), hingga menghargai ilmu dan kreativitas dengan menghindari plagiarisme. Nilai-nilai ini bukan hanya pedoman teknis, melainkan prinsip moral yang membentuk integritas kita di dunia digital.

Bagi saya, AI adalah cermin: ia akan memantulkan kualitas pikiran dan arah yang kita berikan. Berhenti memanfaatkannya bukanlah pilihan, namun menggunakannya tanpa kendali juga kian berisiko.

Belajar Bareng AI 4

Terima kasih untuk sesi diskusi hangatnya kemarin. Semoga setiap interaksi kita dengan AI bukan hanya menambah produktivitas, tetapi juga membentuk karakter dan visi yang akan membawa kita selangkah lebih dekat menuju mimpi-mimpi di nun jauh sana. Karena bagaimanapun juga, teknologi hanya akan sekuat niat, pengetahuan, dan tanggung jawab manusia yang menggunakannya. 😁

————–

Jagakarsa,
11 Agustus 2025 – 18.12 WIB
Perubahan Menuntut Adaptasi.

]]>
https://chairulsinaga.me/activities/belajar-bareng-ai-produktif-dengan-integritas/feed/ 0
Chief’s Note : Frieren dan Bagaimana Mimpi-Mimpi Kita Bekerja https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-frieren-dan-bagaimana-mimpi-mimpi-kita-bekerja/ https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-frieren-dan-bagaimana-mimpi-mimpi-kita-bekerja/#respond Sat, 21 Jun 2025 13:04:58 +0000 https://chairulsinaga.me/?p=1069 Tahun 2025 sudah hampir berjalan separuh usia kalender. Berapa dari kita yang masih merasa semangat dengan resolusi yang telah dibuat di awal tahun kemarin? Sebagian mungkin masih merasa antusias mengejar target-target yang perlu dituntaskan, namun tentu tak sedikit pula yang justru mulai hilang arah, terjebak dalam rutinitas yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

Setiap dari kita pasti punya impian. Punya cita-cita dan setumpuk harapan. Bahkan itulah yang membuat manusia menjadi manusia. Tetapi kenyataan lalu datang dan membenturkan kita dengan realita hidup yang kita hadapi saat ini. Di saat itulah, satu pertanyan penting hadir dan mengemuka, “Seluruh impian barusan, apakah kita benar-benar bisa membayangkan diri kita menggenggamnya suatu hari nanti? Apakah itu sesungguh ingin atau sekedar angan?”

Bicara soal imajinasi dan batasan, saya jadi teringat salah satu anime terbaik di tahun 2024 yang layak untuk kita bahas bersama. Berjudul Sousou no Frieren (Frieren the Slayer), anime ini berhasil menduduki peringkat pertama di MyAnimeList dengan lebih dari 650.000 voters dari seluruh dunia (ini bukan promosi btw, hehehe). Ceritanya berkutat  tentang karakter bernama Frieren, seorang penyihir elf berumur panjang, yang melakukan perjalanan keliling dunia guna memahami makna kehidupan setelah kematian sahabat-sahabat manusianya.

Nah, dalam anime Sousou no Frieren, ada satu konsep menarik yang ingin saya ceritakan di sini. Tentang sihir di dunia Frieren yang tidak bisa berfungsi jika user-nya tidak mampu membayangkan dirinya menggunakan sihir tersebut.

Salah satu contoh yang paling mencolok dalam anime ini adalah ketika Ritcher, seorang penyihir yang menguasai elemen tanah, dikalahkan secara instan oleh Kanne, seorang penyihir air, hanya karena hujan turun di tempat dimana mereka bertarung. Ritcher kalah bukan karena sihir tanah lebih lemah dari air (dia awalnya sangat mendominasi pertarungan sebelum turun hujan), melainkan karena dalam pikirannya sendiri, Ritcher tidak bisa membayangkan dirinya menang melawan penyihir air dalam kondisi hujan. Pada titik tersebut, ia sudah kalah bahkan sebelum pertarungan usai. Terhalang batas imajinasi dan keyakinan yang kemudian menumpulkan peluang kemenangannya.

Sekarang mari kita bawa konsep ini ke dalam kehidupan nyata. Berapa banyak dari kita yang bermimpi menjadi seorang yang hebat, tetapi bahkan tidak bisa membayangkan berada di posisi tersebut?

Kita bermimpi menjadi seorang presiden, tetapi apakah kita benar-benar bisa membayangkan diri kita berada di sebuah rapat kabinet, bersiap memutuskan kebijakan negara yang dengan satu tanda tangan pengesahan dari kita akan mempengaruhi hidup jutaan rakyat negeri? Kita ingin keliling dunia, tetapi pernahkah kita benar-benar membayangkan diri kita berdiri di tengah kota Buenos Aires, atau menikmati angin gersang di atas gurun Sahara? Jika kita tidak bisa membayangkan diri kita ada di sana, apakah mimpi itu benar-benar sesuatu yang kita yakini bisa terjadi, atau hanya sekadar angan kosong?

Imajinasi bukan hanya sekadar fantasi. Imajinasi adalah stimulus, sesuatu yang dapat merangsang jiwa untuk bergegas bangkit dan melakukan aksi nyata.

Dengan membayangkan diri kita berada di titik yang ingin kita capai, otak kita akan mulai memetakan kemungkinan-kemungkinan yang harus kita tempuh untuk sampai ke tujuan nan jauh di sana. Itu akan membantu kita membangun setumpuk kesadaran. Apa saja yang harus disiapkan? Apa saja yang harus mulai dipelajari? Siapa orang-orang yang harus kita temui sedari sekarang? Kebiasaaan apa yang harus mulai kita ikhtiarkan?

Jika bahkan kita sendiri tidak pernah bisa melihat diri kita berada di titik impian, bagaimana mungkin kita bisa mulai melangkahkan kaki untuk menuju ke arah garis akhir tersebut ya, kan? Ingat, siapapun yang sama sekali tidak tahu akan pergi kemana, ia tentu tidak akan pernah pergi kemana-mana. Untuk menggunakan kompas dan peralatan navigasi, kita harus tahu terlebih dahulu titik yang akan dituju.

Dan ajaibnya, ajaran Islam juga menguatkan kita pada gagasan tersebut. Dalam salah satu hadis qudsi, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman bahwa Dia bersama prasangka hamba-Nya. Jika kita tidak pernah menanamkan keyakinan bahwa kita mampu mencapai sesuatu, lalu bagaimana mungkin Allah akan mengabulkan doa-doa yang bahkan tidak kita yakini sendiri? Jika kita ragu pada diri kita sendiri, bukankah itu sama saja dengan ragu pada takdir yang bisa Allah tetapkan untuk kita?

Maka mungkin, kunci paling awal dari sebuah mimpi bukanlah rencana, bukan juga eksekusi. Tetapi ialah  membayangkan—melihat diri kita berdiri di nun jauh sana, sedang tersenyum meraih apapun bentuk mimpi-mimpi tersebut. Itulah keyakinan paling asasi. Prasangka paling dasar. Imajinasi yang membantu memperjelas segala rencana serta ikhtiar eksekusi, mendorong kita melewati segala halang rintangan.

Tahun 2025 sudah berjalan hampir separuh habis. Yakin masih mau begini-begini saja?

—————————-

Jagakarsa,
21 Juni 2025 – 02.44
Lintasan Lengkung Roket Angkasa

]]>
https://chairulsinaga.me/chiefs-note/chiefs-note-frieren-dan-bagaimana-mimpi-mimpi-kita-bekerja/feed/ 0
Pelatihan Life Mapping di SMP Karakter, Depok https://chairulsinaga.me/activities/pelatihan-life-mapping-di-smp-karakter-depok/ https://chairulsinaga.me/activities/pelatihan-life-mapping-di-smp-karakter-depok/#respond Sat, 25 Jan 2025 19:54:10 +0000 https://chairulsinaga.me/?p=1198 Senarai keseruan kegiatan kami ketika diundang dalam kegiatan “Superday” di SMP Karakter, Depok pada Rabu, 23 Januari 2025 kemarin.

Oleh Bapak & Ibu Guru panitia, saya diamanahi untuk menyampaikan materi Life Mapping kepada adik-adik kelas 8 SMP Karakter. Tujuannya agar siswa dapat merancang cita-cita yang ingin mereka raih di masa depan, -bukan hanya di masa periode SMA akan datang, namun juga hingga ketika mereka beranjak dewasa nantinya.

 

Karena itu, saya memilih untuk menggunakan materi River of Life (Sungai Kehidupan) yang dapat membantu siswa mengenali potensi dalam diri mereka melalui pengalaman yang mereka miliki di masa lampau, lalu menggunakan pengalaman tersebut sebagai panduan untuk merancang apa yang ingin dicapai di masa depan.

Sepanjang sesi, para peserta terlihat bersemangat menyusun river of life mereka. Mungkin karena aktivitas ini melibatkan sisi kreaktivitas para siswa, sehingga satu sama lain saling berlomba menghias, menggambar, dan berkreasi di atas coretan warna-warni kanvas mereka masing-masing. Bahkan di akhir sesi, beberapa siswa berani unjuk maju membagikan cerita serta makna di balik river of life yang mereka buat. Sangat keren sekali! 😁

Pelatihan Life Mapping di SMP Karakter, Depok

Menariknya, hasil aktivitas river of life ini akan dipresentasikan oleh setiap murid di hadapan orang tua masing-masing saat pembagian rapor akhir tahun nanti, agar orang tua pun dapat mengetahui lebih dalam perihal aspirasi anak-anaknya. Saya jadi bersyukur, karena river of life yang disusun oleh anak-anak kemarin sudah sangat luar biasa sekali, dan siapa orang tua yang tidak bangga ketika anaknya mampu menyusun seperti itu, bukan? Hehehe

Terima kasih kepada Bapak/Ibu Guru SMP Karakter yang telah berkenan mengundang saya dalam kegiatan “Superday” kemarin. Senang rasanya bisa membersamai siswa-siswi kelas 8 kemarin dalam merajut mimpi mereka satu per satu. Semoga bermanfaat dan menghadirkan inspirasi bagi perjalanan adik-adik ke depannya. Terima kasih! 😁

———–

Lenteng Agung,
24 Januari 2025 – 18.04
Masa Muda, Masa Penuh Mimpi

]]>
https://chairulsinaga.me/activities/pelatihan-life-mapping-di-smp-karakter-depok/feed/ 0